AI, Kemajuan teknologi yang membutuhkan kendali
Oleh : Endang Setyowati
Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin pesat dan membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Teknologi ini menawarkan berbagai kemudahan, mulai dari membantu pekerjaan, mempercepat riset medis, hingga mendorong inovasi di berbagai bidang.
Ibarat dua mata pisau, penggunaan dan kecanggihan AI yang pada dasarnya merupakan hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan kemampuan berpikir manusia. Teknologi ini dapat memberikan banyak manfaat apabila digunakan untuk tujuan yang benar.
Namun, teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk menyebarkan informasi palsu, melakukan kejahatan siber, mengembangkan senjata berbahaya, bahkan memperbesar potensi konflik antarnegara. Artinya, persoalan AI bukan semata-mata terletak pada kecanggihan teknologinya, melainkan juga pada tujuan, kepentingan, dan nilai-nilai yang mendasari penggunaannya.
Para peneliti kecerdasan buatan (AI), termasuk "Bapak AI" dunia, menerbitkan riset yang kembali mewanti-wanti pemerintah untuk bersiap menghadapi "ledakan kecerdasan" AI.
Sebuah riset berjudul "Bagaimana jika otomatisasi R&D AI memicu ledakan kecerdasan?" melibatkan 22 peneliti termasuk Yoshua Bengio dan Geoffrey Hinton yang dianggap sebagai bapak AI modern.
Selain itu, riset ini juga melibatkan salah satu pendiri Anthropic Jack Clark dan kepala ilmuwan OpenAI Jakub Pachocki. Riset yang baru diterbitkan di jurnal Cambridge Programme on AI Science & Policy (CASP) tersebut mendesak para pembuat kebijakan untuk bertindak segera sebelum terjadi kemajuan yang tak terkendali dari teknologi tersebut.
(CNN Indonesia, 30/09/2026).
Dalam sistem kehidupan sekuler kapitalistik saat ini, perkembangan teknologi cenderung diarahkan untuk memenuhi kepentingan persaingan, ekonomi, dan dominasi atas kekuasaan. Keuntungan materi dan keunggulan strategis dapat menjadi pendorong utama pengembangan AI.
Sementara itu, pertimbangan moral dan keselamatan manusia berisiko ditempatkan di belakang kepentingan tersebut. Persaingan antarperusahaan maupun antarnegara untuk menjadi yang terdepan dalam pengembangan AI dapat mendorong perlombaan teknologi yang tidak diimbangi dengan pengendalian yang memadai. Akibatnya, manusia berpotensi menjadi pihak yang dirugikan oleh teknologi yang diciptakannya sendiri.
Bisa jadi, suatu hari akan terjadi hilangnya kendali dan keterlibatan manusia, artinya AI mengambil keputusan sendiri tanpa dapat dikontrol manusia dan ketika keuntungan dan persaingan menjadi prioritas, keselamatan manusia dan dampak lingkungan berisiko dikesampingkan.
Teknologi terus dikembangkan, bahkan ketika penggunaannya menyimpan bahaya. Persoalannya bukan semata-mata pada kecanggihan AI, melainkan pada sistem nilai dan kepentingan yang mengarahkan pemanfaatannya.
Ledakan kecerdasan buatan (AI) ini, tanpa kendali akidah dan syariat Islam bisa beresiko pada kehancuran. Maka dari itu, manusia yang nota bene mempunyai akal yang berguna untuk memahami tanda-tanda kekuasaan Allah dan menjadi Khalifah di muka bumi ini.
Allah SWT berfirman :
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (TQS. Al-Baqarah: 30).
Dalam pandangan Islam, hasil pemikiran dan perkembangan teknologi perlu dilihat berdasarkan sifat, nilai, serta tujuan penggunaannya.
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizhamul Islam membedakan dua hal yang kerap dicampuradukkan, antara hadarah dan madaniyah.
Hadarah adalah kumpulan pemahaman tentang kehidupan dan sangat dipengaruhi oleh akidah, sedangkan madaniyah adalah bentuk fisik hasil karya manusia, seperti peralatan, mesin, dan teknologi yang bersifat umum dan netral. Perbedaan ini menjadi petunjuk untuk membedakan tentang persoalan teknologi AI.
Madaniyah dapat bersifat umum dan digunakan lintas peradaban, sedangkan hadarah berkaitan dengan pandangan hidup yang mendasarinya.
AI sebagai teknologi buatan manusia tidak dapat dilepaskan dari tujuan pengembangan, data, informasi, dan keputusan manusia yang terlibat di dalamnya.
Islam tidak mengharuskan manusia menolak kemajuan teknologi. Sebaliknya, ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Namun, pengembangan dan penggunaannya harus berada dalam batas-batas syariat.
Teknologi tidak boleh dijadikan sarana untuk melakukan kezaliman, merugikan orang lain, menyebarkan kebohongan, atau mengancam keselamatan manusia. Syariat Islam bukan sekadar seperangkat ritual, melainkan sistem yang mengatur seluruh kehidupan. Kemajuan yang sesungguhnya bukan sekadar kemampuan menciptakan teknologi yang semakin canggih, melainkan kemampuan menempatkan teknologi berdasarkan aturan syariat yang telah ditetapkan Allah SWT.
Di sinilah pentingnya membangun kepribadian yang berlandaskan akidah Islam. Individu yang memiliki kesadaran bahwa setiap perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT maka diharapkan lebih berhati-hati dalam menggunakan teknologi ini.
Akan tetapi, tanggung jawab tidak cukup dibebankan kepada individu. Diperlukan pula aturan dan pengawasan yang kuat agar teknologi tidak dikuasai oleh kepentingan pihak-pihak yang mengabaikan keselamatan masyarakat.
Maka tak kalah penting adanya peran negara dalam memastikan bahwa pengembangan AI diarahkan untuk kemaslahatan, melindungi masyarakat dari penyalahgunaan, serta mencegah persaingan teknologi yang mengancam keamanan manusia.
Dalam perspektif Islam, tanggung jawab penguasa bukan sekadar menjadi regulator, melainkan juga sebagai raa'in (pengurus urusan rakyat) dan junnah (pelindung). Rasulullah saw bersabda:
"Imam (pemimpin) adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sudah saatnya kita sebagai manusia menyadari bahwa kecerdasan teknologi harus disertai ketaatan kepada aturan Allah SWT agar kemajuan yang dicapai memberikan keselamatan dunia dan akhirat.
Wallahu a'lam bish-shawab

Posting Komentar