-->

‘KAUM PELANGI’ SEMAKIN BERANI UNJUK DIRI


Oleh : Lestari Sormin

Kaum ‘pelangi’ atau yang biasa diasosiasikan dengan LGBT semakin berani menunjukkan diri, baik di tengah masyarakat, sekolah, dunia kampu, terlebih sosial media. Mereka, baik pendukung maupun pengidap sama-sama berupaya untuk menormalisasi penyimpangan ini. Di sosial media sendiri, terlihat banyaknya postingan yang menyatakan dukungan. Bahkan beberapa waktu lalu, sebuah Negara melakukan parade LGBT dengan longmarch dan mengibarkan bendera pelangi sambil mengopinikan dukungannya.

Di lingkungan sekolah juga kerap terlihat beberapa pelajar laki-laki yang bergaya bak perempuan, pun begitu dengan perempuan, beberapa bergaya seperti lelaki. Mereka mulai diterima dikalangan pelajar lain, sering dianggap bahan bercanda atau untuk memberikan penampilan-penampilannya di panggung sekolah. Padahal inilah bibit awal untuk menjadi kaum pelangi yang rusak dan merusak.

Di kampus sendiri juga tak kalah banyak isu LGBT. Kampus yang seharusnya menjadi ruang mendidik generasi cerdas namun ternyata menjadi sasaran empuk pendukung faham liberal. Baru-baru ini pers mahasiswa dari kampus UI mengunggah kampanye penyimpangan dengan dalih menguji sila kedua pancasila terhadap kaum pelangi. Di Sumatera Utara sendiri juga 10 tahun lalu tepatnya tahun 2016, muncul akun facebook dengan nama “LGBT of USU”. Akun tersebut memposting foto-foto mesra ‘kaum pelangi’ dan tuntutan untuk mengakui keberadaan mereka. Pendidikan tinggi pun tidak kalah deras mengisukan kaum ini.

Sesuai data Kemenkes tahun 2025, ada 39.9 juta orang pengidap HIV dan yang paling besar penyebabnya ialah hidup dengan perilaku seks bebas dan seks sesama pria atau gay. Namun ini seperti puncak gunung es, masih banyak orang yang tidak terdata atau tidak terbuka saat pemerintah melakukan survey atau penelitian terkait.

Padahal, Sumatera Utara dahulunya sangat kental dengan budaya yang sarat dengan nilai-nilai Islami. Sejak masuknya Islam ke tanah Deli pada sekitar awal abad ke-17 M. Saat itu Kerajaan Islam di Sumatera Timur yang sekarang termasuk dalam wilayah Sumatera Utara berikutnya menjadi Kerajaan Deli. Budaya dengan agama hidup berdampingan, namun ketika budaya tidak sepadan dengan agama, dengan memaknai agama yang paling tinggi maka budaya akan menyesuaikan dengan agama bukan sebaliknya. Masyarakat tidak lagi mengindahkan syariat namun mulai menormalisasi penyimpangan yang banyak terjadi.

Ide LGBT sendiri digulirkan agar diadopsi oleh masyarakat luas, dianggap budaya yang tidak mengancam, hingga berakhir dengan meninggalkan ajaran agama. LGBT seakan dibiarkan bahkan didukung agar masyarakat menganggap bahwa memang mereka adalah kaum minoritas yang harus diterima keberadaannya, dengan dalih toleransi. 

Sangat lugu jika kita memandang LGBT melenggang tanpa political intent. Sepak terjang negeri Barat secara gamblang menunjukkan kemenangan gerakan politis yang telah digagas sejak lama, termasuk menyusupkan ide feminis dan LGBT ke tengah-tengah kaum Muslimin. Umat Islam dijauhkan dari ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah. Hingga umat Islam menganggap semua ide yang berasal dari Barat adalah baik, padahal sejatinya identitas mereka sedang dilucuti. Tujuan akhirnya adalah Barat tetap langgeng dengan ide sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) dan kaum Muslimin terus ter ‘ninabobokkan’. 

Padahal sesungguhnya, kaum Muslimin telah memiliki ide (fiqrah) dan metode (thariqah) untuk mengalahkan ide-ide Barat termasuk LGBT, yakni menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah satu-satunya pedoman hidup, mulai dari sistem sosial, pendidikan, ekonomi, pemerintahan, dan politik luar negeri. Naif bila kaum Muslimin membiarkan ide sekulerisme –termasuk LGBT terus langgeng di tengah masyarakat bahkan hingga dunia pendidikan. Inilah yang menjadi momok bagi dunia Barat, bangkitnya kembali Islam di tengah kehidupan dalam bingkai Daulah Islamiyah. Wallahua’lam.