-->

Seribu hari Genosida di Gaza, Umat Butuh Junnah


Oleh : Ida Nurchayati

Derita rakyat Gaza belum sirna. Sejak Taufan Al Aqsha, 7 Oktober 2023, awal Juli 2026, genap seribu hari rakyat Gaza mengalami genosida oleh Isr4el laknatullah. Pembantaian demi pembantaian yang penuh kekejian dan kebrutalan dipertontonkan dihadapan dunia, tanpa ada pembelaan nyata. Setiap hari nyawa tak berdosa melayang, kehormatan dikoyak, bukan karena pasukan zionis Isr4el kuat. Namun umat Islam tak berdaya karena umat ini kehilangan junnah (perisai) yang menjadi pelindung umat dari serangan dan kebiadaban musuh. Umat Islam terpecah-belah dalam negara bangsa, masing-masing bangga dengan nasionalismenya.

Racun Nation State

Umat Islam, dulu hidup dalam satu kepemimpinan, diikat dengan ikatan akidah, sehingga menjadi kuat dan memimpin peradaban dunia selama kurang lebih 13 abad. Kekuatan ini disadari musuh-musuh Islam, terutama Barat. Maka mereka berupaya memecah-belah kaum muslim menjadi lebih dari 50 negara bangsa, diikat dengan ikatan nasionalisme.
                   
Perjanjian Sykes-Picot adalah kesepakatan rahasia pada tahun 1916 antara Inggris dan Prancis (serta disetujui Rusia) untuk membagi wilayah Timur Tengah, yang merupakan bagian wilayah Kekhilafahan Utsmani. Kesepakatan ini membentuk batas negara modern sepihak yang memicu ketidakstabilan politik hingga sekarang.

Barat dengan sengaja memasukkan racun nasionalisme kedalam tubuh umat Islam. Persaudaraan sesama muslim seperti satu tubuh diganti dengan ikatan kebangsaan yang rapuh. Penderitaan sesama muslim, bila sudah beda bendera, bukan dianggap sebagai permasalahan yang harus diselesaikan oleh muslim yang lain. Ketika saudaranya seakidah di Gaza dibantai dan digenosida muslim yang lain hanya bisa memberi bantuan makanan dan obat-obatan. Belum ada negeri-negeri muslim yang serius memberi pertolongan dan membebaskan Palestina dari penjajahan.

Sebaliknya, penguasa-penguasa negeri muslim menjadi penguasa boneka yang melayani kepentingan Barat. Beberapa negara, seperti Indonesia, Arab Saudi, Turki, Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Maroko lebih suka bergabung dengan Board of Peace bentukan Trumph, daripada mengirimkan pasukan untuk mengusir penjajah Isr4el dari bumi Palestina.

Sejak Taufan Al Aqsha, korban jiwa di Gaza telah mencapai lebih dari 73.066 orang, jumlah korban luka-luka melampaui 173.514 orang, ada sekitar 9.500 warga Palestina yang masih hilang. Lebih dari 2.700 keluarga Palestina musnah.

Palestina berjuang dan bertahan sendirian. Dua milyar lebih kaum muslim tak berdaya menghadapai Isr4el dengan jumlah penduduk sekitar 10 juta jiwa. Inilah bahaya nation state bentukan Barat, racun mematikan yang disuntikkan ke jantung kaum muslim.

Umat Butuh Junnah

Nasib penduduk Gaza berbeda nasibnya andai kaum muslim masih memiliki perisai, yakni seorang khalifah, sebagaimana Sabda Baginda Nabi SAW,

"Sesungguhnya seorang imam (khalifah) adalah perisai, yang orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya" (HR Bukhari dan Muslim).

Tinta sejarah mencatat, ketika umat mempunyai khalifah, maka harta, tanah, darah, kehormatan dan jiwanya terjaga. Kisah seorang muslimah yang dilecehkan kehormatannya di wilayah Amuriyah oleh tentara Romawi. Lantas muslimah ini berteriak, memanggil Sang perisainya. Jeritan ini dibawa ke hadapan khalifah. Sang Imam, yakni Khalifah Al Mu'tasim Billah lantas mengirimkan pasukan yang luar biasa banyaknya, berakhir dengan 30 ribu pasukan Romawi terbunuh dan 30 ribu lainnya ditawan.

Sejarah juga mencatat, pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II, meski kondisi kekhilafahan sudah sangat lemah, namun masih mampu mempertahankan wilayah Palestina dari rongrongan Zionis. Ucapan Sultan yang sangat masyhur,

"Aku lebih suka pedang menusuk badanku, daripada harus melepas sejengkal tanah Palestina. Tanah tersebut milik kaum muslim yang disirami dengan darah dan air mata. Kelak kalian bisa mendapatkan gratis tanah tersebut ketika kekhilafahan runtuh".

Tidak ada cara lain untuk memerdekan tanah Palestina dari cengkeraman penjajah Isr4el, kecuali hanya terwujudnya perisai umat, yakni diangkatnya seorang khalifah yang akan menerapkan syariat Islam secara kaffah dan memimpin jihad ke seluruh penjuru dunia.

Khilafah antara Kewajiban dan Kebutuhan

Jumhur ulama sepakat, bahwa menegakkan kekhilafahan hukumnya fardhu, berdasarkan ijmak sahabat. Maka ketika belum ada seorang khalifah, wajib bagi setiap kaum muslim untuk berjuang menegakkan kembali perisainya, kekhilafahan. Negara adidaya yang akan mengalahkan dominasi Isr4el yang didukung negara adidaya AS. 

Kebutuhan akan adanya khalifah sudah sangat penting, bahkan termasuk qadhiyah masyiriyah, sesuatu yang menyangkut hidup matinya kaum muslim. Sudah terlalu lama penduduk Gaza menderita, sudah tak terhitung jiwa-jiwa melayang tanpa pembelaan. Wahai kaum muslim, mari saling membahu, bersatu demi tegaknya institusi yang akan mengembalikan izul Islam dan kaum muslim.

Wallahu a'lam