-->

Muharram, Tahun Baru Hijriyah, Momentum Ganti Sistem Islam


Oleh : Aktif Suhartini, S.Pd.I., Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Selamat Tahun Baru Hijriyah 1448 H. Semoga kita tidak hanya berganti tahun, tetapi juga berganti kualitas, berganti arah, dan berganti nasib menuju rida Allah SWT. Selasa, 16 Juni 2026 lalu, umat Islam memasuki Tahun Baru Hijriyah. Ucapan selamat berseliweran di grup-grup WhatsApp, berbagai platform media sosial, poster dan spanduk bertebaran, serta ceramah dan tausiyah bermunculan. Bulan Muharram merupakan awal pergantian tahun kalender Hijriyah umat Islam sekaligus memiliki kedudukan penting dalam sejarah Islam.

Sejarah mencatat Muharram sebagai penanda peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW bersama para sahabat, yang membawa pesan perubahan sangat besar, yakni tonggak awal berdirinya peradaban Islam yang kuat. Secara historis, hijrah bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan momentum pembentukan tatanan masyarakat baru yang berdaulat, persatuan umat, dan penerapan Islam secara kaffah.

Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi pergantian tahun ini? Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar kedua di dunia. Masjid tumbuh di mana-mana, jumlah jamaah umrah dan haji terus meningkat, serta kajian Islam semakin ramai. Namun pada saat yang sama, ketimpangan ekonomi semakin melebar, korupsi tak kunjung sirna, kekayaan alam dikuasai segelintir pihak, dan utang negara terus bertambah. Generasi muda dicekoki budaya hedonis dan konsumtif.

Ketika harga BBM naik, rakyat yang membayar lebih mahal. Ketika harga kebutuhan pokok meningkat, rakyat pula yang menanggung dampaknya. Saat nilai rupiah melemah, rakyat kembali dipaksa menyesuaikan diri. Pernahkah kita bertanya, mengapa rakyat hampir selalu menjadi pihak pertama yang diminta berkorban? Apakah ini kondisi yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya?

Di tingkat global, keadaan bahkan lebih mencemaskan. Dunia dipenuhi peperangan, krisis pangan mengintai, persaingan geopolitik semakin keras, dan sistem ekonomi global berkali-kali terguncang. Negara-negara besar saling berebut pengaruh tanpa memedulikan penderitaan rakyat kecil.

Peradaban modern menjanjikan kemajuan, tapi gagal menghadirkan ketenangan. Teknologi berkembang pesat, namun kecemasan manusia justru meningkat. Informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan semakin langka. Kekayaan bertambah, namun kepuasan hidup menurun.

Dalam skala internasional, penderitaan bertubi-tubi dialami warga Gaza di Palestina. Penindasan terhadap kaum Muslim di Uyghur, Rohingya, dan Lebanon menunjukkan adanya diskriminasi sistemik dan Islamofobia secara massal. Hal ini menjadi bukti kaum Muslim di berbagai belahan dunia sedang mengalami keterpurukan yang mendalam. Nasionalisme telah memecah-belah umat Islam, sementara para pemimpin negeri-negeri Muslim lebih memprioritaskan agenda domestik dan kepentingan geopolitik nasional masing-masing. Kondisi ini semakin mengakar karena umat Islam tidak lagi memiliki satu kepemimpinan yang berdaulat untuk menyatukan dan melindungi mereka.

Di tengah situasi seperti ini, Tahun Baru Hijriyah seharusnya menjadi momentum evaluasi. Bukan sekadar bertanya berapa usia kita, tetapi ke mana arah perjalanan kita. Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang cerdas adalah orang yang mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian" (HR Tirmidzi).

Saat ini umat Islam menghadapi persoalan yang sangat krusial, baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional. Tantangan modernitas perlahan melunturkan nilai-nilai Islam dari dalam. Tanpa disadari, kehidupan modern telah mengubah cara berpikir, berperilaku, dan menentukan prioritas hidup umat.

Potret umat hari ini menunjukkan kondisi yang jauh dari predikat sebagai umat terbaik. Berbagai persoalan terus membelenggu masyarakat, seperti kemiskinan struktural, krisis moral yang melanda berbagai lapisan, maraknya judi online dan pinjaman online, pelecehan seksual, prostitusi anak yang mencerminkan rapuhnya benteng keluarga, hingga tingginya kasus perundungan dan kekerasan psikis yang mencoreng dunia pendidikan dan kehidupan sosial.

Realitas yang memprihatinkan ini merupakan konsekuensi logis dari penerapan sistem sekularisme-kapitalisme di tengah kehidupan umat. Karena itu, memasuki tahun baru ini, yang lebih penting bukan sekadar mengganti angka tahun, melainkan menghidupkan kembali semangat hijrah. Hijrah dari ketakutan menuju keberanian, dari ketergantungan menuju kemandirian, dan dari sekadar menjadi penonton sejarah menjadi pelaku sejarah.

Inilah makna hijrah yang sesungguhnya. Bukan hanya meninggalkan dosa pribadi, tetapi juga berani meninggalkan cara berpikir yang salah, mencampakkan budaya diam terhadap kemungkaran, dan meninggalkan ketergantungan kepada selain Allah SWT.

Umar bin Khaththab RA, tokoh yang menetapkan kalender Hijriyah, pernah berkata, "Kita adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, Allah akan menghinakan kita." Kalimat ini terasa sangat relevan hingga hari ini.

Banyak negeri Muslim memiliki sumber daya alam yang melimpah, tapi tidak memiliki kemandirian yang memadai. Banyak yang kaya secara alamiah, tetapi miskin secara strategis. Jumlah umat besar, tetapi pengaruhnya kecil.

Sesungguhnya kalender Hijriyah tidak lahir sekadar untuk mengingat perpindahan Nabi dari Makkah ke Madinah. Kalender ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian berhijrah. Sejarah membuktikan, tidak ada peradaban besar yang lahir dari kenyamanan. Peradaban besar lahir dari keberanian untuk berubah.

Momentum Muharram seharusnya mengantarkan kita pada makna hijrah yang hakiki, yaitu meninggalkan sistem jahiliah menuju sistem yang berasal dari Allah SWT dengan menerapkan Islam secara kaffah di bawah naungan Daulah Khilafah, sebagaimana firman Allah SWT, "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu" (TQS al-Baqarah: 208).

Ayat ini menegaskan perintah agar umat Islam menjalankan seluruh aturan Allah SWT tanpa tebang pilih, baik dalam urusan individu maupun kenegaraan. Mengabaikan sebagian hukum Allah dan mengadopsi hukum buatan manusia merupakan bentuk penolakan terhadap hukum terbaik yang telah diturunkan-Nya, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah al-Ma'idah ayat 50, "Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?"

Sesungguhnya Muharram adalah momentum perubahan besar. Untuk mewujudkannya diperlukan pengorbanan dan perjuangan yang luar biasa. Rasulullah SAW telah memberikan teladan yang sangat jelas. Terbentuknya peradaban Islam tidak terjadi dalam semalam ataupun secara kebetulan, melainkan melalui proses panjang dan pergerakan yang terorganisasi sebagaimana beliau dan para sahabat lakukan pada masa kenabian.

Meneladani jalan juang beliau merupakan kewajiban syar'i bagi setiap Muslim. Umat Islam wajib berjuang bersama dalam jamaah dakwah Islam ideologis yang menerapkan metode dakwah Rasulullah SAW secara konsisten, militan, dan tanpa kompromi. Dengan pertolongan Allah SWT, Daulah Islam akan tegak kembali untuk menerapkan syariat Islam secara menyeluruh dan menyatukan umat di bawah satu kepemimpinan.

Kini kuncinya ada pada tekad masing-masing. Jadikan momentum Muharram ini sebagai langkah hijrah secara total, yakni menegakkan Daulah Islam demi menerapkan aturan Allah secara kaffah. Tidakkah jiwa kita terbakar untuk menyambut perubahan besar ini? Inilah saatnya berjuang bersama jamaah ideologis. Pilihannya ada di tangan kita, tetap diam melihat keterpurukan umat atau bangkit menjadi bagian dari sejarah perubahan dunia berikutnya.

Namun ada satu pertanyaan yang sering luput dari perhatian kita. Mengapa umat Islam memiliki kalender sendiri, tetapi hidup dengan arah yang ditentukan orang lain? Di sinilah letak persoalan yang sering terabaikan. Hijriyah bukan sekadar penanda waktu, melainkan simbol peradaban. Menariknya, kalender Islam tidak dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW, bukan pula dari turunnya wahyu pertama ataupun peristiwa Fathu Makkah. Para sahabat justru memilih peristiwa hijrah sebagai titik awal sejarah umat.

Mengapa? Karena hijrah adalah perubahan. Perpindahan dari tekanan menuju kekuatan, dari posisi sebagai objek menjadi subjek, dari umat yang diburu menjadi umat yang memimpin. Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, tetapi berpindah peran dalam sejarah.

Allah SWT berfirman, "Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dizalimi, sungguh akan Kami berikan tempat yang baik di dunia. Dan sungguh pahala akhirat lebih besar, sekiranya mereka mengetahui" (TQS an-Nahl: 41). Ayat ini menunjukkan hijrah bukanlah pelarian, melainkan jalan menuju kemuliaan.

Sayangnya, semangat itu kini semakin pudar. Umat Islam masih memiliki kalender Hijriyah, tapi kehilangan energi hijrahnya. Kita merayakan pergantian tahun, tapi enggan melakukan perubahan yang mendasar. Sampai kapankah kita bertahan dalam kondisi ini dan tidak segera berhijrah untuk masuk ke dalam hukum Allah SWT secara kaffah?[]