-->

Masalah Bertubi-tubi, Saatnya untuk Kembali!


Oleh : Selia Herasusanti

Sedih dengan begitu banyaknya permasalahan umat saat ini. Didalam negeri kahutla tak kunjung usai. Sudah lah rakyat hidup berat dalam himpitan ekonomi, masih pula mengalami kesulitan bernapas karena asap yang melingkupi seluruh penjuru. Di luar negeri, saudara kita di Palestina masih terus mengalami pengusiran oleh zionis laknatullah. Sementara di Azerbaijan, muslimah dipaksa keluar dari ruang-ruang kelas hanya karena bertahan tak melepas hijabnya. Tak cukup sampai disitu, dibelahan negeri lainnya pun, masih banyak penindasan yang dialami kaum muslimin.

Semua derita berupa kesengsaraan, hilangnya rasa aman, kesempitan hidup, ketakutan yang dirasakan, seharusnya menjadi pemantik bangkitnya kesadaran untuk menemukan akar permasalahan semua masalah umat ini. 

Jika kita mau sedikit saja menelusuri petunjuk Allah tentang bagaimana cara kita menyelesaikan masalah ini, maka kita akan mantap melangkah menuju penyelesaian hakiki semua masalah ini. 

Dalam QS. Ar Ruum : 41 Allah swt berfirman,
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). . [Ar Rum: 41]

Ayat ini secara gamblang menjelaskan bahwa semua kerusakan yang terjadi di darat maupun di laut adalah akibat ulah tangan manusia sendiri. Dan hal itu seharusnya membangkitkan kesadaran untuk kita mau kembali pada aturan Allah SWT. 

Permasalahmya kemudian, aturan Allah seperti apa yang dimaksud dalam ayat tersebut? Apakah cukup dengan memperbaiki ibadah, memperbanyak mesjid, memperbaiki akhlak atau apa? 

Petunjuk tuntutan Allah untuk diamalkan seorang muslim tercantum dalam QS. Al- Baqarah : 208, 
"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.." [Al Baqarah: 208]

Ternyata, Kaffah (menyeluruh) lah yang Allah tuntut dari seorang muslim mengamalkannya. Dan jika melihat aturan Islam secara menyeluruh, akan kita dapati bahwa aturan itu meliputi aturan hubungan manusia dengan Allah (aqidah, ibadah), hubungan manusia dengan dirinya sendiri (makanan, pakaian, pakaian dan akhlak) serta aturan hubungan manusia dengan manusia lain (muamalah dan sanksi). 

Jika tuntutan itu yang diinginkan Allah, maka amalan yang harus dilakukan untuk sampai pada penerapan aturan secara kaffah itu haruslah amalan yang menghantarkan pada terlaksananya aturan kaffah tersebut. Amalan ini harus amalan yang bersifat revolusioner. Karena amalan yang sifatnya parsial, tak akan pernah bisa membawa pada penerapan Islam kaffah. Butuh perubahan menyeluruh berupa penggantian sistem, agar aturan Allah bisa diterapkan secara sempurna. Dan amalan itu adalah amalan dakwah pemikiran secara berjamaah sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Saw. 
 
Menelisik perjuangan dakwah Rasulullah Saw dr Mekah hingga Madinah, kita akan mendapati bahwa yang beliau lakukan hanyalah dakwah pemikiran, mengganti pemikiran jahiliyah menuju pemikiran Islam. Yang tadinya masih mentolerir aturan dibuat oleh manusia, mengadakan illah lain selain Allah, menjadi la Ilaha illallah. Cukup hanya Allah saja yang berhak disembah dan berhak diikuti segala aturannya. Saat kesadaran ini muncul, apapun yang Allah mau, tanpa ba-bi-bu, mereka segera melaksanakannya sebagaimana dalam firman Allah dalam qs. AL Baqarah :285, 
"Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.”.' [Al Baqarah: 285]

Kesadaran inilah yang membuat masyarakat Madinah siap dipimpin oleh Rasulullah saw. Mereka rela diatur seutuhnya oleh aturan Allah dalam kehidupan pribadi, masyarakat hingga negara. Dan kemudian kita menyaksikan kejayaan Islam bisa bertahan hampir 14 abad saat aturan Allah diterapkan secara kaffah. 

Jika saat ini, kita masih mentolerir aturan manusia mengatur hidup kita, maka jangan salahkan siapapun jika terjadi banyak bencana dalam kehidupan kita. Karena semua itu berasal dari ulah kita sendiri. Kita yang masih menawar dalam melaksanakan perintah Allah, kita yang masih memilih-milih mana aturan yang mau diamalkan dan mana yang tak mau. 

Maka jika keberkahan hidup yang kita inginkan, tak ada pilihan lain, kecuali ikut dalam perjuangan ini. Perjuangan untuk mengembalikan kesadaran umat agar mau diatur dengan aturan Allah secara kaffah. 
"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.". [Al A'raf: 96]
Wallahu'alam.