-->

Islam Mampu Mewujudkan Layanan Kesehatan Terbaik dan Gratis

Oleh : Ida Nurchayati

Nirempati, ungkapan yang layak dalam kasus kapitalisasi kesehatan bagi peserta BPJS. Yurizal Tri Chaerawan, seorang pasien BPJS berkeluh kesah via platforn Threads pada 22 Juli 2026, saat menunggu di IGD selama 8 jam. Dalam unggahan tersebut, ia tidak mencantumkan nama rumah sakitnya. Unggahannya dibanjiri komentar, termasuk komentar yang nirempati, belakangan diketahui ternyata para tenaga kesehatan. Pada 31 Juli 2026, Yulizar dikabarkan wafat, menurut kerabatnya, karena terlambat mendapat penanganan lebih dalam (cnnindonesia.com, 8/8/2026). 

RSCM merupakan rumah sakit rujukan nasional memiliki kapasitas ruang perawatan terbatas, sehingga pasien harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan ruang perawatan.
Sejumlah tenaga kesehatan dan dokter yang komentarnya menjadi sorotan publik kemudian menyampaikan permintaan maaf serta klarifikasi melalui media sosial.

Kapitalisasi Kesehatan

Layanan kesehatan merupakan kebutuhan dan hak mendasar bagi rakyat yang harus dijamin negara. Namun, dalam sistem kapitalisme, kesehatan dikomersialisasi dan dipandang sebagai komoditas ekonomi untuk meraih keuntungan. Fasilitas medis, obat-obatan, dan tenaga kesehatan dikelola menggunakan prinsip pasar bebas, persaingan usaha, serta berorientasi profit yang maksimal.

Dalam sistem kapitalisme, negara berfungsi sebagai regulator atau pengatur bukan pelayan, maka pembiayaan kesehatan diserahkan pada konsumen melalui mekanisme pasar, asuransi komersial, atau iuran jaminan sosial. Fasilitas kesehatan bisa diprivatisasi dan diserahkan kepada sektor swasta. Ketika layanan kesehatan diserahkan pada swasta, maka bisa dipastikan kesehatan menjadi mahal karena swasta biasanya berorientasi profit.

 Pemerintah sering kali melepas tanggung jawab pembiayaan kesehatan gratis, sehingga rakyat harus menanggung biayanya sendiri. Hanya yang berduit yang bisa menikmati layanan kesehatan yang baik, hingga muncul adagium, "si miskin dilarang sakit"

Komentar nirempati para dokter dan tenaga kesehatan indikasi bahwa individu-individu dalam sistem kapitalis bersifat individualis, miskin simpati dan empati. Individu seperti ini lahir dari sistem pendidikan sekuler yang berorientasi menghasilkan manusia siap kerja, berorientasi memperoleh materi dan keuntungan, namun alpha membangun kepribadiannya. Indikasi gagalnya sistem pendidikan sekuler membentuk kepribadian yang tinggi.

Sistem Kesehatan Islam

Islam memandang seorang penguasa adalah pelayan rakyat, sebagaimana sabda Nabi SAW,

"Seorang imam atau pemimpin adalah raa'in (pelayan) dan ia bertanggung jawab atas rakyat atau orang yang dipimpinnya". (HR Bukhari dan Muslim).

Sebagai pelayan, maka penguasa harus bertanggungjawab bahwa setiap rakyatnya terpenuhi kebutuhan pokoknya, baik kebutuhan pokok individu (sandang, pangan, papan), maupun komunal (pendidikan, kesehatan, keamanan dan infrastruktur).

Kesehatan merupakan kebutuhan pokok komunal yang dijamin oleh negara. Rakyat berhak mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik dan gratis.

Sistem kesehatan dalam Islam bisa memberi layanan terbaik dan gratis karena pendanaan didukung Baitulmal. Pemasukan Baitulmal sangat banyak, terutama pemasukan dari kepemilikan umum, seperti hasil tambang yang jumlahnya melimpah, migas, hasil kelautan, hasil hutan dan sebagainya.

Sejarah mencatat, pada masa Dinasti Abasiyah, terdapat rumah sakit umum, seperti Rumah Sakit Qalawun di Kairo yang menyediakan layanan kesehatan terbaik secara gratis. Bahkan ketika pasien sudah sembuh dan pulang masih diberi uang saku, agar bisa bertahan hidup ketika belum mampu bekerja.

Para dokter dan tenaga kesehatan memberikan pelayanan terbaik, ramah dan manusiawi. Tenaga kesehatan merupakan individu yang berkepribadian Islam sebagai hasil sistem pendidikan Islam yang berlandaskan pada akidah Islam, dan berorientasi membentuk kepribadian Islam. Manusia yang memiliki keimanan dan ketakwaan tinggi yang meyakini bahwa setiap perbutannya akan diminta pertanggungjawaban dari Allah SWT.

Layanan kesehatan terbaik dan gratis, dengan didukung tenaga kesehatan yang humanis akan terwujud dalam sistem Islam yang menerapkan Islam secara kaffah.

Wallahu a'lam