-->

Mengurai Benang Kusut Perpajakan, Mengapa Ketegasan Harus Berjalan Bersama Keadilan?


Oleh : Ihsaniah Fauzi Mardhatillah, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok 

Pernahkah Anda mendengar wacana atau berita tentang dilibatkannya aparat dalam urusan pemungutan pajak? Bagi sebagian besar dari kita, reaksi pertamanya mungkin sama: bingung, heran, atau bahkan muncul pertanyaan mendasar, "Mengapa urusan pajak harus sampai melibatkan instrumen penegakan hukum?"

Pajak pada hakikatnya adalah napas pembangunan nasional, sementara dinas perpajakan adalah pengelolanya. Ketika sebuah negara mulai menggandeng aparat penegak hukum untuk mengawal hingga mengejar target penerimaan negara, kita tidak bisa lagi bersikap acuh. Ini bukan sekadar isu administratif, melainkan sinyal pengingat yang tegas: ada hal mendasar yang perlu dievaluasi dalam sistem keuangan dan fondasi kepercayaan negara kita.

Maksud di Balik Langkah yang Diambil
Di satu sisi, langkah melibatkan aparat mungkin dipandang sebagai jalan pintas untuk menegakkan kedisiplinan dan mencapai target penerimaan negara yang kian meningkat. Ketegasan memang diperlukan dalam bernegara, terutama untuk menindak pihak-pihak yang sengaja berbuat curang atau menghindari kewajiban.

Namun, ketegasan yang keliru arah berisiko berubah menjadi tindakan represif. Pendekatan berbasis ketakutan jarang sekali melahirkan kepatuhan yang bertahan lama. Dunia usaha dan masyarakat yang merasa terusic oleh bayang-bayang intimidasi justru bisa menjadi pasif, enggan berekspansi, atau bahkan kehilangan daya dorong ekonomi yang amat dibutuhkan negara.

Mengapa Rakyat Enggan?

Menggunakan instrumen penindakan untuk mengejar target pajak ibarat mengobati gejala luar tanpa menyembuhkan penyakit utamanya. Kita harus berani jujur melihat mengapa tingkat kepatuhan atau kesadaran pajak masih belum ideal. 

Pertama, aturan yang rumit dan berubah-ubah. Kebijakan yang terlalu birokratis sering kali menyulitkan masyarakat yang sebenarnya berniat taat. Ketika prosesnya membingungkan, kepatuhan pun tertunda. Kedua, fondasi kepercayaan (trust) yang teruji: Keikhlasan membayar pajak tumbuh dari keyakinan, setiap rupiah uang rakyat dikelola secara transparan dan berintegritas. Jika masyarakat masih menyaksikan kebocoran atau penyalahgunaan anggaran, rasa enggan itu adalah reaksi yang wajar.

Ketiga, pentingnya keadilan yang nyata. Pajak harus dirasakan adil. Pihak yang besar menanggung porsi yang proporsional, sementara pelaku usaha kecil dilindungi agar dapat tumbuh.

Ketegangan dalam pemungutan pajak bukanlah isu kekuasaan, melainkan isu kepercayaan. Dan kepercayaan tidak pernah bisa dibangun melalui paksaan.

Waktunya Berbenah dengan Bijaksana
Momen ini seharusnya menjadi cermin besar bagi para pengambil kebijakan. Ketimbang memperbesar ruang penindakan di lapangan, ada langkah-langkah yang jauh lebih bermartabat dan berdampak panjang untuk mereformasi sistem yakni sederhanakan dan transparansikan sistem. Buat regulasi yang mudah dipahami dan diakses oleh siapa saja. Transparansi adalah obat terbaik untuk menghilangkan kecurigaan.

Ditambah juga, tunjukkan hasil nyata pengelolaan. Buktikan, hasil pajak kembali secara konkrit kepada masyarakat melalui fasilitas publik yang layak, kesejahteraan yang merata, dan penegakan hukum yang bersih. Kemudian, dudukkan wajib pajak sebagai mitra. Pendekatan negara harus bergeser dari sekadar "menagih" menjadi "merangkul dan mengedukasi". Wajib pajak adalah penopang keberlangsungan negara, bukan pihak yang harus terus menerus dicurigai.

Kebijakan yang kuat tidak diukur dari seberapa menakutkan cara penindakannya, melainkan seberapa adil dan bijaksana sistem yang dibangunnya. Melibatkan aparat mungkin memberi hasil instan dalam jangka pendek, tetapi tidak akan pernah menyelesaikan persoalan sistemik.

Sudah saatnya kita melangkah lebih dewasa dalam mengelola keuangan negara. Pajak yang sehat lahir dari rasa memiliki dan kepercayaan yang saling menguatkan antara negara dan rakyatnya bukan dari ketakutan, melainkan dari kesadaran bersama demi masa depan yang lebih baik.[]