-->

Perundungan Pasien BPJS, Sistem Kesehatan Nirempati


Oleh : Anisyah Hapsari

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah mendalami komentar tidak berempati yang diduga disampaikan tenaga kesehatan kepada pasien BPJS Kesehatan di media sosial. Pemerintah belum memutuskan sanksi dan masih menunggu hasil investigasi.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan tim Inspektorat Jenderal Kemenkes telah diminta untuk melakukan audit untuk mengetahui status serta pelanggaran yang dilakukan oleh pihak terkait. Hasil investigasi ditargetkan keluar dalam pekan ini. 

Kasus ini bermula dari unggahan Yurizal Tri Haerawan di platform Threads pada 22 Juli 2026. Yurizal mengungkapkan keletihannya setelah menunggu selama delapan jam di sebuah rumah sakit tanpa mendapatkan ruang perawatan. Unggahan tersebut kemudian mendapat sejumlah komentar yang dinilai tidak pantas. Beberapa komentar disebut berasal dari akun yang diduga milik tenaga medis atau dokter. 

Peristiwa itu memicu kemarahan publik, sejumlah tenaga kesehatan dan dokter yang komentarnya menjadi sorotan kemudian menyampaikan permintaan maaf serta klarifikasi melalui media sosial. 

"Budi mengatakan Kemenkes masih memeriksa status pihak-pihak yang terlibat, termasuk apakah mereka merupakan pegawai atau masih berstatus sebagai pelajar. Sekarang tim dari Irjen sudah saya minta untuk turun mengaudit. Harusnya dalam minggu ini sudah ada hasilnya, " ujar Budi dalam tayangan Metro Hari Ini,Metro TV, Jumat 07 Agustus 2026.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris menilai setiap pasien berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang manusiawi dan penuh empati. Ia mengatakan, apabila terbukti melanggar kode etik profesi, pihak yang bersangkutan perlu mendapatkan pembinaan dan sanksi etik sesuai ketentuan. 

"Jika nantinya terbukti para pelaku melanggar kode etik profesi, saya berharap ada pembinaan dan sanksi etik yang tegas sesuai dengan ketentuan yang berlaku," kata Charles. 

Charles juga menilai kasus tersebut menjadi gambaran bahwa kapasitas pelayanan kesehatan di Indonesia masih menghadapi sejumlah persoalan. Menurutnya ketersediaan fasilitas dan tenaga kesehatan di berbagai daerah masih belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan masyarakat. 

Sementara itu, Yurizal kini telah meninggal dunia. Kasus komentar nirempati tersebut masih dalam proses pendalaman Kementerian Kesehatan untuk menentukan langkah selanjutnya, termasuk kemungkinan sanksi terhadap pihak yang terbukti melakukan tindakan pelanggaran. 

Kasus Yang Terus Terulang

Dari apa yang dipaparkan di atas menunjukkan bahwasanya rusaknya sistem pelayanan kesehatan negeri ini. Yang mana seharusnya seorang yang bertugas dalam bidang kesehatan memiliki rasa empati yang tinggi,berbanding terbalik dengan apa yang terjadi saat ini. 

Kasus-kasus seperti yang terjadi belum lama ini bukan pertama kalinya terjadi. Ada beberapa faktor yang menyebabkan mengapa kasus seperti ini terus terjadi, diantaranya:

* Buruknya sistem birokrasi, sistem birokrasi yang terlalu bertele - tele membuat pasien yang seharusnya segera ditangani malah terlambat untuk mendapatkan penanganan bahkan tak jarang sampai merenggang nyawa. Hal ini sering terjadi pada pasien BPJS yang mana pasien tersebut harus menunggu persetujuan dari pihak Rumah Sakit terlebih dahulu baik untuk mendapatkan kamar rawat inap maupun tindakan medis,karena terbatas akses kesehatan bagi pasien BPJS. 
* Kesehatan di pandang sebagai nilai ekonomi, dalam sistem yang diterapkan di negeri ini kesehatan dipandang sebagai nilai materi yang dapat diperjual belikan. Bahkan ada slogan "orang miskin dilarang sakit",karena mahalnya akses kesehatan, ada uang untuk membayar kamu dapat dilayani, kalau tidak mampu membayar ya harus antri untuk pelayanan kesehatan menggunakan BPJS yang memiliki birokrasi ribet dan respon yang lambat. 
* Hilangnya rasa empati tenaga medis, di era sekarang banyak kita jumpai tenaga medis ketika melayani mempunyai rasa empati yang rendah. Ini terjadi karena sistem pendidikan yang diterapkan. Di sekolah ataupun di kampus mereka hanya diajarkan teori dan praktek tanpa dibekali aqidah dan ahlak yang mulia,sehingga tidak heran tenaga medis saat ini banyak yang memiliki kerendahan empati. 

Inilah gambaran gagalnya pemerintah dalam menjamin kesehatan rakyatnya. Ini terjadi karena sistem rusak (kapitalis) yang diterapkan,dimana hanya akan menghasilkan kesengsaraan dan ketidakadilan bagi rakyatnya. Butuh sistem yang sempurna yang mampu menyelesaika persoalan seperti ini hingga ke akarnya. Lalu sistem seperti apa yang mampu mengatasinya? Jawabannya adalah sistem Islam. 

Sistem Islam

Dalam sistem Islam permasalahan kesehatan adalah tanggung jawab negara sepenuhnya. Karena dalam sistem Islam negara yakni Khilafah bertugas sebagai raa'in bagi rakyatnya yang menjamin setiap kebutuhan dasarnya seperti sandang, papan, pangan, pendidikan, maupun kesehatan. 

Dalam Islam kesehatan dapat akses secara gratis dan di rasakan oleh setiap lapisan masyarakat baik yang mampu maupun yang kurang mampu. Dalam Islam akses kesehatan semua di biayai oleh negara sepenuhnya yang sumber dananya dari baitul mal,berbeda dengan sistem sekarang dimana menggunakan sistem gotong royong dimana orang yang sehat membiayai orang yang sakit, negara hanya bertindak sebagai pelaksana birokrasi saja. 

Dalam Islam, pendidikan memiliki tujuan tidak hanya pandai dalam teori dan praktek, namun memiliki aqidah dan ahlak yang mulia. Dengan begitu sistem pendidikan Islam akan mampu melahirkan generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang Islami. Jadi tidak mungkin akan mendapati sikap atau kepribadian individu yang cacat atau nirempati seperti kepribadian generasi negeri saat ini. 

Inilah gambaran apabila diterapkan sistem Islam yang mana hanya akan mendatangkan kemaslahatan dan keberkahan bagi siapa saja yang bernaung di bawah sistem Islam, sehingga tidak mungkin terjadi kasus dimana rakyat kehilangan nyawa akibat lambat nya penanganan. 

Wallahu'alam bishawab