Palestina, Luka Umat dan Jalan Penyelesaiannya
Oleh : Nyai Djudang (Ibu Rumah Tangga)
Palestina bukan sekadar konflik biasa. Ia adalah luka yang terus menganga di tubuh umat Islam selama puluhan tahun. Dari Al-Quds sampai Gaza, dari Tepi Barat sampai pengungsian, darah dan air mata menjadi pemandangan sehari-hari. Berita terbaru yang kita lihat hari ini semakin menegaskan itu. Ada upaya pejabat Israel masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa dan menyuarakan pembangunan sinagoge di dalamnya. Ada rencana relokasi besar-besaran 1,86 juta warga Gaza dalam jangka waktu 7 tahun. Ada juga upaya pemukim Israel membakar masjid di Tepi Barat. Semua ini bukan kejadian terpisah. Ini adalah rangkaian penjajahan yang sistematis.
Pertanyaannya, kenapa ini terus terjadi? Kenapa dunia diam? Kenapa solusi demi solusi yang ditawarkan tidak pernah menyelesaikan akar masalahnya?
Jawabannya sederhana. Karena yang dipakai untuk menyelesaikan masalah Palestina bukanlah solusi Islam, melainkan solusi buatan manusia. Perundingan damai, negara dua solusi, tekanan diplomatik, semua sudah dicoba. Hasilnya, tanah Palestina semakin menyempit, Masjid Al-Aqsa semakin dilecehkan, dan rakyat semakin tertindas.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah mengingatkan kita dalam Al-Qur'an tentang sifat musuh-musuh Islam. Allah berfirman:
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka." QS. Al-Baqarah: 120
Ayat ini bukan untuk menebar kebencian, tapi untuk menyadarkan. Bahwa selama kita masih memakai cara mereka, selama kita masih menggantungkan harapan kepada PBB dan negara-negara besar, maka ridha mereka tidak akan pernah datang.
Rasulullah ﷺ juga sudah memberi gambaran tentang kondisi umat di akhir zaman. Dalam hadits riwayat Abu Dawud, beliau bersabda:
"Hampir tiba suatu zaman di mana bangsa-bangsa dari seluruh dunia akan mengerumuni kalian seperti orang-orang yang berebut makanan." Para sahabat bertanya, "Apakah karena jumlah kami sedikit?" Beliau menjawab, "Bahkan kalian banyak. Namun kalian seperti buih di lautan. Dan Allah akan mencabut rasa takut dari dada musuh kalian dan menimpakan kepada kalian penyakit al-wahn." Para sahabat bertanya, "Apa itu al-wahn?" Beliau menjawab, "Cinta dunia dan takut mati."
Lihatlah kondisi kita hari ini. Jumlah umat Islam 2 miliar lebih. Tapi tidak ada wibawa. Tidak ada yang takut. Kenapa? Karena kita terpecah. Karena kita mencintai dunia dan melupakan jihad, melupakan persatuan, melupakan kewajiban membela saudara.
Lalu apa solusinya? Apa yang harus kita lakukan sebagai pelajar, sebagai ibu rumah tangga, dan pastinya sebagai
umat Islam?
Solusinya bukan pada demo sesaat, bukan pada donasi saja, bukan pada boikot saja. Semua itu penting, tapi itu hanya perban. Lukanya masih ada. Solusi tuntasnya adalah dengan mengembalikan sistem yang pernah melindungi Al-Quds selama 1400 tahun. Yaitu sistem Khilafah.
Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang menerapkan syariat Islam secara kaffah di bawah satu kepemimpinan. Sejarah mencatat, ketika Khilafah ada, Palestina aman. Salahuddin Al-Ayyubi membebaskan Al-Quds dari tangan Salibis karena di belakangnya ada Khilafah. Sultan Abdul Hamid II menolak mentah-mentah tawaran emas dari Herzl untuk menjual tanah Palestina karena beliau berdiri di atas nama Khilafah Utsmaniyah.
Kenapa harus Khilafah? Karena hanya Khilafah yang memiliki 3 hal yang tidak dimiliki sistem lain hari ini.
Pertama, Khilafah memiliki kekuatan militer yang bersatu. Tidak ada lagi negara-negara Arab yang sibuk menjaga perbatasan masing-masing. Tentara dari Mesir, Yordania, Turki, Pakistan, Indonesia, semua berada di bawah satu komando Amirul Mukminin. Dengan begitu perintah untuk membebaskan Al-Aqsa bisa langsung dijalankan.
Kedua, Khilafah memiliki kebijakan luar negeri yang tegas berdasarkan aqidah, bukan berdasarkan kepentingan politik. Tidak ada lagi istilah "menunggu persetujuan AS". Tidak ada lagi diplomasi yang menjilat. Yang ada hanyalah haq dan bathil. Yang haq harus dimenangkan, yang bathil harus dilawan.
[11/9, 11.02] Donatur Ummu Fadlilah 3 Bulan: Ketiga, Khilafah menjaga Baitul Maqdis sebagai bagian dari aqidah. Bukan sebagai konflik wilayah. Al-Aqsa adalah tanah wakaf umat Islam. Kiblat pertama. Tempat Isra Mi'raj. Tidak bisa dinegosiasikan. Umar bin Khattab radhiyallahu anhu sendiri yang datang menerima kunci Al-Quds. Dan sejak itu non-muslim dibolehkan tinggal dengan aman, tempat ibadah mereka dilindungi. Itulah Islam.
Mungkin ada yang bertanya, "Apa kita bisa?" Jawabannya, pasti bisa. Karena janji Allah itu pasti. Allah berfirman:
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi." QS. An-Nur: 55
Dan Rasulullah ﷺ juga memberi kabar gembira. Dalam hadits riwayat Ahmad, beliau bersabda:
"Kemudian akan datang Khilafah diatas manhaj kenabian."
Artinya, setelah fase kerajaan yang menggigit, akan kembali lagi Khilafah. Itu janji. Tugas kita adalah mempersiapkan diri, menyadarkan umat, dan berjuang agar janji itu segera datang.
Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang?
Pertama, luruskan pemahaman. Jelaskan kepada teman, keluarga, guru, bahwa masalah Palestina tidak akan selesai dengan solusi sekuler. Harus dengan solusi Islam.
Kedua, jangan pernah lelah mendoakan. Doa senjata mukmin. Doakan agar Allah segera mengirimkan pemimpin seperti Salahuddin.
Ketiga, dukung setiap upaya untuk menyatukan umat. Tolak perpecahan. Tolak nasionalisme sempit yang membuat kita lupa bahwa Palestina adalah urusan kita semua.
Keempat, siapkan diri dengan ilmu dan iman. Karena pembebasan Al-Aqsa butuh generasi yang kuat aqidahnya, kuat fisiknya, dan siap berkorban.
Palestina mengajari kita satu hal. Bahwa tanpa persatuan di bawah syariat, kita akan terus diinjak. Bahwa tanpa Khilafah, darah akan terus mengalir.
Maka mari kita jadikan tulisan ini bukan sekadar PR. Jadikan ini pengingat. Bahwa kita punya tanggung jawab. Tanggung jawab untuk tidak diam. Tanggung jawab untuk terus menyuarakan kebenaran. Tanggung jawab untuk memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah yang akan menjadi perisai bagi umat dan pembebas bagi Al-Aqsa.
Semoga Allah segera memperlihatkan kepada kita hari dimana adzan kembali berkumandang dengan aman di Masjid Al-Aqsa. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang ikut andil di dalamnya. Aamiin.
Wallahu a’lam bishawab

Posting Komentar