Karhutla, Jangan Salahkan Kemarau Saja
Oleh : Fatmah Ramadhani, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Setiap kali kabut asap datang, kita mungkin sudah hafal kalimatnya, “Maklum, sedang musim kemarau.” “Memang sedang El Niño.” “Cuaca sedang panas-panasnya.”
Benar, kemarau dan El Niño memang dapat membuat kondisi menjadi lebih kering sehingga risiko kebakaran meningkat. Tetapi, apakah musim kemarau bisa menyalakan api dengan sendirinya?
Kenyataan persoalannya tidak sesederhana itu. Api tetap membutuhkan sumber. Dalam banyak kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, aktivitas manusia menjadi faktor yang sangat dominan. KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) pernah menyebut sekitar 99 persen karhutla berkaitan dengan faktor manusia. Sementara kondisi alam seperti El Niño lebih berperan sebagai faktor yang memperbesar risiko kebakaran.
Jadi, jangan sampai kita berhenti pada satu penyebab El Niño. Karena, hal itu bisa membuat kita lupa bertanya, siapa yang menyalakan api? Ketika api menjadi cara termurah membuka dan membersihkan lahan, persoalannya menjadi semakin serius. Cara ini bahkan jadi salah satu jawaban sederhana untuk menekan biaya, tanpa peduli dampak kerusakan yang diberikan setelahnya.
Dalam publikasi KLHK, pembakaran disebut sebagai metode yang membutuhkan biaya paling murah dibandingkan pengolahan lahan secara mekanis. Praktik pembakaran ini berkaitan dengan kegiatan penyiapan lahan untuk pertanian, perkebunan, hingga hutan tanaman industri.
Di titik ini, karhutla bukan lagi semata-mata cerita tentang cuaca. Ada pertimbangan ekonomi di balik cara manusia memperlakukan lahan. Lahan dibersihkan, vegetasi dibakar, kemudian api menyebar, dan asap memenuhi udara. Pada akhirnya, yang menghirup asap bukan hanya mereka yang menyalakan api, yang batuk bukan pemilik lahannya saja.
Coba kita lihat persoalan ini dari sudut pandang seorang ibu. Ketika udara memburuk, yang kita pikirkan mungkin bukan istilah El Niño atau hotspot.
Kita berpikir, “Apakah anakku nanti sekolah pakai masker atau tidak?”; “Aman kah kalau anak bermain di luar?”; “Mengapa udara hari ini bau asap?”; “Kalau anak batuk, siapa yang harus menanggung biaya berobat?”
Karhutla pada akhirnya bukan sekadar angka dalam laporan tahunan. Ia bisa masuk ke rumah-rumah kita melalui udara yang kita hirup bersama anak-anak. Karena itu, pembicaraan tentang karhutla seharusnya tidak berhenti pada bagaimana memadamkan api setelah kebakaran terjadi. Kita juga perlu membicarakan mengapa kebakaran bisa terjadi sejak awal.
Hutan, Lahan, dan Kepentingan Ekonomi
Berbagai kajian menunjukkan bahwa perubahan penggunaan hutan untuk kegiatan ekonomi merupakan bagian penting dari persoalan deforestasi dan risiko karhutla. Penelitian BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) juga mengkaji sejumlah faktor yang berkaitan dengan risiko karhutla di lahan gambut, termasuk keberadaan konsesi perkebunan sawit.
Ini bukan berarti setiap kebakaran otomatis dapat dituduhkan kepada perusahaan atau perkebunan tertentu. Tetapi justru karena kompleksnya persoalan ini, kita tidak boleh terlalu cepat menyederhanakannya menjadi “alam sedang marah.”
Alam memang punya siklus. Ketika kemarau datang, El Niño memang bisa terjadi. Tetapi bagaimana manusia membuka lahan, bagaimana api digunakan, bagaimana wilayah dikelola, dan bagaimana kepentingan ekonomi bekerja di dalamnya, semuanya juga perlu diperiksa.
Sebagai seorang ibu, kita hari ini tidak bisa hanya mengajari anak mencintai lingkungan, atau mengajarkan anak agar tidak membuang sampah sembarangan. Mengajak mereka menanam pohon, meminta anak-anak agar hemat air, atau mengajarkan bahwa hutan adalah rumah bagi banyak makhluk hidup. Semua itu baik tapi ternyata itu tidak cukup. Ada hal lain yang tidak kalah penting. Anak-anak juga perlu mewarisi lingkungan yang memang masih layak untuk mereka tinggali.
Sebab akan percuma kita mengajarkan anak mencintai pohon, sementara ketika mereka dewasa hutan yang seharusnya mereka warisi sudah berubah menjadi lahan yang gersang dan penuh asap.
Sebagai seorang ibu, mustahil bagi kita untuk memadamkan api dengan tangan sendiri. Tetapi kita bisa menolak cara berpikir yang terlalu sederhana, kemudian membangun jalan berpikir yang benar pada anak dan generasi selanjutnya.
Berbicara tentang karhutla bukan hanya seputar El Nino dan panasnya cuaca. Ada pelaku pembakaran, ada cara membuka lahan, ada pertimbangan biaya, ada kepentingan ekonomi, ada kebijakan dan tata kelola hutan, serta ada masyarakat yang akhirnya ikut menanggung akibatnya.
Jadi, ketika kabut asap kembali datang, jangan hanya bertanya kapan hujan turun? Mari juga bertanya, mengapa api bisa menyala di sana sejak awal? Karena mencegah karhutla bukan hanya soal memadamkan api. Ia juga soal mencegah alasan-alasan yang membuat api terus dinyalakan.[]

Posting Komentar