Perang Iran, dan Potensi Geografis untuk Kebangkitan Islam
Oleh : Anastasia, S.Pd.
Perang Iran vs Amerika dan sekutu, telah memberikan umat Islam pelajaran penting. Perang yang dimulai dari penjajah Israel atas tanah Palestina, yang hingga detik ini masih berlangsung. Ketika AS dan Israel mulai menyerang Iran, pada 28 Februari 2026, Teheran membalas tidak hanya terhadap kedua musuhnya dan kepentingan mereka di Teluk, tetapi juga dengan menutup Selat Hormuz, dan mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh ekonomi global (BBC.com, 14/07/2026).
Kita memahami, umat Islam telah diberikan segala potensinya, dari demografi hingga posisi strategis geografisnya. Selama perang yang masih berlangsung, selat hormuz adalah bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari konflik ini.
Strategis Selat Hormuz dalam Geopolitik Dunia
Keberuntungan bagi umat Islam, salah satunya potensi alam dan letak geografisnya yang sangat strategis, inilah selat Hormuz yang menjadi titik konflik panas Iran vs Amerika. Urat nadi perdagangam minyak dan energi dunia, hampir 20% dari pedagangan global terjadi di sini. Minyak dan isu krisis energi adalah tujuan kolonialisme Amerika, untuk itu tentu selat Hormuz tidak bisa dilepaskan dari kerakusan hegomoni Amerika dalam menguasai perdagangan minyak. Iran adalah rival terberat bagi Amerika atau pun Isreal yang selama ini menjadi akar penjajah Palestina. Namun, sangat disayangkan beberapa negara Timur Tengah telah menjadi sekutu Amerika, dan memberikan otoritasnya kepada Amerika melalui pangkalan militernya di Timur Tengah.
Iran dalam perang ini, telah diuntungkan dengan posisinya memiliki selat Hormuz. Akibatnya, stabilitas energi dan minyak dunia pun ikut terguncang. Kita memahami selat Hormuz merupakan jalur perdagangan energi global. Jalur ini, menjadi rute utama pengiriman minyak dari negara-negara Teluk ke pasar dunia. Kawasan Teluk sendiri merupakan salah satu wilayah terkaya dalam cadangan energi, dengan negara-negara seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar memproduksi jutaan barel minyak setiap hari, dan sebagian besar pengirimannya melintasi selat ini. Jalur ini turut menopang arus perdagangan global untuk berbagai komoditas penting seperti biji-bijian, bahan mentah, dan produk industri yang masuk ke negara-negara Teluk.
Melalui jalur ini, biaya produksi minyak yang relatif rendah, ditambah letaknya yang dekat dengan pasar-pasar utama dunia, membuat nilai ekonominya semakin besar. Karena itu, setiap gangguan terhadap jalur ini akan segera berdampak pada harga energi, biaya logistik, dan stabilitas ekonomi global. Keadaan perang yang hinggu kini tidak hingga saat ini belum bisa diprediksi, maka sejauh itu perdagangan dan krisis energi dunia belum bisa stabil. Tentu hal tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja, dan telah memaksa Amerika untuk melakukan dialog, namun tidak sampai menemukan titik terang yang mampu mengakhiri segala bentuk ketidakpastian dunia.
Sejatinya, dari awal perang Amerika melihat Iran sebagai bangsa yang harus dikuasai, melihat segala potensi yang dimiliki Iran, dan Iran adalah satu-satunya negara yang sangat sulit dikendalikan Amerika, dan yang mengalangi Israel untuk menguasai Palestina. Langkah ini yang diambil Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang terus berupaya membentuk koalisi internasional untuk mengamankan Selat Hormuz setelah serangan Iran. Amerika, terus berupaya merebut kendali atas Selat Hormuz melalui berbagai cara. Namun, segala bentuk arogansinya hingga detik selat Hormuz tidak mampu dikuasai siapa pun, kecuali Iran sendiri yang mampu memberikan perlawanan terhadap Amerika.
Potensi Kebangkitan Islam
Sesungguhnya Allah Swt telah menjanjikan Islam dengan kemenangan hal ini sesuai dengan Firman-Nya yang berbunyi:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا
Artinya: Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (QS. Al Fath: 28).
Kebangkitan Islam bukan sebuah ilusi semata, karena janji tersebut tentu diperkuat dengan fakta, bahwa demografi umat Islam tersebar luas di seluruh dunia. Begitu sumber daya alam, dan kondisi geografis yang saat ini tengah menjadi incaran hegomoni Amerika dan sekutunya. Islam, telah datang dengan seperangkat aturan yang sempurna, di dalamnya terkandung metode untuk menerapkan Islam dalam kekuasaan, begitu pun Islam mempunyai metode jihad dalam melindungi dari segala bentuk ancaman. Saat ini, posisi umat Islam, hanya menjadi kue potongan yang diperebutkan oleh para kolonialisme barat. Segala bentuk potensi kekayaan, demografi, dan geografis tidaklah akan berguna apabila tidak ditopang oleh negara yang di dalamnya terdapat aturan. Hanya aturan Islam yang mampu melindungi segenap umat Islam, dari bentuk penjajahan Amerika dan sekutunya. Kewajiban umat Islam, adalah mencontoh kembali pada perjuangan Rasulullah Saw, dalam mengemban dakwah Islam, sampai puncaknya Islam berada dalam kekuasaan yang mampu menguasai dunia.
Untuk itu tugas kita sebagai umat Rasulullah Saw, adalah mengajak umat Islam untuk kembali memperjuangkan Islam sampai pada kekuasaan, sehingga kebangkitan Islam mampu menaungi umat manusia dengan keadilan dan kedamaian. Wallahua'alam

Posting Komentar