Islam Penawar Kekejaman Manusia
Oleh : Tjandra Sari Sutisno, M. Pd., Aktivis Muslimah
Manusia adalah makhluk yang dipenuhi kontradiksi. Di satu sisi, mampu mencintai dengan begitu tulus, menciptakan mahakarya seni yang menyentuh jiwa, dan mengulurkan tangan bagi mereka yang lemah. Namun di sisi lain, sejarah dan realita sehari-hari terus membisikkan sebuah kebenaran yang kelam, manusia bisa menjadi makhluk paling kejam yang pernah berjalan di atas bumi.
Kekejaman manusia tidak selalu berwujud peperangan besar atau tumpahan darah, melainkan sering kali menyusup dalam tindakan sehari-hari terhadap sesama, makhluk lain, dan alam semesta. Sering kali, kekejaman modern tidak lagi menggunakan pedang, melainkan kata-kata.
Misalnya perundungan (bullying) dan penghakiman massal. Di era digital, manusia dengan sangat mudah menghancurkan hidup orang lain hanya lewat ketikan jari. Atas nama kritik atau hiburan, cacian dilemparkan tanpa memikirkan hancurnya mental sang penerima. Ketidakpedulian sosial, kita sering kali memilih menutup mata saat melihat ketidakadilan di depan mata. Melewati tunawisma tanpa rasa iba, atau justru merekam kemalangan orang lain demi konten media sosial alih-alih menolongnya.
Manusia sering merasa sebagai penguasa mutlak planet ini, seolah makhluk hidup lain tidak memiliki hak untuk merasa aman. Mungkin bentuk kekejaman paling ironis adalah bagaimana manusia memperlakukan bumi yang menghidupinya. Seruan "Kejamnya wahai manusia!" bukanlah sekadar ratapan, melainkan sebuah cermin besar yang dipasang di hadapan kita. Kekejaman itu ada karena kita sering kali membiarkan empati kita mati dan membiarkan ego serta egoisme mengambil alih kendali.
Namun, menyadari kekejaman ini adalah langkah awal untuk berubah. Kita tidak bisa menghapus semua kejahatan di dunia dalam semalam, tetapi kita punya kendali penuh atas diri kita sendiri. Kita bisa memilih untuk menjadi manusia yang lebih lembut, lebih peduli, dan lebih menghargai kehidupan di sekitar kita.
Bagaimana pandangan Islam terkait hal ini. Realita mengenai "kekejaman manusia" yang telah dibahas sebelumnya dipandang secara sangat komprehensif. Islam tidak menutupi fakta bahwa manusia memiliki potensi untuk berbuat keji, namun Islam juga memberikan jalan keluar dan tuntunan agar manusia bisa mengendalikan nafsu buruknya tersebut.
Manusia diciptakan dengan membawa dua potensi sekaligus, potensi kebaikan (taqwa) dan potensi keburukan (fujur). Hal ini tersurat dalam Al-Qur'an, yang artinya "Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (TQS. Asy-Syams: 8-10).
Dan ayat tersebut menjelaskan, kekejaman terjadi ketika seorang manusia berhenti menyucikan jiwanya (tazkiyatun nafs) dan membiarkan hawa nafsu serta keserakahan menguasai akal sehatnya. Ketika berada di titik terendah ini, Al-Qur'an bahkan menyebut manusia bisa bertindak lebih sesat dan lebih buruk daripada binatang ternak (QS. Al-A'raf: 179).
Kata "kekejaman" dalam terminologi Islam paling dekat maknanya dengan zalim (menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, atau merugikan hak orang lain). Kezaliman adalah salah satu dosa yang paling dikecam dalam Islam.
Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah SWT berfirman,"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku mengharamkannya di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi" (HR Muslim).
Islam menegaskan setiap bentuk kekejaman atau kezaliman tidak akan menguap begitu saja. Ada konsep dalam Islam yang disebut pertanggungjawaban di akhirat. Rasulullah SAW mengingatkan kezaliman di dunia akan berubah menjadi kegelapan yang pekat bagi pelakunya di hari kiamat.
Islam diturunkan sebagai rahmat bagi semesta alam, yang berarti menolak segala bentuk kekejaman, bukan hanya kepada sesama Muslim atau sesama manusia, melainkan ke seluruh makhluk. Islam melarang keras perundungan, fitnah, ghibah (gosip), dan menyakiti fisik maupun mental orang lain. Bahkan, mencela orang lain dianggap sebagai kefasikan.
Islam melarang keras menyiksa hewan, menelantarkannya, atau menjadikannya target sasaran mainan. Ada kisah terkenal tentang seorang wanita yang masuk neraka hanya karena mengurung seekor kucing hingga mati kelaparan. Bahkan dalam situasi perang sekalipun, pasukan Islam dilarang keras menebang pohon yang berbuah, merusak ladang, atau menghancurkan fasilitas publik. Manusia ditugaskan sebagai khalifah (pemimpin/pengelola) di bumi untuk merawatnya, bukan merusaknya.
Bagi umat Islam, seruan atas kejamnya manusia adalah sebuah pengingat (muhasabah) agar kembali kepada fitrah penciptaan. Islam memandang kekejaman sebagai penyakit hati yang harus diobati dengan iman, takwa, dan penumbuhan rasa empati yang mendalam (ihsan), yaitu kesadaran bahwa Allah selalu melihat setiap gerak-gerik dan goresan luka yang kita buat di dunia ini.[]

Posting Komentar