-->

Zionis Rancang Pengusiran Warga Gaza, Saatnya Perisai Umat Hadir di Tengah Umat


Oleh : Nurul Hidayati (Aktivis Pendidikan)

Gaza belum selesai berduka. Rumah rumah masih banyak yang hancur, keluarga kehilangan anggotanya dan permasalahan kemanusiaan lainnya masih menghantui rakyat Palestina. Ada satu pertanyaan kapan permasalahan ini berakhir, sedangkan Israel dan sekutunya terus berusaha dengan segala cara tetap bercokol di wilayah Palestina. 
 Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, kembali menerobos masuk ke Kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki. Ben-Gvir menyerukan agar sebuah kuil Yahudi dibangun di lokasi tersebut.

Dilansir Al Jazeera, Selasa (1/9/2026), Ben-Gvir memasuki kompleks tersebut pada Senin (31/8) dengan perlindungan pasukan pendudukan Israel. Ben-Gvir tampak didampingi sejumlah rabi hingga personel keamanan. Politisi sayap kanan ini telah beberapa kali melakukan aksi provokatif semacam itu.

Kantor berita Palestina Wafa melaporkan Ben-Gvir melakukan doa dan ritual Talmud di bagian timur halaman masjid. Sementara menurut pengaturan status quo yang berlaku sejak 1967, non-Muslim tidak diperbolehkan melakukan ibadah atau doa, meskipun orang Yahudi diizinkan untuk mengunjungi kompleks tersebut. ,https://news.detik.com/.

Ben-Gvir juga mengungkap rencana untuk mengeluarkan 1,86 juta warga Palestina dari Gaza dalam kurun waktu tujuh tahun dengan dalih “migrasi sukarela”. Rencana tersebut menargetkan 250.000 warga Palestina meninggalkan Gaza pada tahun pertama, kemudian meningkat menjadi 1,11 juta orang dalam tiga tahun dan sekitar 1,86 juta orang dalam tujuh tahun.
Rencana tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah Israel. Menteri Pertahanan Israel, Katz, mengungkap bahwa pemerintahnya telah menyiapkan rencana pemindahan warga Palestina dari Jalur Gaza, tetapi masih menunggu persetujuan Amerika Serikat.

Sedangkan di wilayah bagian lain di Tepi Barat, pemukim Zionis berupaya menerobos dan membakar sebuah masjid, serta mencoretkan slogan bernada rasis dan ancaman terhadap warga Palestina.
Permasalahan Umat Islam di dunia tidak akan pernah selesai termasuk masalah Palestina yang sejak 1948 dijajah oleh Israel, dengan berbagai alasan dan tujuan mereka berlaku curang untuk menguasai seluruh wilayah Palestina. Karena ni adalah konsekuensi logis dari sistem negara-bangsa (nation-state) dan absennya otoritas politik Islam yang menyatukan kekuatan kaum Muslimin untuk mengusir penjajah Zionis.

Dimana Hukum internasional modernadalah produk negara-negara imperialis Baratyang justru menormalisasi dan mendukung penjajahan melalui berbagai macam cara dan istilah-istilah halus seperti "migrasi sukarela". Dimana Ketergantungan pada persetujuan AS menunjukkan bahwa Israel adalah proyek kolonial yang disponsori kekuatan besar, bukan entitas berdaulat independent.

Oleh karena itu satu satunya Solusi atas persoalan Palestina adalah pembentukan kembali Khilafah sebagai junnah (perisai) yang akan melindungi setiap jiwa dan setiap jengkal tanah kaum Muslimin.
Jihad sebagai thariqah (metode) baku politik luar negeri negara Islam untuk membebaskan tanah yang dijajah dan mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia, dilakukan oleh negara melalui tentara resmi Khilafah.

Khilafah, sebagai satu kekuatan mandiri, akan memutus total ketergantungan ekonomi-politik dengan negara-negara yang mensponsori Zionis dan mengonsolidasikan sumber daya (termasuk kepemilikan umum seperti minyak dan gas di dunia Islam) sebagai basis kekuatan militer-ekonomi independen untuk mendukung pembebasan Palestina.
Umat wajib mengambil bagian dalam perjuangan mengembalikan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah sesuai metode perjuangan Rasulullah . Karena tanpa Persatuan Kaum Muslimin dibawah satu Kepemimpinan maka permasalahan Palestina tidak akan pernah berakhir.