-->

Karhutla Berulang Kesehatan Rakyat Dikorbankan Demi Kepentingan Tirani

Karhutla Berulang Kesehatan Rakyat Dikorbankan Demi Kepentingan Tirani

Oleh. Susi Ummu Musa

Saat itu pandangan terlihat berkabut awan masih saja menampakkan cerahnya tak ada tanda tanda turun hujan, namun rakyat dalam kondisi panik dan khawatir apa sebenarnya yang terjadi hingga kabut tebal menyelimuti pulau borneo itu. 
Ternyata ada kebakaran  sangat besar" ya! Kebakaran hutan dan lahan di kalimantan. 

Lantas apa sebenarnya yang menyebabkan hutan seluas itu bisa  terbakar? Jika ditelusuri lebih dalam oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kebakaran hutan dan lahan bukan merupakan bencana alam murni. Penyebabnya banyak berkaitan dengan aktivitas manusia, baik yang dilakukan secara sengaja maupun akibat kelalaian.

Jelas ini adalah perbuatan manusia yang secara sengaja membakar hutan demi suatu kepentingan dan mengabaikan dampak buruk. 
Kejadian yang dulu pernah terjadi Pada 2015, luas lahan terbakar mencapai 196.516,77 hektar. Angkanya kembali melonjak menjadi 137.848 hektar pada 2019 dan 190.394,58 hektar pada 2023. Pola tersebut memperlihatkan bahwa karhutla bukan kejadian sesaat, melainkan krisis ekologis yang berulang ketika musim kemarau tiba.

Tren kebakaran berlanjut pada 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalimantan Selatan mencatat 512 kejadian karhutla dengan luas terdampak mencapai 1.345,79 hektar sepanjang Januari hingga 31 Juli. Banjarbaru menjadi wilayah dengan kejadian tertinggi, yakni 162 kebakaran yang menghanguskan sekitar 392,63 hektar.

Kabut asap turut meningkatkan gangguan kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan mencatat 6.329 kasus infeksi saluran pernapasan akut pada 19–25 Juli 2026. Jumlah tersebut meningkat sekitar 20,1 persen dibandingkan pekan sebelumnya. 

Menurut laporan (ANTARA) -
Dokter spesialis paru dan pernapasan Dr. dr. Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K), M.Pd.Ked, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama bagi kelompok rentan.

Kepada ANTARA di Jakarta, Rabu, Feni mengatakan kelompok yang tergolong rentan atau paling mudah terdampak asap karhutla antara lain ialah ibu hamil, anak-anak, balita, lansia, hingga penderita penyakit kronis saluran napas dan jantung seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), penyakit jantung, dan gagal jantung.

“Kelompok-kelompok yang sangat mudah terdampak baik oleh efek jangka pendek maupun jangka panjang akibat kebakaran hutan. Jadi, pada keluarga-keluarga yang memiliki kelompok rentan tersebut harus lebih waspada,” ujar Feni, yang berpraktik di RSUP Persahabatan itu.

Dari kasus kebakaran hutan ini ada hal yang lebih menyayat hati yakni keberadaan satwa yang tinggal didalamnya seperti Orang utan, bekantan, macan dahan, rangkong, kuau raja, kucing emas, gajah, harimau, dan tapir merupakan kelompok satwa yang dapat terdampak. Kerusakan habitat tersebut menjadi ancaman serius bagi keanekaragaman hayati karena fungsi ekologis ekosistem dapat hilang dalam waktu singkat. 

Bahkan untuk pemulihan rantai makanan butuh waktu yang sangat panjang, 
Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Dr Abdul Haris Mustari menjelaskan, ancaman paling langsung adalah kematian satwa akibat terbakar. Sementara itu, satwa yang berhasil menyelamatkan diri akan menghadapi hilangnya habitat, sumber makanan, dan air. Mereka kemudian mencari habitat sementara, seperti hutan sekunder atau kawasan yang berbatasan dengan perkebunan dan permukiman. 

Menurut dia, kondisi yang demikian itu berpotensi meningkatkan konflik satwa dengan manusia. “Pada akhirnya satwalah yang selalu menjadi korban dan disalahkan. Padahal, keluarnya satwa dari habitatnya terjadi karena habitatnya dirusak dan dibakar oleh manusia,” jelasnya.

Tak hanya itu kasus penanganan kebakaran hutan dinilai lamban sehingga luas kebakaran menjadi sulit untuk dipadamkan, lambannya pemerintah menggambarkan betapa lemahnya sistem pemerintahan saat ini, 
Sehingga dampak yang terjadi sangat besar dan sangat fatal. 

Inilah cermin sistem pemerintahan sekulerisme yang berazaskan manfaat semata, keamanan dan perlindungan yang seharusnya didapatkan oleh negara namun ternyata negara tidak mampu menjaganya. 
Tangan tangan jahil dan serakah telah merusak tatanan sumber kehidupan bagi manusia maka benar apa yang difirmankan Allah SWT:

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).Qs.Ar rum 41.

Tangan jahil yang merusak itu sengaja merusak lahan demi sebuah ambisi kepentingan tirani yang selama ini terus menggunduli paru paru bumi , berapa banyak hutan yang ada di Indonesia dirusak sehingga terjadi bencana  banjir bandang yang menghancurkan perkampungan semua itu karna ulah tangan manusia serakah yang jauh dari agama. 
Maka umat harus menyadari bahwa selama sistem ini masih menjadi landasan kehidupan tak heran kebakaran hutan dan lahan akan berulang lagi. 
Hanya berharap kepada sistem islam karena itu solusi satu satunya untuk menjaga negri ini dari jahat nya Tirani. 

Wallahu a lam bissawab