Mewujudkan Kemerdekaan Hakiki
Oleh : Ida Nurchayati
Tanggal 17 Agustus 2026, Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan yang ke 81. Tahun ini mengambil tema "Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur". Usia yang sudah tidak lagi muda. Namun tema yang diangkat dan fakta masih jauh panggang dari api. Indonesia masih menyimpan banyak masalah, dari permasalahan politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan hingga sosial budaya.
Dibidang ekonomi, rakyat masih jauh dari sejahtera, kesenjangan dan kemiskinan masih menganga. Pendidikan dan kesehatan masih menjadi komoditi mahal, yang tidak semua rakyat bisa menikmati. Dibidang politik, bagi-bagi kursi dan transaksi terjadi dielit politik dan penguasa, korupsi makin tak terkendali. Corruption Perceptions Index (CPI) Indonesia 2025 yang resmi dirilis oleh lembaga Transparency International pada 10 Februari 2026, berada pada 34 dari skor 100, diperingkat 109 dari 180 negara.
Dibidang sosial budaya, tak kalah memprihatinkan. Sinkretisme, sekulerisme, nasionalisme, liberalisme semakin membudaya. Pergaulan bebas, aborsi hingga fenomena boti-boti makin eksis, angka pembunuhan dan bunuh diri meningkat. Pertanyaannya, sudahkah kita meraih kemerdekaan yang sesungguhnya?
Hegemoni Kapitalisme Global
Meski secara fisik Indonesia sudah merdeka, penjajah sudah hengkang, namun ideologi dan pemikiran penjajah masih tertinggal, bahkan dipertahankan. Sistem politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial budaya hingga politik luar negeri masih menggunakan warisan penjajah.
Meski mayoritas penduduknya muslim, negara kita justru menerapkan sistem sekuler, kapitalisme dan demokrasi peninggalan penjajah.
Barat menanamkan agen atau antek-anteknya di negeri-negeri kaum muslim, termasuk Indonesia. Antek-antek ini dipelihara Barat untuk menjaga dan melayani kepentingan mereka, sekaligus melaksanakan strategi penjajah.
Dibidang politik, penjajah telah menghancurkan institusi pemersatu umat, yakni kekhilafahan dan memecah belah umat menjadi lebih dari 50 negara dengan bendera berbeda.
Penjajah menggunakan anteknya untuk menjaga dan mempertahankan sistem sekuler kapitalisme demokrasi dan menggebuk siapa saja yang ingin mengembalikan kehidupan Islam dalam bingkai syariah kaffah.
Dibidang ekonomi, atas nama investasi, penanaman modal asing, multinational corporation, asing dengan leluasa mengeruk sumber daya alam, sekaligus ikut merancang strategi pembangunan dinegeri kaum muslim, termasuk Indonesia. Penjajah memberi pinjaman berbasis ribawi melalui lembaga moneter internasional seperti Bank Dunia dan IMF. Penjajah juga menjadikan negeri kaum muslim sebagai pangsa pasar potensial.
Dibidang militer, penjajah Barat memastikan kendali geopilitik berada dalam cengkeramannya.Inilah bentuk penjajahan gaya baru, neoimperialisme dan neokolonialisme, bentuk penjajahan yang terselubung yang masih dan tetap eksis hingga hari ini. Bangsa yang terjajah tidak merasa dijajah.
Mewujudkan Kemerdekaan Hakiki
Merdeka secara fisik layak dan patut disyukuri. Namun bentuk syukur tersebut tidak berhenti pada level ini, harus ditumbuhkan kesadaran pada diri kaum muslim, agar bangsa ini meraih kemerdekaan hakiki, yakni membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan kepada manusia, hanya menghamba pada Allah SWT.
Selama negara kita menerapkan sistem sekuler demokrasi, yang terjadi adalah bentuk penjajahan yang kuat terhadap yang lemah, pemilik modal menjajah kaum buruh. Oleh karena itu harus ada upaya merubah mafahim (pemahaman), maqoyis (standar) dan qanaat (kayakinan) dari akidah sekuler menuju akidah Islam, dari kapitalisme menuju sistem Islam, dari asas manfaat menuju halal dan haram.
Umat juga harus memiliki mafahim siyasi sehingga bisa membongkar setiap manuver-manuver, strategi dan rancangan penjajah untuk kaum muslim. Harus ada upaya memutus kepercayaan umat pada penguasa yang merupakan antek atau boneka asing.
Bangsa ini akan bangkit meraih kemerdekaan hakiki ketika menyadari bahwa penyebab segala persoalan yang kita hadapi karena kita berpaling dari aturan Allah, dan menerapkan sekuler kapitalisme.
Bangsa ini juga harus memahami kondisi ideal yang ingin dituju, yakni melanjutkan kehidapan Islam, sistem pemerintahan warisan Baginda Nabi. Sistem yang sudah terbukti mampu mewujudkan kemandirian umat Islam, menyejahterakan, dan memberi rasa keadilan bagi seluruh rakyat. Sistem yang akan membebaskan Umat Islam dari hegemoni penjajah Barat, baik dibidang politik, militer, ekonomi, politik dalam dan luar negeri, dan sosial budaya.
Untuk mengubah masyarakat jahiliyah modern menjadi masyarakat Islam harus ada upaya dakwah berjamaah dibawah kepemimpinan partai politik ideologis yang berjuang bersama umat, dan bergerak ditengah-tengah umat untuk membina dan menaikkan taraf berpikir umat menuju level mustanir atau cemerlang.
Harus ada upaya penyadaran bahwa Islam turun untuk membebaskan manusia dari kezaliman manusia dan agama lain menuju keadilan dan cahaya Islam. Hanya dengan penerapan Islam kaffah, akan mengantarkan pada kemerdekaan hakiki.
Penerapan Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah akan mengantarkan bangsa ini menjadi negara adi daya yang mandiri, berdaulat, adil dan makmur. Lebih dari itu, semua itu adalah bentuk ketaatan pada Allah, yang pasti akan memberi kebaikan dan menebarkan rahmat bagi seluruh alam dan selamat kelak di akhirat, masuk surga-Nya Allah SWT.
Wallahu a'lam

Posting Komentar