Gen Z, Hidup Di Antara Hedonisme dan Ekonomi Sulit
Oleh : Anastasia, S.Pd.
Sungguh, sangat sulit bisa mempertahankan hidup di Indonesia. Segala kebutuhan hidup yang serba mahal, kita pun dihadapkan fakta terkait Gen Z yang hidup di tengah-tengah gaya hidup yang hedon. Hal ini, senada dengan apa yang disampaikan oleh Psikolog klinis Mutiara Maharini mengaitkan hal ini bukan hanya dengan kebiasaan fear of missing out (FOMO), melainkan tren hedonisme. Dalam riset yang dilakukan di tempat praktiknya, nyaris semua gen Z mengalami hal ini.
"Value yang dipegang gen Z itu adalah hedonisme. Hedonisme ini nggak selalu matre artinya," (www.detikheatlyh.com, 11/12/2024).
Tidak heran ,menurutnya banyak gen Z yang lebih senang meromantisasi hidup meskipun tengah menghadapi kesulitan. Hal itu, terlihat dalam beberapa postingan atau unggahan keseharian gen Z di media sosial. "Bisa dilihat kan dari tren a day in my life.
Bagaimana mereka selalu menunjukkan sisi berbeda," tandas dia.
Tapi mereka suka cari kenikmatan dan kesenangan dalam hidup," lanjutnya.
Bila tidak terpenuhi, ada gangguan kecemasan hingga keluhan lebih berat, seperti merasa depresi karena dinilai gagal memenuhi standar sosial kebanyakan.
Kapitalisme dan Hedonisme
Hedonisme, adalah suatu paham yang menganggap bahwa tujuan utama dari kehidupan adalah meraih kesenangan sebanyak-banyaknya, dan berusaha menghindari dari perasaan-perasaan menyakitkan. Hedonisme ini, lahir dari sistem kapitalisme, yang memisahkan manusia dari aturan Tuhan, untuk mencari kesenangan materi. Di tengah-tengah penerapan sistem kapitalisme ini, semua informasi dan teknologi serba bebas, yang menjadikan Gen Z semakin mudah terjebak dalam gaya hidup yang hedon, berorientasi pada kebahagian dunia, tanpa melihat halal dan haram. Padahal, sistem kapitalisme telah menciptakan sistem ekonomi yang hanya mensejahterakan pemilik modal dan penguasa, tentu hal ini berimbas pada pengalihan kewajiban negara yang seharusnya melayani rakyat, akan tetapi malah sebaliknya menyulitkan rakyat. Kebijakan negara tidak memberi fasilitas hajat hidup orang banyak.
Seperti, kesehatan, pendidikan, tidak adanya infrastruktur yang memadai, dan sulitnya mencari lapangan pekerjaan, akhirnya memaksa setiap orang untuk bertahan hidup dengan segala caranya. Salah satunya, adalah Gen Z, yang dibiarkan mengusahakan masa depannya sendiri.
Kehidupan Gen Z yang serba sulit, ditambah gaya hidup yang hedon telah menyebabkan mereka sibuk sendiri mengejar validasi yang semu, tanpa menjadikan agama sebagai pandangan hidup. Akibatnya, mereka menjadi generasi yang sangat rentan mengalami ganguan mental, penuh dengan kecemasan, menciptakan kehidupan yang tidak stabil. Krisis mental Gen Z ini, sudah tidak bisa memaknai kehidupan, mereka terjebak dengan kesenangan duniawi. Kehidupan seperti ini, tentu sangat tidak akan pernah membawa mereka pada ketenangan, hanya menciptakan kebahagian semu.
Islam Menciptakan Fondasi Mental
Islam adalah sistem kehidupan yang mengatur segala urusan manusia. Aturan Allah Swt inilah, yang akan menjamin keberlangsungan hidup, mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Termasuk, kebijakan sistem ekonomi yang menjamin sandang, pangan, dan papan. Dalam pandangan Islam, pengelolaan sumber daya alam yang melimpah dipergunakan untuk kesejahteraan hajat hidup orang banyak. Bukan memperjualbelikan kepada swasta, oleh karena itu kebijakan ini akan menciptakan kestabilan ekonomi sehingga setiap rakyatnya tidak akan berjuang sendiri menghidupi ekonomi.
Termasuk Gen Z, yang notabene adalah generasi penerus bangsa, yang masa depan harus dipersiapkan untuk melanjutkan kejayaan Islam. Islam, secara tegas melarang setiap pemahaman yang bertentangan dengan syariat Islam. Seperti paham-paham yang merusak generasi bangsa, yaitu hedonisme yang sesungguhnya bertentangan dengan ayat Allah Swt, yang melarang manusia mengejar kehidupan duniawi semata,
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ
Artinya: “Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali ‘Imran [03]: 14).
Begitu pun dengan penggunaan media sosial, akan berorientasi pada pencerdasan generasi, menjadikan aqidah Islam sebagai fondasi pemikiran, sehingga mental generasi bisa terjaga.
Dalam pandangan Islam, negara mempunyai peran dan tugas untuk mengurusi urusan umat, salah satunya adalah memastikan setiap penduduk mempunyai fondasi keimanan yang kuat, yaitu membangun paradigma berfikir yang benar tentang kehidupan, hal ini disampaikan oleh Allah Swt melalui firman-Nya,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya: "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (QS. Ad Dzariat [51]: 56).
Wallahua'alam

Posting Komentar