Pergaulan Bebas Dan HIV, Ancaman Nyata Bagi Generasi Muda
Oleh : Nina Rohana
Masa muda seharusnya penuh harapan, tapi pergaulan bebas membuat banyak remaja justru terjerat HIV. Hal ini bukan lagi isu jauh melainkan darurat yang ada di sekitar kita. Generasi muda yang merupakan penerus peradaban bangsa, kini terancam rusak dan binasa.
Kementerian Kesehatan mengatakan, peningkatan jumlah kasus HIV di Kabupaten Sidoarjo menunjukkan keberhasilan perluasan layanan deteksi dini, sehingga semakin banyak masyarakat mengetahui status HIV-nya dan dapat segera memperoleh pengobatan, merespons tingginya perhatian publik terhadap penemuan tersebut.
Berdasarkan data situasi HIV Kabupaten Sidoarjo, sejak tahun 2001 hingga Juni 2026 telah ditemukan 1.183 kasus HIV secara kumulatif pada kelompok usia 0-24 tahun. Peningkatan jumlah kasus yang ditemukan dari tahun ke tahun berlangsung seiring dengan semakin luasnya cakupan layanan tes HIV di fasilitas pelayanan kesehatan, rumah sakit, puskesmas, klinik, maupun layanan berbasis komunitas.
Dengan demikian, peningkatan angka penemuan kasus tidak dapat dimaknai secara langsung sebagai peningkatan penularan, melainkan juga mencerminkan semakin efektifnya upaya deteksi dini yang dilakukan pemerintah bersama berbagai mitra. (Antara, 26/7/2026)
Pernyataan seperti ini jelas adalah bentuk gagal paham terhadap problem yang ada. Salah dalam membaca masalah dan gagal dalam mendefinisikan akar masalah, maka solusi yang ditawarkan pun menjadi problematik, tidak akan benar-benar solutif.
Seperti halnya Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak yang menilai pendidikan seksual sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah perilaku seksual berisiko yang dapat berujung pada penularan HIV/AIDS. Menurut Emil, pendidikan seksual masih kerap dianggap tabu. Padahal, edukasi tersebut diperlukan agar anak memahami risiko pergaulan bebas sejak usia dini. (Kompas.com, 25/7/2026)
Pencegahan yang ditawarkan seperti edukasi seksual dan safe sex, hal tersebut tidak menyentuh akar masalah. Edukasi seksual sekuler, yang memisahkan peran agama dalam kehidupan, hanya berfokus pada dampak kesehatan medis, seperti pencegahan penyakit menular atau kehamilan tak diinginkan.
Tingginya kasus HIV pada remaja mencerminkan rusaknya sistem sosial akibat penerapan sistem sekuler kapitalisme yang menjauhkan agama dari kehidupan. Perilaku hidup bebas tanpa aturan menyebabkan berbagai kerusakan.
Untuk mencegah HIV pada pelajar, Islam membangun sistem pergaulan sosial yang preventif melalui Sistem Pergaulan dalam Islam (Nizam AI Ijtima’i), yaitu melalui aturan menjaga pandangan, larangan mendekati zina, memakai pakaian syar'i, dan mengatur pernikahan serta sanksi/uqubat bagi pelaku pelanggaran hukum syara'.
Selain itu, juga penerapan sistem pendidikan Islam yang mengintegrasikan materi kesehatan reproduksi dengan ilmu fiqih pergaulan dan akhlak, sehingga pelajar memahami bahwa menjaga kesehatan organ reproduksi adalah bagian dari ibadah dan amanah Ilahi, dan menyadari bahwa setiap perbuatannya akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah.
Semua itu bisa terwujud dengan adanya sinergi 3 pilar dalam mewujudkan generasi yang selamat dari ancaman HIV/ pergaulan bebas, yaitu dengan adanya peran keluarga, lingkungan masyarakat dan sekolah, serta negara. Wallahu a'lam

Posting Komentar