PENGIKISAN AKAR ZAITUN DI PALESTINA DAN URGENSI KEPEMIMPINAN UMAT
Oleh : A. Salsabila Sauma
Jelang panen buah zaitun pada bulan Oktober lalu, buldoser militer zionis Israel secara tiba-tiba meratakan sekitar 31 dunam (31 ribu meter persegi) lahan milik petani Palestina di kota Beit Rima, barat laut Ramallah, pekan lalu. Tindakan tersebut mengakibatkan lebih dari 400 pohon zaitun hancur hanya beberapa hari sebelum dimulainya panen tahunan. (cnnindonesia)
Padahal zaitun adalah tulang punggung pertanian Palestina. Menurut keterangan Kementrian Pertanian Otoritas, sektor ini menyumbang sekitar 8 persen dari PDB dan lebih dari 60.000 keluarga bergantung secara ekonomi terhadap pertanian zaitun. Di momen penyerangan tersebut, ada seorang jurnalis veteran Amerika Serikat yang juga menjadi korban, Heidi Levine. Dia tertembak oleh tentara Israel kemudian dpukuli sampai sekitar lima puluh kali.
Peristiwa tersebut mendapat kecaman dari para politisi Amerika Serikat, termasuk Menteri Luar Negeri dan Duta Besarnya yang berdiam di Israel. Mereka menuntut pihak Israel untuk mengivestigasi kejadian ini secara serius dan jelas. Namun entah kejelasan apa yang diharapkan Amerika kepada Israel
BENTUK PENGHAPUSAN IDENTITAS
Pohon zaitun merupakan simbol identitas lokal Palestina. Ia melambangkan hubungan yang mendalam dengan tanah leluhur dan warisan keluarga. Pohon-pohon tua zaitun menyimpan sejarah peradaban suatu keluarga sehingga menghilangkan sebatang pohonnya berarti menghilangkan catatan hidup warisan sebuah keluarga. Selain itu, zaitun merupakan sumber penghidupan rakyat Palestina. Menyerang kebun zaitun juga berarti mematikan roda ekonomi mereka dan itulah tujuan Israel.
Israel bertujuan untuk merusak kondisi ekonomi dan akar budaya rakyat Palestina. Kerusakan kebun zaitun yang berulang akan menyebabkan rakyat Palestinan kehilangan sumber pendapatan dan menambah beban pemulihan. Hal tersebut membuat mereka kesulitan untuk mempertahankan tanah yang telah dihuni turun-temurun. Dalam perkara ini, tekanan ekonomi akan terus memaksa mereka untuk pergi dari tanah Palestina.
Zaitun bukan hanya persoalan ekonomi namun juga kebudayaan. Penyerangan terhadap zaitun berpotensi menghilangkan kehidupan, martabat, hak atas penghidupan, dan keberlanjutan komunitas Palestina.
STANDAR GANDA GLOBAL
Kejadian penyerangan yang dilakukan oleh Israel tersebut mendapat kecaman dari Uni Eropa karena serangan mereka juga mengenai diplomat Eropa. EU mendesak adanya pertanggungjawaban dan langkah nyata untuk mencegah kekerasan berulang terhadap warga Palestina dan jurnalis. Pun Amerika Serikat mengecam hal yang sama. Menteri Luar Negeri dan Duta Besar Amerika mengecam serangan terhadap seorang jurnalis Amerika.
Namun kepedulian yang ditujukkan Uni Eropa dan Amerika Serikat hanya sebatas untuk warga negara mereka yang terluka saja. Mereka tidak benar-benar peduli terhadap apa yang terjadi di Palestina. Sorotan besar hanya ditujukkan untuk jurnalis dan politis mereka namun kekerasan yang didapat warga Palestina, dalam konteks ini para petani, tidak mendapat sorotan yang serupa.
Kencaman memang diperlukan untuk menunjukkan bentuk penolakan terhdapap kekerasan namun ini sudah kecaman kesekian kali yang dilakukan dan kecaman-kecaman tersebut belum pernah berhasil pada level tindakan apapun. Yang harus dipikirkan lebih lanjut ialah bagaimana cara supaya pernyataan lembaga Internasional bisa dijadikan kebijakan yang benar-benar mampu melindungi rakyat Palestina dari serangan keji yang berulang dari Israel?
PERAN UMAT
Palestina bukan sekadar wilayah geografis. Ia adalah pusat akidah karena terdapat Masjidil Aqsa di dalamnya. Sebuah tempat suci yang memiliki keterikatan sejarah dan akidah umat muslim. Hubungan inilah yang menjadi salah satu alasan kuat bagi umat untuk memberikan perhatian khusus kepada umat muslim di Palestina.
Bentuk kepedulian yang saat ini kita lakukan sudah benar namun belum cukup. Bantuan kemanusiaan, dukungan perlindungan warga sipil, upaya diplomatik, berbagi informasi yang benar, serta partisipasi dalam mendorong penghentian kekerasan dan penyaluran bantuan, semua ini belumlah cukup untuk menolong saudara di Palesina.
Umat Islam juga perlu melakukan evaluasi terhadap kebijakan lembaga Internasional dan para penguasa di negeri-negeri Muslim terhadap isu Palestina. Sebab sering kali kebijakan yang diturunkan untuk warga Palestina justru makin membahayakan kehidupan mereka. Upaya ini juga perlu agar suara tidak berhenti pada slogan saja.
Selain itu, yang lebih penting lagi, umat membutuhkan kepemimpinan yang mampu menyatukan kekuatan politik untuk membela masyarakat yang tertindas. Khilafah yang berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah merupakan bentuk kepemimpinan yang perlu diperjuangkan agar umat dapat menjalankan tanggung jawab politiknya secara terpadu.
Kepemimpinan yang berlandaskan nilai Islam (Khilafah) memiliki kemampuan untuk menjaga jiwa, harta, kehormatan, dan hak masyarakat. Khilafah akan memastikan setiap seruan politik mempertimbangkan tujuan kemanusiaan dan keadilan. Penindasan terhadap warga sipil akan ditangani dengan nyata karena Khilafah bergerak hanya berdasarkan syariat Islam, bukan negosiasi manfaat. Dengan berpegan pada nilai-nilai Islam, kesejahteraan umat akan terwujud.
Wallahu’alam bi showab

Posting Komentar