Darurat Remaja Terjangkit HIV Makin Banyak, Tawaran Solusi Tidak Menyentuh Akar Masalah
Oleh : Sarah Lubna
Kasus HIV di kalangan anak dan remaja kembali menjadi perhatian serius publik. Di Sidoarjo, misalnya, Dinas Kesehatan mencatat terdapat 7.230 orang yang hidup dengan HIV berdasarkan data kumulatif sejak 2001 hingga Juni 2026, di mana 522 orang di antaranya merupakan pelajar dari jenjang PAUD hingga SMA (beritajatim.com, 10/08/26). Angka ini tentu bukan sekadar data statistik belaka. Di baliknya ada anak-anak yang harus menjalani kehidupan dengan kondisi kesehatan yang tidak mudah, sekaligus menghadapi ancaman stigma serta diskriminasi dari lingkungan sekitar.
Di sisi lain, pemerintah menegaskan bahwa meningkatnya temuan kasus HIV tidak bisa begitu saja dimaknai sebagai meluasnya penularan. Kementerian Kesehatan menyebut perluasan layanan tes HIV di berbagai fasilitas kesehatan membuat semakin banyak kasus yang berhasil terdeteksi. Artinya, kenaikan angka temuan juga menunjukkan semakin efektifnya upaya deteksi dini. Pernyataan tersebut memang perlu dipahami agar masyarakat tidak terburu-buru mengambil kesimpulan dari angka kasus. Namun, persoalannya tidak berhenti pada apakah angka tersebut menunjukkan peningkatan penularan atau peningkatan deteksi.
Ketika persoalan HIV dibaca sebatas masalah kesehatan, maka solusi yang muncul pun cenderung berputar pada aspek medis. Memperluas tes HIV, menyediakan pengobatan, melakukan pendampingan, serta mengurangi stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV memang penting. Namun, semua itu lebih banyak berbicara tentang bagaimana menangani orang yang sudah terdampak. Belakangan, pendidikan seksual sejak dini kerap ditawarkan sebagai langkah pencegahan. Masalahnya, jika pendidikan seksual hanya diberikan dalam kerangka kesehatan reproduksi dan pencegahan penyakit, pembahasannya akan berhenti pada aspek medis semata. Anak diberi tahu tentang bahaya HIV atau kehamilan tidak diinginkan, tetapi tidak dibentuk dengan pemahaman mendasar tentang mengapa perilaku seksual bebas harus ditinggalkan.
Meningkatnya temuan HIV pada anak dan remaja seharusnya mendorong kita untuk melihat akar masalah dalam sistem sosial. Dalam sistem sekuler-kapitalisme, agama dipisahkan dari pengaturan kehidupan, sehingga nilai benar dan salah dikembalikan kepada kebebasan individu selama tidak merugikan orang lain secara langsung. Ketika pergaulan bebas dianggap sebagai pilihan pribadi sementara kontrol norma memudar, berbagai persoalan sosial tumbuh subur. Solusi tidak cukup hanya dengan mengimbau remaja untuk mengenali risiko dan memakai cara yang aman. Yang dibutuhkan bukan sekadar generasi yang tahu cara mengurangi risiko penyakit, melainkan generasi yang memahami batas halal-haram serta memiliki dorongan kuat untuk menjaga dirinya.
Islam membangun pencegahan sejak dari hulunya melalui penerapan Nizham al-Ijtima’i (sistem pergaulan Islam). Interaksi laki-laki dan perempuan diatur secara tegas, mulai dari perintah menundukkan pandangan, menutup aurat, melarang berkhalwat, hingga melarang perbuatan mendekati zina. Pencegahan ini juga diperkuat melalui sistem pendidikan Islam yang mengintegrasikan pengetahuan kesehatan reproduksi dengan pemahaman fikih pergaulan dan akhlak, sehingga anak menyadari bahwa tubuhnya adalah amanah dari Allah SWT.
Upaya ini membutuhkan sinergi dari tiga pilar utama: keluarga sebagai pembentuk kepribadian, masyarakat yang melakukan kontrol sosial, serta negara yang menerapkan aturan hukum, kontrol media, dan sistem pendidikan berlandaskan nilai Islam. Allah SWT secara tegas telah melarang segala jalan yang mengantarkan pada kerusakan pergaulan dalam Al-Qur'an:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk."(QS. Al-Isra: 32).

Posting Komentar