Derita Gaza, Dengan Apa Bisa Berakhir?
Oleh : U Diar
Berbagai persoalan membelenggu kehidupan manusia saat ini, mulai dari ranah lokal, regional, hingga internasional. Persoalan kian pelik lagi menyita perhatian ketika berkaitan dengan ekonomi dan kemampuan bertahan hidup. Kedua urusan ini bisa berpotensi memalingkan dari perkara lain yang sebenarnya tak kalah krusial, semisal kasus kemanusiaan yang menelan banyak korban jiwa. Genosida atas penduduk Gaza dan sekitarnya adalah salah satu contoh peristiwa memilukan, yang beritanya mulai tenggelam dari permukaan.
Padahal, pendudukan ini belum pernah berhenti. Bahkan skala penderitaan yang dialami semakin tak mampu dibayangkan hati nurani manusia normal. Serangan brutal tetap dilancarkan di tengah-tengah kelaparan disengaja yang diderita penduduk Gaza. Korban terus berjatuhan, tak terkecuali perempuan dan anak-anak. Mata dan telinga dunia walaupun secara samar tapi pernah melihat dan mendengar. Namun, kuasa dan daya untuk menolong korban kemanusiaan ini belum bisa sampai, kalah oleh bengisnya kejahatan sistematis yang dikomandoi zionis.
Data terbaru menunjukkan hampir 90 persen infrastruktur air dan sanitasi di Gaza telah hancur atau mengalami kerusakan berat. Akibatnya penduduk mengungsi ke tempat-tempat yang dianggap aman, dengan resiko ancaman kesehatan yang luar biasa memprihatinkan. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) melaporkan lonjakan kasus penyakit kulit dalam beberapa pekan terakhir, termasuk kudis (scabies) dan cacar air (chickenpox), serta meningkatnya penyakit yang berkaitan dengan ledakan populasi tikus di kawasan pengungsian. [1]
Sangat disayangkan derita tersebut sama sekali tak membuat dunia menekan zionis agar menghentikan aksinya. Bahkan lembaga baru BOP yang konon mengusung perdamaian pun tak berkutik menekan zionis untuk hengkang dari bumi Gaza. BOP malah tetap melanjutkan planningnya, bersamaan dengan bara derita penduduk Gaza yang terus-menerus menyala. Padahal, di antara anggota yang mendukung BOP itu juga ada yang muslim bukan?
Jelas diketahui bahwa Gaza dan Palestina adalah negeri muslim, banyak penduduk yang beragama IsIam, namun mengapa keberpihakan sesama muslim terkesan tidak mendapat ruang? Padahal di setiap hati muslim belahan negeri lainnya, pasti ada keinginan kuat untuk menolong saudara seimannya. Mereka juga tidak perhitungan menyumbangkan sesuai kemampuan, doa-doa, bahkan harta dan tenaga untuk berusaha menyudahi derita saudaranya di sana. Namun, dengan sekian puluh tahun serangan atas Gaza, semua upaya yang dicoba seakan-akan mental melawan keangkuhan bersenjata dari penjajah.
Padahal, jikalau mau, sebenarnya ada kemungkinan negeri-negeri IsIam untuk menjatuhkan sanksi berat bagi zionis. Ada potensi untuk balik mengisolasi negeri penjajah agar bisa merasakan pahitnya blokade segala sumber daya. Namun, realitasnya justru tergiur dan berada di kubu "badan perdamaian" pimpinan Barat yang terang-terangan menyatakan dukungannya kepada zionis. Badan berlabel perdamaian tetapi cenderung mendiamkan kejahatan kemanusiaan berkelanjutan. Badan perdamaian tetapi dinilai mengharapkan ada pembangunan ulang di kawasan milik korban dan di tengah-tengah penderitaan korban yang berkepanjangan.
Berangkat dari panjangnya derita Gaza ini, mengemukalah gagasan solusi untuk menyudahinya dari internal kaum muslimin. Solusi yang tidak lagi berharap pada janji-janji damai versi Barat, solusi yang tidak menggantungkan penyelesaian pada skenario drama yang tak menyentuh akar persoalannya. Gagasan solusi tersebut adalah persatuan kaum muslimin di bawah payung kekuasaan Islam global. Sebuah kekuatan independen di tangan kaum muslim, yang memiliki power untuk mengusir penjajah dari sana. Karena penjajah inilah yang sesungguhnya menjadi akar bertumbuhnya berbagai derita.
Kekuasaan yang akan menghimpun tenaga dari seluruh penjuru negeri Islam, menghadirkan kekuatan sepadan dan setara untuk merealisasikan pertolongan kepada sesama saudara seiman. Pertolongan nyata yang tidak cukup hanya berupa kecaman semata. Oleh sebab itu, menyeru seluruh muslim untuk berhimpun menyatukan diri di bawah payung Islam adalah agenda penting saat ini. Sebab dengan adanya payung ini, pengusiran penjajah bisa ditunaikan, derita Gaza bisa diakhiri. Lebih dari itu, pertanggungjawaban atas upaya menolong saudara seiman bisa menemukan hujjah, sehingga tidak akan memperberat penghisaban di akhirat kelak. []
Referensi:
1. https://www.vaticannews.va/id/world/news/2026-05/krisis-kemanusiaan-gaza-kian-memburuk-ancaman-penyakit.html

Posting Komentar