Ada Apa Dibalik Tawuran Antar Pelajar?
Oleh : Nyai Djudang (Ibu Rumah Tangga)
Ada apa dibalik tawuran antar pelajar? Pertanyaan ini kembali mencuat setelah rentetan kasus dalam dua minggu terakhir yang merenggut nyawa anak-anak SMP. Di Alam Sutera Tangerang dua pelajar meninggal karena panik dikejar kelompok bersenjata tajam. Di Ciracas Jakarta Timur seorang pelajar MTs berusia 15 tahun tewas dengan luka bacok di kepala. Di Semarang, Farel 16 tahun ditemukan tergeletak bersimbah darah di depan rumah sakit setelah tawuran yang dijanjikan lewat media sosial. Ini bukan sekadar kenakalan remaja. Ini adalah potret gagalnya sistem yang hari ini menaungi generasi kita.
Jika kita jujur melihat fakta, tawuran hari ini memiliki pola baru yang sangat mengkhawatirkan. Pertama, tawuran tidak lagi spontan karena emosi di lapangan. Ia direncanakan. Janjiannya lewat Instagram, TikTok, atau grup WhatsApp. Lokasi disepakati, jam disepakati, bahkan senjata disiapkan. Kedua, pelaku membawa senjata tajam yang mematikan. Celurit, golok, corbek, busur panah. Anak usia 13-16 tahun yang seharusnya membawa buku dan pena, kini membawa senjata yang dirancang untuk membunuh. Ketiga, motifnya bukan lagi membela sekolah, melainkan eksistensi di dunia maya. Tawuran direkam, diunggah, demi mendapatkan like, followers, dan pengakuan sebagai pemberani. Ini adalah penyakit yang lahir dari sistem sekuler kapitalistik.
Sistem hari ini telah mencabut tiga benteng utama penjaga anak. Benteng pertama adalah keluarga. Kapitalisme memaksa ayah dan ibu harus bekerja keras dari pagi sampai malam demi biaya hidup yang mahal. Anak pulang sekolah tidak menemukan orang tua di rumah. Kedekatan emosional hilang, diganti dengan gadget. Pengawasan hilang. Benteng kedua adalah sekolah. Sistem pendidikan sekuler hanya fokus pada nilai akademik dan ijazah untuk masuk dunia kerja. Pendidikan agama, akhlak, dan kepribadian Islam hanya menjadi tempelan dua jam pelajaran dalam seminggu. Guru tidak lagi menjadi murobbi yang membentuk jiwa, melainkan hanya transfer ilmu. Benteng ketiga adalah masyarakat dan negara. Masyarakat dibuat permisif dan individualis. Negara hanya hadir setelah kejadian dengan pendekatan represif, patroli, penangkapan, dan penjara. Negara tidak hadir mencegah, tidak membangun sistem yang menjaga.
Lalu bagaimana solusi tuntas dalam pandangan Daulah Khilafah? Khilafah bukan sekadar menambah jam pelajaran agama. Khilafah adalah sistem hidup yang akan mengembalikan tiga benteng penjaga itu secara menyeluruh.
Pertama, Khilafah akan menerapkan sistem pendidikan Islam. Tujuan pendidikan dalam Khilafah bukan mencetak pekerja, melainkan membentuk syakhsiyah Islamiyah, pribadi yang beriman, bertakwa, dan menguasai sains untuk kemaslahatan umat. Kurikulum akan berbasis aqidah Islam. Sejak dini anak diajarkan untuk apa ia hidup, bahwa ia adalah hamba Allah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap perbuatannya. Materi seperti hadits tentang haramnya menumpahkan darah seorang muslim tanpa hak, tentang ukhuwah, tentang qishash, akan menjadi pemahaman yang hidup, bukan hafalan. Dengan begitu, anak akan memiliki rem internal yang kuat. Ia tidak akan mudah membawa celurit untuk melukai saudaranya sendiri karena ia takut kepada Allah.
Kedua, Khilafah akan menerapkan sistem ekonomi Islam yang mensejahterakan. Negara menjamin kebutuhan pokok rakyat, pendidikan dan kesehatan gratis berkualitas, lapangan kerja luas bagi ayah. Ibu dimungkinkan untuk fokus sebagai ummu warobbatul bait, ibu dan pengatur rumah tangga, madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ketika keluarga sejahtera dan berfungsi, anak akan mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan kontrol yang cukup. Ia tidak perlu mencari jati diri di geng jalanan.
Ketiga, Khilafah akan menerapkan sistem pergaulan dan media yang bersih. Negara akan menutup rapat konten-konten yang mempromosikan kekerasan, hedonisme, dan kejahatan di media sosial. Media akan difungsikan untuk edukasi dan dakwah. Negara juga akan menghilangkan tontonan yang merusak seperti film gangster yang mengajarkan cara tawuran. Sebaliknya, masjid akan dihidupkan kembali sebagai pusat pembinaan remaja. Seperti dalam nash yang kita ajarkan, Al Masjid Qoribun min baiti, masjid dekat dari rumahku. Remaja akan disibukkan dengan kegiatan halaqah, olahraga yang disyariatkan seperti memanah, berkuda, berenang, dan kegiatan produktif lainnya.
Keempat, Khilafah akan menerapkan sistem sanksi yang tegas dan menjerakan. Islam memiliki sistem uqubat yang jelas. Tawuran yang mengakibatkan kematian bukan dianggap kenakalan biasa, melainkan jarimah yang berat yang bisa masuk dalam kategori pembunuhan. Pelakunya akan dikenakan qishash atau diyat dan sanksi ta'zir yang keras. Bagi yang membawa senjata tajam untuk membuat kerusakan di muka bumi, ada sanksi yang tegas. Sanksi ini bukan untuk balas dendam, tetapi sebagai zawajir, pencegah agar orang lain tidak berani melakukan hal yang sama, dan sebagai jawabir, penebus dosa bagi pelaku di akhirat. Ketegasan ini akan membuat nyali siapa pun ciut untuk sekadar membawa sajam.
Maka akar masalah tawuran bukan pada anaknya saja. Anak hanyalah korban dari sistem yang rusak. Memperbaiki anak tanpa memperbaiki sistem adalah seperti menguras air di kapal yang bocor tanpa menambal lubangnya. Solusi tambal sulam, seperti menambah jam patroli atau sekadar seminar anti tawuran, tidak akan pernah tuntas. Yang dibutuhkan adalah pergantian sistem secara menyeluruh kepada sistem yang datang dari Pencipta manusia, yaitu sistem Islam dalam naungan Daulah Khilafah. Hanya dengan itu, darah pelajar tidak akan lagi tumpah sia-sia di jalanan.
Wallahu ,a’lam bishawab

Posting Komentar