Solusi Islam dalam Masalah MBG
Oleh : Eri Ermiati, Am. Kep (Penulis Ideologis Lubuklinggau)
Tujuan utama dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah untuk mengurangi angka malnutrisi dan stunting yang masih menjadi permasalahan serius di Indonesia, khususnya pada kelompok rentan. Kelompok tersebut meliputi balita, anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui. Program ini bertujuan untuk memastikan bahwa kebutuhan gizi harian masyarakat. Program MBG juga dirancang untuk menggerakkan ekonomi lokal dengan melibatkan UMKM, petani dan nelayan dalam rantai pasokannya.
Dari bidang pendidik dengan menyediakan makanan bergizi bagi siswa, program ini dapat meningkatkan konsentrasi dan kemampuan belajar mereka. Makanan yang sehat juga dapat mendorong partisipasi siswa dalam kegiatan sekolah dan mengurangi angka putus sekolah, yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia.(kemendikdasmen).
Fakta dilapangan penyebaran MBG untuk anak sekolah tidak merata, sekolah disekitar kota sudah mendapatkan MBG namun di pedesaan rata-rata belum mendapatkan MBG. Yang menjadi pertanyaan bagaimana anak anak yang putus sekolah atau tidak sekolah apakah mereka mendapatkan MBG? Dalam hal ini kita perlu mengkaji ulang bagaimana makanan bergizi ini benar benar bisa tersalurkan berdasarkan tujuannya. Melalui posyandu MBG ini juga disalurkan kepada anak balita,ibu hamil, dan para lansia. Timbul pertanyaan apakah terpenuhi gizi mereka hanya mendapatkan MBG sebulan sekali? Selain itu dilapangan banyak ditemukan kandungan gizi menu MBG tidak memenuhi pilar makanan gizi seimbang. Serta Terjadi beberapa kasus keracunan MBG dibeberapa sekolah. Selama program MBG berlangsung konsumen pasar juga mengeluhkan harga telur, ayam, daging dan beberapa kebutuhan lainnya namun sejak MBG tutup sementara ini beberapa pemosok bahan baku MBG seperti telur mengeluhkan harga anjlok. Ini membuktikan perlu adanya pengkajian ulang program MBG.
Secara umum, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi besar membantu memenuhi kebutuhan gizi anak, tetapi belum sepenuhnya mencukup kebutuhan gizi harian secara total. Menu MBG dirancang untuk memenuhi sekitar 30% hingga 35% dari total Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian anak sekolah.(UGM.ac.id)
Bagaimana keluarga yang kurang mampu secara finansial, bisakah mereka memenuhi 70% kekurangan tersebut?
Dalam hal ini perlu untuk menerapkan sistem Islam dalam semua aspek baik secara ekonomi,pendidikan,kesehatan maupun politik.
Dalam Al Qur'an Surat Adz-Dzariyat ayat 19 membahas tentang kewajiban atau kesadaran umat Islam untuk berbagi harta kepada orang-orang yang membutuhkan, baik yang meminta-minta maupun yang menjaga diri dari meminta.
وَفِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ
Artinya : "Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta."
Dalam hadist yang diriwayatkan HR.Al bukhori mengenai tanggung jawab pemerintah terhadap rakyatnya
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya:"Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam (kepala negara/pemerintah) yang memimpin manusia adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya." (HR. Al Bukhari No. 2554 dan HR. Muslim No. 1829).
Jadi dalam Islam negara memiliki peran penting untuk menciptakan kesejahteraan rakyatnya. Dan Sistem ekonomi Islam memiliki mekanisme untuk menjamin distribusi pangan dan kekayaan berjalan adil.
Dalam Islam zakat, infak, sedekah dan pengelolaan baitul mal berfungsi sebagai penopang bagi masyarakat yang lemah. Islam tidak membiarkan kebutuhan pasar tergantung pada daya beli sementara oleh sebab itu urusan pangan tidak diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar. Sehingga harga pasar stabil. Negara memiliki wewenang untuk menguasai pasar mencegah adanya kecurangan, penimbunan yang merugikan konsumen. Islam juga mengatur kepemilikan SDA, tanah, air tidak dimonopoli segelintir orang hingga merugikan masyarakat luas. Hingga bisa dimanfaatkan oleh semua orang tidak ada tekanan harga dan sebagainya. Islam juga mengatur semua aspek berbasis kemaslahatan umat, tidak ada kepentingan pribadi di dalamnya. Dalam aspek gizi Islam juga mengajarkan prinsip halal serta toyyib, aman, bersih dan berkualitas.
Jadi masalah gizi merupakan tanggung jawab yang kolektif diatur dalam aqidah dan syariat Islam. Negara berperan mengurus rakyat jika negara menjalankan fungsinya secara amanah dan masyarakat terikat nilai ketaqwaan berpegang teguh pada aqidah Islam dan menjalankan syariat Islam dalam semua aspek kehidupan. Maka akan terciptalah kesejahteraan rakyat terpenuhi kebutuhan rakyat maupun negara baik dalam aspek sosial, ekonomi dan politik.
Wallahu a'lam bishawab.

Posting Komentar