Generasi Zero Modal Sosial
Kompas.com, 13/07/2026, salah satu hal yang membuat kehidupan suatu masyarakat berbeda dengan masyarakat lainnya adalah apa yang oleh para sosiolog disebut sebagai modal sosial. Ia bukan sesuatu yang dapat dilihat atau diukur seperti uang, gedung, atau jalan raya. Modal sosial hidup di dalam hubungan antarmanusia: pada rasa saling percaya, kebiasaan saling menolong, keyakinan bahwa orang lain layak dipercaya, serta kesediaan untuk tetap menjaga hubungan meskipun sesekali berbeda pandangan.
Karena itulah, modal sosial sesungguhnya menjadi fondasi yang membuat sebuah masyarakat mampu bertahan, bekerja sama, bahkan bangkit ketika menghadapi berbagai krisis. Namun, di era digital seperti sekarang, fondasi itu sedang mengalami perubahan yang tidak sederhana.
Banyak anak muda mengenal begitu banyak orang, tetapi hanya sedikit yang benar-benar mereka percaya. Mereka memiliki banyak teman berinteraksi, tetapi sangat sedikit orang yang dapat dijadikan tempat bercerita ketika hidup sedang tidak baik-baik saja. Tidak sedikit pula yang mengakui, lingkaran orang yang benar-benar memahami dirinya hanya terdiri atas satu atau dua sahabat.
Di sinilah paradoks Generasi Z mulai terlihat. Mereka hidup di tengah dunia yang penuh koneksi, tetapi belum tentu dipenuhi kedekatan.
Saat ini kita hidup di dalam sistem kapitalisme. Sistem ini dan penerapannya telah merasuki masyarakat di dalamnya dengan akidah sekularisme, tidak terkecuali remaja. Generasi Z ini kemudian terpapar akidah sekuler dan turunannya, seperti hedonisme dan materialisme.
Dalam ideologi ini, nilai yang utama harus diraih dalam kehidupan adalah materi. Sementara itu, nilai akhlak, ruhiyah, dan kemanusiaan dikesampingkan. Semua perbuatan ditargetkan untuk mendapatkan materi.
Standar kebahagiaan menurut ideologi ini adalah mendapatkan sebanyak-banyaknya materi. Materi tersebut dapat berupa materi fisik berupa harta melimpah atau nonfisik, seperti ketenaran dan popularitas. Oleh karena itu, mayoritas remaja akhirnya memandang kehidupan hanya untuk bersenang-senang, jauh dari keinginan untuk berdakwah dan berjuang untuk Islam.
Selain itu, akidah sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan menjadikan remaja gen Z tidak ada semangat untuk menuntut ilmu. Boro-boro tergiur dengan pahala yang besar, terbayang dalam benak pun tidak. Ini karena, selama ini tujuan menuntut ilmu bukan mendapatkan pahala dan rida Allah, tetapi materi semata. Dengan demikian, saat ada profesi yang bisa menghasilkan materi berlimpah tanpa harus bersusah payah menuntut ilmu, itulah jalan yang mereka pilih.
Generasi muda perlu kembali menguatkan hubungan spiritualnya dengan Allah Swt. melalui zikir, tadabur, dan amal saleh. Di dunia yang hiruk-pikuk ini, iman menjadi jangkar kuat yang menjaga hati tetap kukuh.
Budaya komunikasi dan empati juga harus ditumbuhkan kembali. Gen Z perlu dibiasakan untuk saling mendengar dan menyapa, serta berani bercerita tanpa takut dihakimi. Alhasil, keluarga dan sekolah/kampus harus menjadi ruang aman bagi remaja untuk mengekspresikan diri dengan sehat.
Islam menanamkan makna hidup yang lebih dalam: hidup bukan sekadar terlihat sukses, tapi menjadi hamba Allah yang bermanfaat bagi umat. Alhasil, ketika arah hidup ditujukan untuk meraih rida Allah, kesepian pun dapat berubah menjadi kekuatan.
Pada era digital saat ini, penggunaan internet dan media sosial memang tidak dapat dihindari. Meski diciptakan dari industri kapitalisme Barat, media sosial adalah produk teknologi yang pada dasarnya bersifat netral. Islam membolehkan pemanfaatan teknologi untuk kebaikan. Oleh karena itu, penggunaannya harus bijak, yakni digunakan untuk aktivitas yang membangkitkan pemikiran umat, bukan malah tenggelam dalam konten dangkal yang nirfaedah.
Seseorang yang terjebak dalam fantasi koneksi dunia maya dan merasa sepi di tengah keramaian adalah korban dari pemahaman dangkal tentang tujuan hidup dan identitasnya. Dalam Islam, tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah Taala. Identitas seorang muslim adalah sebagai hamba Allah yang hidup di bawah aturan-Nya, bukan mengikuti standar popularitas atau tren semata.
Islam mengajarkan untuk bersosialisasi dan berinteraksi di tengah masyarakat dengan adab dan akhlak syariat, semisal saling menghormati, tolong-menolong, memperbanyak silaturahmi, serta bergaul sesuai batasan yang dibenarkan oleh Allah Taala.
Firman-Nya, “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS An-Nisa: 36).
Dalam masyarakat Islam, negara juga memiliki peran penting dalam mengatur pemanfaatan media digital sesuai dengan syariat. Negara akan mengeluarkan kebijakan yang menjamin informasi disebarkan untuk kemaslahatan umat dan menjaga masyarakat dari pemikiran yang rusak dan menyesatkan.
Di antara upaya negara Islam adalah sebagai berikut. Pertama, mendorong para cendekiawan muslim menciptakan teknologi dan platform media sosial yang edukatif serta bermanfaat. Kedua, mengarahkan media digital sebagai sarana dakwah, amar makruf nahi mungkar, dan penyebaran ilmu. Ketiga, mempermudah akses komunikasi publik antara negara dan rakyat untuk mencegah kesalahpahaman. Keempat, menjadikan media sosial sebagai sarana aspirasi dan kritik yang konstruktif bagi masyarakat terhadap pemimpin.
Islam menawarkan sistem kehidupan yang menyehatkan akal dan jiwa dengan prinsip-prinsip yang menyeluruh dan menenteramkan.
Pertama, menumbuhkan kesadaran spiritual dan intelektual.slam tidak hanya menenangkan jiwa, tapi juga menyehatkan akal. Akal dalam Islam diarahkan untuk berpikir benar, mengenali hakikat diri, dan mengaitkan setiap peristiwa dengan kekuasaan Allah Taala. Dengan begitu, akal menjadi alat untuk menuntun jiwa, bukan sebaliknya.
Kedua, menghidupkan komunikasi dan kepedulian dalam keluarga serta komunitas.Islam mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan.” (HR Bukhari dan Muslim). Islam menolak sikap antisosial. Seorang muslim diperintahkan untuk bergaul, menebar salam, taawun, dan menasihati dalam kebaikan. Hidup di tengah masyarakat adalah fitrah manusia. Dalam kebersamaanlah akal dan jiwa menemukan keseimbangan. Ini karena kesendirian yang berlarut justru membuka pintu kesedihan dan waswas.
Ketiga, membangun pendidikan berlandaskan iman, bukan sekadar prestasi dunia.Sistem pendidikan Islam membentuk manusia yang berpikir kritis yang tetap tunduk kepada wahyu. Ilmu diarahkan untuk kemaslahatan, bukan sekadar kebanggaan pribadi. Akal ditumbuhkan dengan ilmu yang bermanfaat, sedangkan jiwa dikuatkan dengan adab dan ibadah.
Keempat, meneguhkan orientasi hidup pada rida Allah Taala.etika seseorang paham bahwa hidupnya untuk beribadah, ia tidak akan lagi mencari validasi manusia. Ketenteraman lahir dari kesadaran bahwa setiap amal kecil pun bermakna di sisi Allah.
Wallahu a'lam.

Posting Komentar