Generasi Muda dalam Ancaman HIV/AIDS
Oleh : Dinda Kusuma Wardani T
Apabila ada pertanyaan, penyakit apa yang paling mengerikan di dunia? Kemungkinan besar jawabannya adalah AIDS. Apabila seseorang telah terdiagnosa HIV/AIDS, maka masyarakat akan memandang negatif kepadanya dan mengklaim bahwa hidupnya hanya menunggu kematian dengan cara yang mengenaskan. Memang begitulah faktanya. Penyakit mengerikan yang asal mulanya dari perilaku seks menyimpang, hingga saat ini, belum ditemukan obatnya.
Mirisnya, HIV/AIDS yang sangat ditakuti umat manusia ini kini semakin merebak diseluruh dunia, termasuk Indonesia. Yang lebih mengerikan lagi merebaknya juga menyasar usia dini atau remaja. Dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo menunjukkan terdapat 60 kasus kumulatif HIV/AIDS pada kelompok usia 11–17 tahun sejak 2001 hingga Juni 2026.Dari jumlah tersebut, tujuh anak meninggal dunia sehingga masih ada 53 anak usia pelajar yang hidup dengan HIV/AIDS. Sementara itu, pada kelompok usia 0–10 tahun tercatat 117 kasus. Sebanyak 35 anak meninggal dunia, sedangkan 32 anak masih aktif menjalani terapi antiretroviral (ARV) (kompas.com, 25/07/2026).
Fakta ini sungguh sangat memperihatinkan dan mengkhawatirkan. Bahkan anak-anak dan remaja yang harusnya berada pada usia paling berpotensi da menyenangkan dalam hidupnya, tidak luput dari paparan HIV/AIDS. Hal ini memberi kita gambaran bagaimana rusaknya moral masyarakat Indonesia saat ini.
HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. HIV bisa berkembang biak dan menggandakan diri dalam sel tubuh manusia. HIV tidak akan menular melalui kontak biasa, seperti bersalaman, terkena keringat, atau alir liur orang yang terinfeksi. Sulit untuk mengetahui jika seseorang mengidap HIV hanya dari penampilan fisiknya saja. Bahkan orang bisa hidup sehat bertahun-tahun tanpa menyadari jika ia memiliki HIV.
Ilmu kedokteran dunia mengakui, bahwa AIDS diakibatkan oleh perilaku negatif yang dilakukan oleh individu. Mulai dari seks bebas, narkoba (penggunaan jarum suntik), perilaku suka gonta-ganti pasangan hingga seks menyimpang seperti homoseksual. Meskipun ada juga para ibu yang tidak bersalah harus tertular HIV dari suaminya yang berperilaku negatif. Kemudian si ibu bisa menularkan kepada bayinya tanpa ia sadari.
Salah satu perilaku negatif yang beresiko tinggi menularkan HIV/AIDS adalah homoseksual. Pasalnya, penularan HIV lewat seks anal lebih besar 18% dibandingkan lewat penetrasi vagina. Dimana kita ketahui, seks anal menjadi pilihan yang umum bagi pasangan pria homoseks. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa jaringan dan lubrikan alamiah pada anus dan vagina sangat berbeda. Vagina memiliki banyak lapisan yang bisa menahan infeksi virus, sementara anus hanya memiliki satu lapisan tipis saja.
Sayangnya, Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) justru sedang marak dipropagandakan di seluruh dunia. Mengatasnamakan kebebasan berpendapat dan Hak Asasi Manusia (HAM), kaum homoseksual terus berusaha mendapat pengakuan dan legalitas. Inilah akibat dari sistem kehidupan sekuler. Dimana nilai-nilai agama telah ditinggalkan. Indonesia, yang mayoritas berpenduduk muslim pun menerapkan sistem ini. Padahal Islam adalah agama yang lengkap, yang mengatur seluruh kehidupan manusia agar selamat dunia akhirat. Maka mustahil bagi seorang muslim memisahkan kehidupannya dari aturan Islam.
Apabila kita renungkan, semua perilaku yang menyebabkan infeksi HIV adalah perilaku yang dilarang dalam Islam. Islam melarang keras perzinahan. Pelakunya diganjar hukuman yang sangat berat, yaitu hukuman rajam (dilempari batu hingga mati) jika pelakunya sudah menikah, dan dicambuk jika pelakunya belum menikah. Demikian pula homoseksual, Islam melaknat keras perilaku ini. Bahkan besarnya kemurkaan Allah terhadap umat nabi Luth yang melakukan hubungan sesama jenis ini diabadikan dalam Al Qur'an. Disebutkan bahwa Allah SWT mengazab mereka dengan tanah longsor, gempa besar dan hujan batu. Merebaknya HIV/AIDS juga bisa dikatakan azab bagi manusia yang menentang aturan Allah.
Berkaca dari ini, seharusnya kita menyadari bahwa aturan Allah adalah aturan yang membawa keselamatan dan kebaikan bagi seluruh umat manusia. Dengan menerapkan aturan Allah secara menyeluruh maka hidup umat manusia akan penuh dengan keberkahan. Sebaliknya, mengacuhkan aturan dan peringatan Allah akan mengundang murka dan azab dariNya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al A'raf ayat 96,
"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al A'raf : 96)

Posting Komentar