-->

Gen Z, Antara Ekonomi dan Krisis Makna

Oleh : Mutafattihah
(Ibu Generasi)

Generasi yang tumbuh di era digital ternyata tidak hanya menghadapi tantangan dalam mencari pekerjaan dan penghasilan, akan tetapi juga berhadapan dengan budaya konsumtif yang menjadikan kesenangan sebagai pelarian.  Gen Z sebagai generasi yang paling terkoneksi: kreatif, cepat beradaptasi, berani mengikuti tren, dan selalu tahu bagaimana menikmati hidup. Namun, di balik unggahan penuh senyum, tren healing, dan budaya self-reward, ada kegelisahan yang tidak terlihat yaitu bagaimana memenuhi kebutuhan hidup ketika biaya terus meningkat, bagaimana bertahan di tengah tekanan ekonomi, dan untuk apa semua perjuangan itu dijalani? Ketika tekanan ekonomi bertemu dengan gaya hidup hedonis dan minimnya pemahaman tentang tujuan hidup, lahirlah persoalan yang jauh lebih dalam: Gen Z bukan hanya terhimpit secara ekonomi, tetapi juga terancam kehilangan arah.

Banyak generasi muda yang masih dibantu secara finansial oleh orang tua, fenomena itu sering kali cepat mendapat penilaian. Sebanyak 64 persen generasi muda dalam kelompok tersebut umumnya dibaca sebagai tanda lemahnya kemandirian. Padahal, jika ditelaah fenomena itu muncul dari beberapa hal di antaranya kondisi ekonomi yang berubah, kesiapan individu dalam mengelola keuangan, serta relasi keluarga yang memang memiliki karakter tersendiri, terutama di konteks Asia. Di Amerika Serikat, lebih dari separuh kelompok usia 18–34 tahun belum sepenuhnya mandiri secara finansial. Bahkan, hanya sebagian kecil yang benar-benar berada pada posisi independen penuh. (money.kompas.com, 3-5-2026)

Fakta lain berbicara, Gen Z yang masih tinggal bersama orang tua pun meningkat dan sempat mencapai titik tertinggi sejak masa Great Depression. Hal ini memberikan gambaran bahwa yang sedang berubah bukan sekadar sikap generasi, tetapi kondisi yang mereka hadapi sejak awal memasuki dunia kerja. Perubahan signifikan yang dialami cukup terlihat pada hubungan antara pemasukan dan biaya hidup. Dalam satu dekade terakhir, harga kebutuhan dasar (terutama perumahan) bergerak lebih cepat dibandingkan kenaikan upah, khususnya bagi pekerja muda.(money.kompas.com, 3-5-2026)

Terjebak Gaya Hidup, Terhimpit Ekonomi

Sistem kapitalisme yang lahir dari sekularisme (hidup tidak perlu diatur oleh agama), menciptakan tekanan ekonomi yang menghimpit Gen Z di mana biaya hidup terus naik sementara gaji yang didapat setiap bulan stagnan. Negara terlihat lepas tangan dari kewajibannya yaitu menjamin kebutuhan dasar rakyat berupa kebutuhan primer (sandang, pangan, dan papan), sehingga generasi muda berjuang sendiri di tengah sengkarutnya kehidupan. Ironisnya, pengeluaran untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru semakin meningkat. Mengapa demikian? Karena aktifitas ini dianggap bukan lagi sebagai kemewahan tetapi sebagai kebutuhan emosional.

Persoalan pun tidak berhenti pada kondisi ekonomi, sistem kapitalisme yang menjadikan pertumbuhan ekonomi dan keuntungan sebagai orientasi utama menciptakan tekanan bagi masyarakat. Tekanan ekonomi itu diperparah oleh gaya hidup sekuler-liberal yang menjadikan self-reward, healing, dan konsumsi hedonis sebagai "solusi" pelarian. Media sosial yang ada terus merusak generasi dengan tren popular yang memicu FOMO (fear of missing out) dan budaya belanja impulsif. Biaya kebutuhan hidup terus meningkat, di sisi lain banyak anak muda menghadapi pekerjaan yang tidak memberikan jaminan  kesejahteraan. 

Disadari atau tidak, bahwa di balik itu semua ada krisis yang lebih dalam, yakni Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya sehingga kebahagiaan diukur dari kenikmatan materi sesaat, bukan rida Allah dan kemuliaan Islam. Dalam kondisi seperti ini, individu akhirnya dituntut untuk bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Negara seolah cukup berperan sebagai regulator, sementara pemenuhan kebutuhan masyarakat diserahkan kepada mekanisme pasar yang pelik. Akibatnya, generasi muda harus berjuang menghadapi mahalnya pendidikan, kebutuhan tempat tinggal, kesehatan, hingga kebutuhan hidup lainnya. Tekanan tersebut kemudian bertemu dengan gaya hidup sekuler-liberal yang menjadikan kebahagiaan semakin identik dengan kesenangan dan konsumsi. Istilah seperti self-reward dan healing terus dipopulerkan sebagai jawaban atas stres dan kejenuhan.

Persoalan Gen Z sesungguhnya tidak hanya terletak pada ekonomi dan gaya hidup, persoalan yang jauh lebih mendasar yaitu krisis makna dan tujuan hidup. Ketika manusia tidak memiliki pemahaman yang benar tentang alasan dirinya hidup, maka kebahagiaan mudah diukur berdasarkan materi. Kesuksesan dinilai dari jumlah penghasilan, barang yang dimiliki, tempat yang dikunjungi, atau pengakuan yang diperoleh di media sosial. Akhirnya, ketika materi tidak mampu memberikan kebahagiaan yang diharapkan, manusia kembali mencari pelarian dalam bentuk konsumsi, hiburan, dan kesenangan lainnya yang bersifat materialistik duniawi. 

Islam memiliki pandangan yang berbeda tentang kehidupan, manusia tidak diciptakan sekadar untuk mengejar materi dan kesenangan dunia. Allah Swt. berfirman, "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat tersebut memberikan paradigma yang jelas bahwa kehidupan manusia memiliki tujuan, yaitu beribadah kepada Allah Swt. Dengan pemahaman tersebut, kebahagiaan tidak semata-mata diukur dari banyaknya harta atau kenikmatan dunia, tetapi dari keberkahan hidup dan keridaan Allah semata.

Islam Menata Ekonomi dan Kehidupan

Khilafah menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan sumber daya alam dan memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki, sehingga rakyat termasuk Gen Z tidak akan berjuang sendiri. Dalam perspektif Islam, negara memiliki tanggung jawab besar dalam menjamin kebutuhan dasar rakyat (sandang, pangan, dan papan). Konsep negara dalam Islam tidak dibangun atas prinsip membiarkan rakyat menghadapi persoalannya sendiri. Dalam konstruksi Khilafah yang menjadi gagasan politik dalam tradisi pemikiran Islam, pengelolaan sumber daya alam ditempatkan untuk kemaslahatan rakyat. Negara juga memiliki tanggung jawab menciptakan kondisi yang memungkinkan masyarakat memperoleh kebutuhan hidup secara layak.

Lapangan pekerjaan juga menjadi bagian penting, Islam memberikan tanggung jawab kepada laki-laki yang mampu untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarganya. Sementara negara berperan memastikan adanya mekanisme ekonomi yang memungkinkan kewajiban tersebut dapat dijalankan. Dengan demikian, generasi muda tidak semata-mata dibebani tanggung jawab individual untuk menyelesaikan persoalan ekonomi. 

Negara hadir sebagai pihak yang bertanggung jawab mengurus urusan rakyat. Islam juga memiliki pandangan terhadap pembentukan budaya, media dan sistem pendidikan seharusnya tidak sekadar menjadi sarana hiburan dan komersialisasi, tetapi menjadi sarana membangun kepribadian, ilmu dan ketakwaan. Generasi muda perlu dilindungi dari berbagai konten yang mendorong perilaku konsumtif, hedonis, dan menjauhkan manusia dari tujuan penciptaannya. Bukan berarti Islam menolak teknologi, hiburan, atau kenikmatan dunia, tetapi semuanya ditempatkan dalam batas yang sesuai dengan syariat agar keberkahan didapat.

Khatimah

Gen Z membutuhkan lebih dari sekadar pekerjaan dan penghasilan, mereka membutuhkan visi hidup.
Ketika akidah menjadi landasan, tekanan kehidupan tidak otomatis membuat seseorang kehilangan arah. Kesuksesan tidak hanya diukur berdasarkan pencapaian duniawi, tetapi juga berdasarkan kontribusi dan amal yang membawa manusia semakin dekat kepada Allah. Generasi muda pun dapat diarahkan menjadi generasi pembangun peradaban, generasi yang berilmu, bertakwa, produktif, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat. Karena itu, solusi terhadap problem Gen Z tidak cukup hanya dengan mengajarkan cara mengatur keuangan, mengurangi FOMO, atau mengendalikan belanja impulsif. Persoalan tersebut perlu dilihat secara lebih mendasar: bagaimana sistem ekonomi, budaya, pendidikan, dan paradigma kehidupan membentuk cara generasi muda memandang dirinya dan dunia?

Islam menawarkan paradigma bahwa manusia adalah hamba Allah yang memiliki tujuan hidup yang jelas. Negara memiliki tanggung jawab mengurus rakyat, sementara masyarakat dan individu diarahkan untuk menjalani kehidupan sesuai syariat. Dengan paradigma tersebut, Gen Z tidak lagi sekadar menjadi generasi yang bertahan di tengah tekanan zaman, tetapi dapat tumbuh menjadi generasi yang memiliki visi, ketangguhan, dan cita-cita besar untuk membangun peradaban yang mulia. Allahua’lam Bishawab.