Anak Kita Menghirup Asap, Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?
Oleh : Fatmah Ramadhani, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Ibu-ibu, coba bayangkan, anak sedang batuk dan sesak. Kita panik, masker dipakaikan, aktivitas di luar dikurangi, jendela ditutup. Tapi besok asap datang lagi, lusa datang lagi. Tahun depan, kita menghadapi hal yang sama lagi. Sampai kapan?
Karhutla bukan hanya soal hutan yang terbakar. Asapnya mengancam kelompok rentan seperti balita, anak-anak, ibu hamil dan menyusui. Di Kalimantan Selatan, perempuan bahkan menghadapi dampak berlapis: kesehatan terganggu, anak atau anggota keluarga sakit harus dirawat, sementara air bersih dan sumber penghidupan ikut terdampak.
Dan lagi-lagi, ibu yang berada di garis depan. Ketika anak sakit, ibu yang merawat. Ketika rumah dipenuhi asap dan abu, ibu yang mengurus. Ketika penghasilan keluarga terganggu, ibu ikut memikirkan bagaimana dapur tetap mengepul.
Lalu bagaimana solusi yang diberikan? Pakai masker, kurangi aktivitas di luar, dan tetap di dalam rumah. Masker memang penting. Tapi apakah itu menyelesaikan akar persoalan? Tidak! Kalau pembukaan lahan secara massif terus berlangsung, sementara kerusakan lingkungan hanya ditangani setelah bencana terjadi, karhutla akan terus berulang.
Inilah wajah sistem yang menjadikan keuntungan ekonomi begitu dominan, sementara keselamatan manusia dan kelestarian alam sering dikorbankan.
Lain halnya dengan Islam. Islam memandang alam bukan sekadar komoditas. Hutan dan sumber daya yang menjadi milik umum tidak boleh dikuasai demi kepentingan segelintir pihak. Negara wajib menjadi pelindung dan pengurus rakyat: menjaga lingkungan, menyediakan layanan kesehatan, air bersih, serta melindungi masyarakat ketika bencana terjadi.
Pelaku perusakan pun harus ditindak tegas. Karena menjaga hutan bukan hanya menjaga pohon, menjaga hutan berarti menjaga udara yang dihirup anak-anak kita, menjaga air yang diminum keluarga kita. Dan pada akhirnya menjaga kehidupan generasi yang Allah titipkan kepada kita.[]

Posting Komentar