Sejuta Sarjana Menganggur Bukti Gagalnya Pemerintah Dalam Meri'ayah rakyat
Oleh. Susi Ummu Musa
Dulu impian menjadi sarjana merupakan suatu kebanggaan bagi keluarga atau masyarakat, karena dengan segala usaha dan ketekunan dia bisa menaklukkan bangku perkuliahan dengan prestasi yang memuaskan.
Harapan orang tua dengan gelar sang anak menjadi bukti capaian yang tak luput dari peluh dan keringat saat orang tua harus bersusah payah membayar uang kuliah.
Harapan itu hanya berakhir agar sang anak mendapatkan pekerjaan yang bagus dengan gelar sarjana yang disandangnya.
Namun kini suasana tergerus dengan kejamnya zaman yang arahnya tak jelas, kini prestasi yang disandang dengan gelar sarjana kalah dengan istilah "keberuntungan" Atau dengan istilah "orang dalam".
Dilansir JAKARTA, KOMPAS — Gelar sarjana tidak bisa menjamin seseorang bebas dari ancaman pengangguran. Berdasarkan data terbaru Survei Angkatan Kerja Nasional, per Mei 2026, jumlah pengangguran berlatar belakang sarjana mencapai 1.033.182 orang.
Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026 menyebutkan, total penduduk usia kerja yang menganggur mencapai 7,22 juta orang. Sekitar 14,31 persen atau 1.033.182 orang di antaranya merupakan pengangguran yang berlatar belakang sarjana terapan atau S-1, S-2, dan S-3 (sarjana).
Ironi Tinggal di Negeri Kaya
Indonesia terkenal dengan kekayaan alam didalamnya melimpah hasil bumi yang jika dikelola dengan baik maka akan sangat mencukupi kebutuhan rakyat, sayangnya hal itu tidak relevan dengan kenyataan yang terjadi saat ini. Rakyat harus berjibaku dengan waktu dan tenaga untuk memenuhi kebutuhan perut mereka sendiri,tanpa adanya lapangan pekerjaan yang diberikan pemerintah.
Janji 19 juta lapangan kerja yang sempat dilontarkan wakil presiden sampai saat ini juga hanya omong kosong belaka.
Tak hanya SDA yang memadai SDM nya pun turut diperhitungkan bahwa banyak para sarjana yang mumpuni dengan keahlian nya tapi tidak mendapatkan kesempatan dibidangnya.
Kenyataannya orang-orang Indonesia yang berprestasi hanya sandang dinegeri sendiri namun tidak dinegeri seberang.
Sistem Rusak
Sistem yang dibangun diatas dasar kapitalisme hanya berpihak kepada segelintir orang, perekonomian pasar bebas menjadi acuan tanpa melihat bagaimana kehidupan masyarakat bawah yang susah mencari uang.
Bahkan dalam pandangan kapitalisme perekonomian Indonesia diproyeksikan tetap tumbuh sekitar 5,4 persen pada 2026, sebuah capaian bagi banyak negara masih layak dibanggakan. Namun, hampir bersamaan dengan optimisme tersebut, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) justru terus meluas.
Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan 15.425 pekerja kehilangan pekerjaan hanya dalam periode Januari–April 2026, meningkat sekitar 84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Hal ini akan terus menjadi momok bagi masyarakat jika PHK terus terjadi dan lapangan pekerjaan semakin sulit didapatkan.
Bahkan kelompok yang kaya akan semakin kaya dan miskin akan semakin terpuruk karena jeratan sistem rusak yang lahir dari akal manusia ini.
Maka sangat jelas bahwa negara ini telah gagal dalam mengurusi urusan rakyat.
Kembali kepada Aturan Islam
Dalam pandangan islam negara adalah tonggak peradaban yang mempunyai tanggungjawab penuh terhadap masyarakat, dari mulai pendidikan, kesehatan, keamanan dan pelayanan umat lainnya termasuk lah lapangan pekerjaan.
Semua harus diatur berdasarkan sudut pandang islam bukan yang lain, negara harus menyediakan lapangan pekerjaan secara besar-besaran untuk umat yang sesuai dengan keahliannya.
Tidak akan dibiarkan rakyat yang hidupnya menganggur, karena setiap rakyat butuh hidup untuk melanjutkan kehidupannya, Tanpa harus khawatir bagaimana masa depannya kelak.
Negara tidak boleh abai dalam kesejahteraan masyarakat karena itu termasuk sebuah kezoliman apalagi sampai rakyat nya mencuri karena lapar.
Terlebih lagi orang-orang yang berilmu hingga menempuh Perguruan tinggi justru akan sangat mudah dalam bekerja sebab mereka memiliki kemampuan secara akademik.
Islam sendiri sangat tegas dalam perkara kesejahteraan karena seorang pemimpin yang mengurus rakyatnya adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban diakhirat nanti.
Sebagai mana hadist Telah menceritakan kepada kami dan Ismail Telah menceritakan kepadaku Malik dari Abdullah bin Dinar dari Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya;
Ketahuilah Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya dan isteri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya, ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (Hr. Bukhari, No. 6605?)
Wallahu a'lam bissawab

Posting Komentar