Risalah Nabi ﷺ Jangan Direduksi
Oleh : Eulis Martini, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Ketika Maulid berhenti pada seremoni, yang dikhawatirkan hilang bukan sekadar makna sebuah peringatan, tetapi pemahaman umat terhadap risalah Rasulullah ﷺ. Seolah-olah kecintaan kepada Nabi cukup diwujudkan dengan shalawat, pujian, pengajian, atau berbagai acara peringatan, sementara bagaimana Rasulullah ﷺ membangun kehidupan umat justru tidak banyak dikaji.
Padahal, Rasulullah ﷺ tidak hanya datang untuk mengajarkan ibadah individual dan akhlak. Beliau membawa risalah Islam yang mengatur seluruh kehidupan. Beliau membina individu dengan akidah Islam, membentuk umat, mempersaudarakan kaum Muslim, membangun masyarakat Islam di Madinah, sekaligus menjadi pemimpin negara mn yang menerapkan hukum Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian” (QS al-Ahzab: 21).
Jika Rasulullah ﷺ adalah teladan, maka yang diteladani bukan hanya pribadi beliau ketika beribadah, bersikap lembut, atau berakhlak mulia. Perjalanan dakwah beliau juga merupakan bagian dari keteladanan. Dari membina individu, membangun jamaah, hingga mendirikan Negara Madinah dan menerapkan Islam dalam kehidupan masyarakat.
Di sinilah makna Maulid semestinya dikembalikan. Bukan sekadar mengenang kapan Rasulullah ﷺ dilahirkan, tetapi memahami untuk apa beliau diutus dan risalah apa yang beliau perjuangkan.
Dari Cinta kepada Nabi Menuju Ittiba’
Umat Islam tentu tidak rela Rasulullah ﷺ dihina dan dinodai. Kecintaan itu nyata. Ketika kehormatan beliau direndahkan, umat bangkit membela. Namun, kecintaan yang benar tidak berhenti ketika penghinaan terjadi. Ia semestinya hadir pula dalam kehidupan sehari-hari: dengan mengikuti apa yang beliau bawa.
Allah SWT berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian” (QS Ali Imran: 31).
Maka, ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ tidak cukup dimaknai sebagai meneladan akhlak secara personal. Ada risalah yang harus dipahami dan diperjuangkan. Ada Islam yang harus menjadi pedoman dalam kehidupan umat.
Sebab, Rasulullah ﷺ tidak membangun perubahan dengan seremoni. Beliau membangun manusia dengan akidah, membentuk umat dengan Islam, menyatukan masyarakat dengan ikatan iman, lalu membangun kehidupan yang diatur oleh hukum Allah.
Jika demikian, bukankah momentum Maulid semestinya menjadi kesempatan untuk bertanya lebih dalam: Islam seperti apa yang dahulu diperjuangkan Rasulullah ﷺ, dan sejauh mana umat hari ini menjadikannya sebagai pedoman kehidupan?
Jangan Sampai yang Dikenang Hanya Kelahirannya
Inilah yang sering luput ketika Maulid hanya dipahami sebagai agenda tahunan. Kelahiran Rasulullah ﷺ dikenang, nama beliau disebut, shalawat dilantunkan, tetapi risalah yang beliau bawa tidak selalu menjadi pusat perhatian.
Akibatnya, Islam mudah dipersempit menjadi urusan ibadah dan akhlak individu. Sementara pendidikan, budaya, ekonomi, kehidupan sosial, hingga pengaturan masyarakat berjalan dengan berbagai nilai dan aturan yang tidak menjadikan aturan Islam sebagai dasar.
Padahal Rasulullah ﷺ telah menunjukkan bahwa Islam bukan hanya agama yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga memiliki aturan untuk mengatur kehidupan manusia. Ketika Islam diterapkan secara menyeluruh, lahirlah masyarakat yang dibangun di atas akidah dan syariat, serta sebuah peradaban yang menjadikan Islam sebagai sumber kemuliaan.
Maka, persoalannya tidak semestinya berhenti pada apakah sebuah pertunjukan layak ditampilkan atau tidak. Ia dapat menjadi pintu muhasabah yang lebih besar: jangan-jangan kita begitu bersemangat memperingati Maulid, tetapi belum cukup memahami risalah Nabi yang sedang kita peringati.
Jangan sampai kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ hanya muncul ketika beliau dihina. Jangan sampai nama beliau diagungkan dalam seremoni, tetapi jalan perjuangannya justru asing dalam kehidupan umat.
Maulid semestinya menghidupkan kembali kesadaran bahwa Rasulullah ﷺ membawa Islam bukan untuk disimpan sebagai identitas, tetapi untuk menjadi petunjuk kehidupan. Dari pembinaan individu, kebangkitan umat, hingga terwujudnya kehidupan yang diatur dengan Islam dan membangun peradaban dengan Islam.
Di sanalah cinta kepada Rasulullah ﷺ menemukan maknanya: bukan hanya mengenang kelahirannya, tetapi mengikuti risalahnya; bukan hanya membela kehormatannya, tetapi memahami perjuangannya; bukan hanya mengadakan seremoni atas namanya, tetapi berusaha menghadirkan Islam yang beliau bawa sebagai rahmatan lil ‘alamin.[]

Posting Komentar