Islam Yang Diridhoi Allah, Islam Ala Rasulullah
Oleh : U Diar
Mengenal IsIam adalah salah satu kunci untuk bisa menjalankan apa yang menjadi konsekuensi dari dipeluknya agama tersebut sebagai keyakinan. Mengenal IsIam pada akhirnya menuntut siapapun yang meyakininya untuk tahu apa itu Islam, menuntut untuk paham apa yang dimaui oleh IsIam, sehingga bisa mengamalkan semua ajarannya sebagai pembuktian atas keyakinannya yang bulat terhadap Islam.
Di dalam Alquran surat Ali Imron ayat 19, yang artinya "sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam.", ditegaskan bahwa Islam kedudukannya sebagai agama samawi. Artinya ia sama sekali bukan buatan manusia. Oleh karena itu, supaya dipahami manusia, agama ini perlu sampai kepada manusia dengan perantara yang juga bisa dimengerti oleh manusia. Itulah mengapa kemudian Allah mengutus Rasulullah Muhammad SAW sebagai penjelas Islam. Ayat inipun menjadi landasan, bahwa setelah IsIam ada, yang diridhoi hanya Islam, artinya selainnya tidak mendapatkan posisi demikian.
Dalam kitabnya, Hafidz Abdurrahman, menuliskan bahwa definisi Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya, dan dengan sesamanya. Dari definisi ini, maka agama apapun yang tidak berasal dari Allah dan tidak diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW maka tidak bisa dinamakan Islam, walaupun ada kemiripan dari sisi tampilan busananya atau bahasanya berbahasa Arab sekalipun.
Apapun yang diluar substansi asal dari wahyu Allah dan ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW tidak masuk definisi. Sehingga penamaan wahyu yang diturunkan kepada nabi-nabi lainnya tidak bisa masuk definisi Islam tadi. Sementara cakupan yang disebutkan dalam pengaturan hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesama manusia lainnya, maka hal ini menandakan bahwa kelengkapan ajaran IsIam mencakup semua hal. Oleh karena itu, sangat tepat bila dikatakan IsIam mengatur setiap detil aspek kehidupan. Sebab cakupan yang dibahas tidak sekadar dosa dan pahala, surga dan neraka, tetapi juga urusan personal seperti pakaian, makanan, dan akhlak. Bahkan urusan dengan yang melibatkan interaksi dan akibat adanya interaksi dengan manusia lain pun dicover oleh Islam. Sehingga sangat lumrah bila kemudian dunia mengenal konsep ekonomi Islam, sosial pergaulan, hingga urusan pemerintahan sekalipun, karena IsIam punya aturan dalam hal itu.
Datangnya IsIam sebagai agama yang diridhoi, secara tersirat menyampaikan pesan bahwa agama-agama sebelumnya telah terhapus. Hal ini juga dipertegas oleh Alquran dalam aurat Almaidah ayat 48 yang artinya "Dan telah kami turunkan Kitab (Alquran) ini kepadamu ( Muhammad) dengan membawa kebenaran untuk membenarkan kitab yang diturunkan kepadanya dan mengalahkannya.... ". Bahkan Rasulullah pernah menampakkan kemarahan ketika beliau menemukan Umar bin Khathab membawa sobekan Taurat. Beliau bersabda yang artinya "Apa (yang kamu bawa) ini? Bukankah aku telah membawa (Alquran) yang jelas dan jernih? Kalau seandainya saudaraku Musa AS hidup pada zamanku, tentu beliau tidak akan susah-susah lagi, kecuali mengikutiku." (HR. Ahmad dan Al-Bazzar dari Jabir).
Islam dengan kelengkapannya, adalah panduan dan pedoman hidup bagi siapapun yang mengimaninya. Jika belum tahu bagaimana teknis menjalankannya, maka langkah awal yang dibutuhkan adalah melakukan pengkajian terhadapnya. Merujuk sumber hukumnya dari Alquran, Al Hadits, Ijma shahabat, dan qiyas. Jika tidak dapat melakukan sendiri, maka kelengkapan anggota badan, waktu sempat, dan nikmat sehat perlu dipaksa untuk dituntun mencari guru. Lalu duduk mengkaji secara intensif dan berkesinambungan. Berusaha mengetahui informasi nya secara benar, memahami dengan benar, lalu mengamalkan yang benar tersebut dengan penuh keikhlasan.
Pada saat yang sama, kebenaran yang diterima dari ajaran Islam ini perlu disuarakan. Mengikuti langkah dan tuntunan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para penerusnya terdahulu. Jika sendirian naik turun kemauannya, maka harus berjama'ah dalam melakukan amar ma'ruf sebagaimana yang tercantum dalam Alquran surat Ali Imron ayat 104. Dan inilah ritme yang semestinya melekat pada setiap individu beriman Islam. Mempelajari, memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan.
Dengan adanya dakwah, manusia akan paham benar salah versi penciptaNya. Akan tahu amal sholeh dan amal salah. Bahkan akan bisa membedakan ridho Allah itu jika mengikuti ajaran Muhammad atau yang selainnya. Dari sini maka sederas apapun kepungan sekuler di sekitar tempat tinggal kita saat ini, niscaya benteng pertahanan iman tetap goyah. Tetap lurus ittiba IsIam ala Rasulullah, bukan terjebak Islam ala manusia, apapun kedudukan dan pangkat manusia tersebut. []

Posting Komentar