-->

Konstelasi Politik Dunia, Dominasi AS dan Potensi Kebangkitan Umat Islam


Oleh : Nurhasanah, Aktivis Muslimah

Pemerintahan Donald Trump pada 2026 kembali mengguncang dunia melalui kebijakan tarif impor 10–12,5% terhadap 60 negara serta perjanjian nuklir sipil dengan Arab Saudi yang memicu kekhawatiran Israel. Di dalam negeri, kebijakannya juga menuai protes. 

Secara keseluruhan, kebijakan Trump pada 2026 menunjukkan pendekatan yang agresif dalam memperkuat kepentingan AS, tetapi sekaligus memicu ketegangan diplomatik, ketidakpastian ekonomi, dan penolakan domestik. (Sekolapedia, 24 Juli 2026)

Kondisi Dalam Negeri dan Luar Negeri AS

Kondisi AS di dalam negeri diwarnai ketegangan sosial akibat kebijakan deportasi, tekanan ekonomi akibat tarif impor, serta suku bunga The Fed di level 3,6%. Protes di sejumlah wilayah mendorong pengamanan lebih ketat, sementara keterlibatan AS dalam konflik Timur Tengah memicu sorotan publik dan Kongres.

Di luar negeri, eskalasi konflik Timur Tengah, serangan bersama Arab Saudi terhadap target di Iran dan milisi pro-Iran di Irak, serta ancaman terhadap jalur pelayaran mendorong harga minyak menembus USD90 per barel. Kebijakan tarif baru dan pembatasan penggunaan robot buatan asing juga memperkuat ketegangan perdagangan AS, terutama dengan Cina.

Reaksi Masyarakat AS terhadap Kebijakan Pemerintah

Reaksi masyarakat AS terhadap kebijakan Donald Trump terbelah tajam. Sekitar 62% warga tidak puas terhadap kinerjanya, terutama dalam bidang ekonomi dan kebijakan luar negeri. Aksi “No Kings” juga melibatkan ratusan ribu hingga jutaan warga untuk menentang kebijakan pemerintah.

Survei Quinnipiac menunjukkan hanya 32% pemilih menyetujui kinerja Trump, sementara 58% tidak setuju. Mayoritas juga menolak aksi militer terhadap Iran (60%) dan pengiriman pasukan darat (74%). Ketidakpuasan terutama terkait ekonomi, imigrasi, dan kebijakan luar negeri, meski sebagian pendukung tetap mendukung agenda “America First”.

Konstelasi Politik internasional Saai Ini
Konstelasi internasional adalah struktur hubungan antarnegara yang membentuk persaingan dan memengaruhi politik dunia. Konstelasi ini tidak berkaitan dengan fikrah dan thariqah politik, melainkan dengan hubungan internasional serta persaingan antarnegara untuk meraih posisi utama dan memengaruhi politik global. Sifatnya dinamis dan dapat berubah mengikuti situasi serta berbagai peristiwa dunia.

Memahami konstelasi internasional menuntut kaum Muslim mengetahui kedudukan negara pertama (al-daulah al-ula) dan posisi negara-negara lain terhadapnya serta terhadap politik internasional. Termasuk memahami karakter negara pengikut (al-daulah al-tabi’ah), negara satelit (al-daulah allati fi al-falak), dan negara independen (al-daulah al-mustaqillah).

Negara adidaya bukan semata-mata negara dengan penduduk besar atau ekonomi kuat, melainkan negara yang memiliki pengaruh signifikan terhadap politik internasional dan mampu memengaruhi negara lain. Dalam perspektif ini, Amerika Serikat dipandang sebagai negara adidaya utama sejak abad ke-15 H (ke-21 M) karena memiliki pengaruh paling kuat terhadap politik internasional dan mendominasi tatanan global (Konsepsi Politik HT, 2025).

AS masih menjadi kekuatan utama dunia dalam ekonomi, militer, teknologi, keuangan, serta pengaruh diplomatik dan budaya. Namun, dominasinya menghadapi tantangan dari Cina yang semakin kuat secara ekonomi dan politik, serta Rusia yang tetap berpengaruh dalam geopolitik dan energi. Persaingan ekonomi, teknologi, energi, dan konflik global pun mendorong pergeseran peta kekuatan dan aliansi dunia.

Cina dan Rusia menjadi negara yang paling berpeluang menandingi AS dalam ekonomi, teknologi, dan militer. Cina unggul dalam perdagangan, rantai pasok global, pertumbuhan ekonomi, serta modernisasi militer. Rusia memiliki kekuatan nuklir besar dan teknologi pertahanan serta rudal hipersonik yang canggih. Keduanya dinilai mampu mengimbangi dominasi militer AS di kawasan strategis.

Dalam National Defense Strategy (NDS) 2026, AS menempatkan Cina sebagai “penantang utama” dan memprioritaskan penguatan kekuatan di Indo-Pasifik untuk membatasi dominasi Beijing. Strategi ini juga menekankan perlindungan wilayah AS dari ancaman militer Cina serta penyesuaian dukungan terhadap sekutu di kawasan lain.

Meski berpenduduk sekitar 1,41 miliar jiwa dan diperhitungkan oleh Rusia maupun AS, Cina sulit disebut sebagai negara adidaya dalam pengertian politik internasional. Pertama, Cina tidak memiliki sejarah sebagai negara adidaya dan tidak pernah memainkan pengaruh dominan secara global. Bahkan setelah menjadi negara komunis, Cina tidak secara luas menyebarkan komunisme untuk membangun pengaruh internasional. Kedua, fokus Cina lebih banyak tertuju pada kawasan regionalnya. Upaya memperluas pengaruh ke Afrika dan sejumlah negara Asia dinilai tidak menghasilkan capaian berkelanjutan, sehingga perhatian Cina kembali terpusat pada wilayahnya sendiri (Konsepsi Politik HT, 2025).

Cina dapat disebut sebagai kekuatan adidaya regional karena pengaruhnya terhadap persoalan internasional masih relatif terbatas di luar kawasan. Meski memiliki potensi menjadi kekuatan global seiring kemajuan ekonomi dan militernya, hingga kini Cina belum secara terbuka menandingi AS di luar lingkup regionalnya (https://hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer/political-questions/106098.html).

Mungkinkah Islam menjadi Penantang AS?

Mungkin, Islam akan mengalahkan semua agama, disebut berulang 3 kali dalam Al-Qur`an, firman Allah SWT, “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi” (QS al-Fath: 29).

Dengan dua syarat, Pertama, umat Islam wajib memperbaiki mentalitasnya, yaitu wajib memiliki mentalitas sebagai umat terbaik di antara seluruh bangsa dan umat lainnya. Sebagaimana firman Allah, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (QS Ali ‘Imran: 110).

Kedua, umat Islam wajib bersatu, sehingga terkonsolidasi semua potensi dan kekuatan umat, bukan terpecah belah seperti saat ini wajibnya persatuan umat Islam dan tidak bolehnya umat Islam bercerai berai, firman Allah SWT, “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (QS Ali ‘Imran: 103).

Begitu juga, wajibnya umat Islam berada di bawah satu kepemimpinan (Khalifah/Imam), sabda Rasulullah SAW , “Jika dibaiat (diangkat) dua orang Khalifah (Imam) (untuk seluruh umat Islam) maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya” (HR Muslim, no 1853).


Umat Islam pernah menjadi kekuatan adidaya hingga masa Perang Salib dan kembali berjaya setelah memenangkan perang tersebut. Pengaruh politik umat Islam bahkan bertahan hingga abad ke-19, sebelum melemah dan akhirnya kekuasaan Islam runtuh pada awal abad ke-20 setelah Perang Dunia I. Namun, faktor-faktor yang menjadi kekuatan sebuah negara adidaya masih terdapat dalam umat Islam. Vitalitas kebangkitan itu pun mulai tampak sejak akhir abad ke-20. Umat Islam dinilai semakin mendekati kebangkitan kembali sebagai kekuatan besar dunia, bahkan menjadi yang terdepan, insya Allah.

Pada KTT NATO di Ankara, 7–8 Juli 2026, para anggota menegaskan kembali komitmen memenuhi Janji Pertahanan Den Haag untuk menghadapi ancaman Rusia terhadap keamanan kawasan Euro-Atlantik serta ancaman terorisme. Dalam narasi NATO, ancaman tersebut juga mencakup kelompok yang menyerukan pemerintahan Islam atau disebut “Islam politik”.

KTT menegaskan penguatan NATO melalui peningkatan peran sekutu Eropa dan Kanada bersama AS dalam pertahanan aliansi. NATO juga tetap memandang Rusia dan kelompok Islam politik sebagai tantangan keamanan. Sementara itu, muncul wacana pembentukan “NATO Arab” yang melibatkan Pakistan, Mesir, Turki, dan Arab Saudi sebagai respons terhadap dinamika keamanan Timur Tengah (Al Jazeera, 2 Juli 2026).

Membaca Potensi Umat Islam
Potensi umat Islam untuk menyaingi AS di panggung geopolitik sangatlah besar, baik dari sisi demografi, ekonomi maupun posisi strategis.

Pertama, potensi geopolitik dan ekonomi. Dunia Islam memiliki potensi besar menjadi kekuatan ekonomi dan geopolitik dunia. Negara-negara Muslim menguasai jalur strategis seperti Terusan Suez, Selat Hormuz, dan Bab-el-Mandeb, sekaligus memiliki kekayaan energi dan SDA melimpah. Mulai dari minyak dan gas Timur Tengah, nikel dan bauksit Indonesia, sawit Malaysia, fosfat Maroko, hingga minyak Nigeria. Jika seluruh potensi tersebut disatukan dan dikelola secara optimal, dunia Islam memiliki kekuatan strategis yang sangat besar.

Kedua, potensi militer dan demografi. Dunia Islam memiliki potensi militer dan demografis yang besar. Negara seperti Turki, Iran, Pakistan, dan Mesir memiliki kekuatan militer serta teknologi pertahanan yang signifikan, sementara Pakistan merupakan satu-satunya negara mayoritas Muslim yang memiliki senjata nuklir. Jika potensi tersebut terkonsolidasi, kekuatan dunia Islam akan menjadi penyeimbang geopolitik global.

Dari sisi demografi, lebih dari 2 miliar Muslim atau sekitar 25 persen penduduk dunia tersebar di negara-negara seperti Indonesia, Pakistan, India, Bangladesh, Nigeria, dan Mesir. Jumlah penduduk yang besar, terutama generasi muda, merupakan modal sosial dan ekonomi yang kuat. Namun, perbedaan kepentingan politik antarnegara membuat potensi tersebut belum terkonsolidasi menjadi satu kekuatan bersama. (Media Umat, 7 Juli 2026)[]