ASI dan Penyelamatan Lingkungan dari Ancaman Emisi Global
Oleh : Mega Budiwati, Aktivis Muslimah
Krisis iklim global saat ini telah mendorong manusia untuk mencari berbagai jalan keluar ekologis, mulai dari transisi energi hingga penghematan sumber daya alam. Namun, jauh sebelum sains modern menyadarkan dunia akan bahaya jejak karbon dan tumpukan limbah industri, Islam telah memberikan tuntunan alamiah yang berdampak luas bagi kelestarian bumi: perintah menyusui.
Sayangnya, di era kapitalisme sekuler saat ini, menyusui tidak lagi dipandang sebagai aktivitas yang mulia. Sistem yang mengagungkan materialisme ini mereduksi nilai seorang perempuan sebatas angka produktivitas ekonomis di pasar kerja.
Aktivitas menyusui dan mengasuh anak kerap distigmatisasi sebagai urusan domestik yang menyita waktu, kurang produktif, bahkan diposisikan sebagai penghambat karier. Padahal, Allah SWT telah menetapkan kedudukan mulia serta aturan yang rinci mengenai menyusui dalam Al-Qur'an:
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ
"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan..." (QS. Al-Baqarah: 233).
Tuntunan syariat selama dua tahun ini ternyata mengandung hikmah ekologis yang sangat besar. Ketika Islam memerintahkan pemberian ASI secara penuh, secara tidak langsung syariat sedang mengajarkan pola hidup yang menyatu dengan alam. ASI adalah nutrisi alami yang diproduksi tanpa mengekstraksi tanah, tanpa bahan kimia industri, serta minim atau nol limbah.
Rasulullah SAW juga mempertegas keutamaan ASI bagi seorang bayi melalui sabdanya:
لَيْسَ لِلصَّبِيِّ لَبَنٌ خَيْرٌ مِنْ لَبَنِ أُمِّهِ
"Tidak ada air susu bagi seorang bayi yang lebih baik daripada air susu ibunya sendiri." (HR. Al-Baihaqi)
Sebaliknya, kapitalisme sekuler mendorong komersialisasi susu formula secara masif hingga menggeser posisi ASI demi mengejar keuntungan korporasi. Ketergantungan pada industri susu buatan ini terbukti membebankan lingkungan hidup. Sains mencatat, memproduksi satu kilogram susu bubuk membutuhkan sekitar 4.700 liter air serta menyerap energi besar untuk sterilisasi. Rantai pasokan globalnya menyumbang emisi karbon tinggi, dan menyisakan ratusan ribu ton sampah kaleng, logam, serta kertas di tempat pembuangan akhir setiap tahunnya.
Menjalankan syariat menyusui sejatinya adalah bentuk pelaksanaan peran manusia sebagai khalifah fil ardh pemimpin yang memakmurkan dan menjaga bumi dari kerusakan. Menyusui selama enam bulan saja terbukti mampu menghemat 95 hingga 153 kg CO₂e per bayi, yang jika diterapkan secara luas setara dengan memangkas emisi puluhan ribu kendaraan dari jalan raya.
Oleh karena itu, mengembalikan kesadaran akan pentingnya menyusui bukan sekadar urusan kesehatan pribadi, melainkan bagian dari perlawanan terhadap budaya konsumtif kapitalistik yang merusak alam. Pemerintah dan masyarakat wajib menyediakan ruang yang aman, hak maturitas yang memadai, serta lingkungan kerja yang mendukung agar para ibu dapat menjalankan kewajiban syariat ini dengan tenang.
Di saat kapitalisme sekuler mengukur segala sesuatu dengan materi dan mengabaikan kerusakan ekologis, hanya Islam yang mampu menyelaraskan ibadah, kemuliaan perempuan, dan kelestarian lingkungan hidup. Ibu menyusui adalah pahlawan peradaban yang sejati. Dari usahanya yang tulus, lahir generasi manusia yang sehat secara fisik dan jiwa, sekaligus tercipta perlindungan ekologis bagi keberlangsungan bumi.

Posting Komentar