Pengikisan Akar Zaitun di Palestina dan Urgensi Kepemimpinan Umat
Oleh : Kamila Azzahra, Pemerhati Pendidikan
Ada pohon yang begitu istimewa hingga Allah bersumpah atas namanya, yaitu pohon tin dan zaitun yang disebut dalam surah at-Tin ayat 1–2. Di tanah Palestina, pohon zaitun bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan juga identitas lokal yang menghubungkan penduduk dengan tanah airnya.
Pohon ini menjadi saksi sejarah dan merekam eratnya hubungan masyarakat Palestina dengan tanah mereka. Keistimewaan zaitun juga disebutkan Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Makanlah buah zaitun dan gunakanlah minyaknya karena ia berasal dari pohon yang diberkahi.” (HR Tirmidzi).
Inilah yang kini hendak direnggut oleh penjajah dari rakyat Palestina. Lebih dari 90.000 keluarga Palestina menggantungkan hidup pada pertanian zaitun. Sektor ini juga menyumbang sekitar 8 persen terhadap PDB Palestina. Bagi mereka, minyak zaitun bukan sekadar hasil pertanian, melainkan tabungan keluarga, biaya pendidikan anak, mahar pernikahan, sekaligus simbol ketahanan rakyat Palestina dalam mempertahankan tanah airnya.
Namun, kenyataan pahit harus dihadapi. Serangan terhadap kebun dan pertanian zaitun telah berlangsung lama, bahkan meningkat saat musim panen, terutama pada Oktober dan November.
Di saat buah siap dipetik, pemukim ilegal datang membakar, menebang dengan gergaji mesin, mencuri hasil panen, bahkan aparat penjajah melarang petani masuk ke kebun miliknya sendiri dengan alasan keamanan. Ini bukan konflik, ini adalah perampasan sistematis untuk memutus akar ekonomi dan akar eksistensi bangsa Palestina dari tanahnya sendiri.
Kita merindukan kepemimpinan yang pernah melindungi pohon ini. Ketika Syam termasuk Palestina dibebaskan, para sahabat mengusulkan agar kebun-kebun subur termasuk kebun zaitun dibagi sebagai ghanimah. Khalifah Umar bin Khattab menolak. Beliau teringat firman Allah dalam Al-Qur’an surah al-Hasyr ayat 10 tentang hak generasi mendatang yang belum lahir.
Beliau menetapkan tanah tetap milik penduduk aslinya termasuk yang non muslim, negara hanya mengelola dan menjamin keamanannya. Beliau juga berpegang pada wasiat Abu Bakar Ash Shiddiq kepada pasukan Usamah, janganlah menebang pohon yang berbuah. Rasulullah menegaskan: “Tidaklah seseorang menebang pohon dengan zalim kecuali Allah akan menundukkan kepalanya di neraka (HR Abu Dawud). Di bawah kepemimpinan Islam, pertanian Syam justru subur karena negara hadir sebagai pelindung.
Hari ini pelindung itu hilang. Ketika pohon ditebang petani berteriak namun tidak ada yang menjawab. Inilah yang disebut Rasulullah sebagai hilangnya junnah. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Imam adalah perisai tempat orang berperang di belakangnya dan berlindung (HR Muslim). Tanpa perisai ini umat tercerai berai.
Allah SWT pun memerintahkan dalam Al-Qur’an surah al-Anfal ayat 72 jika mereka meminta tolong kepada kalian dalam urusan agama maka wajib atas kalian menolongnya.
Maka solusi hakiki bukan sekadar mengirim donasi bibit baru. Bibit baru akan ditebang lagi jika penjajah masih bercokol. Solusi hakiki adalah mencabut penjajahan dan mewujudkan kembali kepemimpinan pemersatu umat yaitu Khilafah.
Hanya dengan Khilafah tentara umat akan dikerahkan untuk membebaskan Palestina, mengembalikan kebun kepada 90.000 keluarga itu, dan menanam kembali jutaan zaitun yang ditebang. Jika akar kepemimpinan umat ini tegak kembali, maka akar zaitun di Palestina akan kokoh untuk selamanya.[]

Posting Komentar