Darurat Kesehatan Mental, Gen Z di Ujung Depresi dan Bunuh Diri
Oleh : Anastasia, S.Pd.
Memang benar, kenyataan dunia saat ini dikuasai teknologi canggih, menghadirikan gadget yang mudah digenggam, berseluncur mengakses informasi apa pun. Keperluan apa pun terasa instan, dengan menggunakan fitur aplikasi yang bisa mempermudah urusan.
Namun, sayang di tengah gemerlapnya teknologi, menyisihkan jiwa-jiwa yang kosong, yang tidak kuat hidup berdampingan dengan berbagai gempuran tekanan hidup, berujung bunuh diri.
Seperti kejadian, seorang pria berinisial FS (30).ditemukan tidak bernyawa diduga bunuh diri di dalam kawasan Gelora Bung Karno dini hari (www.kompas.com, 06/9/2026).
Sebelum peristiwa itu terjadi, FS membuat cuitan bahwa dirinya mengucapkan terima kasih sekaligus permintaan maaf kepada teman-temannya sebelum mengakhiri hidupnya.
Data layanan konseling Kemenkes, juga menunjukkan besarnya persoalan kesehatan jiwa pada kelompok usia muda.
Sepanjang 31 Juli 2025 hingga 31 Juli 2026, sebanyak 15.979 orang mengakses Healing119.id untuk berbagai kebutuhan.
Dari jumlah tersebut, 7.600 orang melakukan konseling dan 3.036 orang tercatat memiliki keinginan mengakhiri hidup. Selain itu, 759 orang menghubungi layanan untuk meminta informasi, 203 tercatat sebagai spam, sementara 4.381 tidak memberikan respons atau tidak melanjutkan proses konseling.
Dari 3.036 orang yang ingin bunuh diri, kelompok usia 21-30 tahun mendominasi dengan proporsi 54,08 persen. Kelompok usia 11-20 tahun berada di posisi berikutnya sebesar 33,04 persen. www.reddit.com 10/09/2026
Kapitalisme Sekulerisme Akar Depresi
Kerapuhan generasi adalah cerminan, bobroknya sistem kehidupan manusia saat ini yang tidak mampu memberikan sandaran kuat.
Di tengah penerapan sistem kapitalisme sekulerisme, telah melahirkan pandangan hidup yang menjauhkan manusia dari agama, dan lebih mementingkan kepentingan, mengejar kebahagian materi melahirkan jiwa-jiwa yang rapuh.
Sistem ini sangat bertentangan dengan fitrah manusia, yang menjadikan Allah Swt sebagai tujuan, tapi dalam sistem kapitalisme dan sekularisme memandang bahwa materi adalah sebagai pencapaian kesuksesan. Akibatnya, ditengah keadaan ekonomi yang serba sulit, kuatnya budaya flexing yang selalu menonjolkan pencapaian melalui sosial media, sebagian Gen Z yang masih belum mapan secara ekonomi, hidup di antara deadline untuk sukses mengikuti tren. Gen Z dituntut untuk tampil secara sempurna, meraih kesuksesan sebagai standar bahwa dia ingin divalidasi. Sehingga, keadaan mental Gen Z menjadi tidak stabil, diliputi perasaan harus on fire mengikuti budaya fomo. Inilah yang menyebabkan sebagian Gen Z yang depresi berujung bunuh diri.
Penerapan sistem rusak juga mengakibatkan, orang sibuk sendiri fokus mencari kesuksesan. Hingga lupa dengan keadaan sekitar, yang diantaranya ada orang yang tidak bisa mengelola rasa depresinya, mereka adalah sebagai Gen Z yang sudah tidak mampu lagi untuk bertahan dengan segala keadaan, namun perasaan mereka terabaikan oleh keadaan masyarakat yang serba individualistik.
Inilah, cerminan dari terapkannya sistem yang rusak, bertentangan dengan fitrah manusia. Tegaknya sistem ini, telah menjadikan mental Gen Z terombang-ambing, oleh standar hidup yang tidak mungkin dapat mencapai kebahagian dan ketenangan.
Islam, Melahirkan Kebahagian
Sejatinya tujuan hidup manusia adalah mencari kebahagian dan ketenangan. Keduanya harus dicapai dengan jalan yang benar, supaya tidak terjebak dengan kebahagiaan yang palsu, yang menyengsarakan jiwa. Kebahagian yang benar, harus ditopang oleh aqidah yang benar. Yaitu yang mampu menghantarkan manusia kepada ketenangan, hal ini bisa dicapai apabila manusia menjadi Allah Swt sebagai tujuan. Aqidah Islam mempunyai cara khas untuk melihat kehidupan, Islam menjadikan dunia ini sebagai ajang manusia untuk meraih pahalahal ini sesuai dengan firam-Nya,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. 67:1-2).
Islam tidak menjadikan materi sebagai tujuan untuk meraih kebahagian, akan tetapi segala aktivitas manusia diikat oleh aturan Islam, supaya tidak meneruskan manusia kepada kemaksiatan, karena segala sesuatu yang bertentangan dengan Islam yang tidak akan pernah memberi mereka kebahagian, dan ketenangan.
Manusia, akan didorong untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi orang lain. Sehingga, tidak adak manusia yang individualistik. Aqidah Islam, telah mengikat sesama muslim bersaudara, jadi tidak akan seorang pun yang merasa sendiri, kesepian, menghadapi tekanan hidup.
Perlu diingat, ketika Islam berkuasa dalam sebuah negara sistem ekonomi, dan sistem pendidikan, menjadi hak dasar dasar rakyatnya. Sistem pendidikan, berdasarkan aqidah Islam, dan pendidikan yang berkualitas bukanlah sesuatu yang mustahil, sehingga, pendidikan Islam akan melahirkan generasi yang berkepribadian, dan pemikiran Islam yang cerdas, terhindar dari segala penyakit kesehatan mental, karena fondasi iman yang kuat. Ekonomi Islam, bertujuan untuk mengurusi segala kebutuhan hajat hidup orang banyak, yang akan mensejahterakan setiap individu.
Sistem ekonomi Islam, yang tidak akan pernah membuat rakyatnya tertekan oleh kebutuhan ekonomi ekonomi, karena diatur oleh syariat Islam. Dengan, adanya distribusi kekayaan, dan sumber daya alam yang dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyat. Wallahua'alam

Posting Komentar