-->

Tumbal MBG dan Solusi Tambal Sulamnya

Tumbal MBG dan Solusi Tambal Sulamnya

Oleh. Susi Ummu Musa

Dari awal rencana  program makan bergizi geratis (MBG) ini dibuat sudah terjadi pro kontra dikalangan masyarakat maupun pengamat kebijakan, proyek besar ini telah menggelontorkan dana fantastis sebanyak Rp85,37 T tahun 2025 dan naik menjadi Rp268 T tahun 2026 ini. 
Proyek sebesar ini tentu akan menjadi lahan baru bagi para elite politik. 

Terbukti dengan di tangkapnya Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penahanan ini dilakukan pada 3 Juni 2026, sehari setelah ia dicopot dari jabatannya oleh Presiden Prabowo Subianto.Selain Dadan, Kejagung juga menetapkan dua mantan Wakil Kepala BGN, yakni Sony Sanjaya dan Lodewyk Pusung, sebagai tersangka dan melakukan penahanan.

Penetapan tersangka dilakukan setelah Tim Penyidik melalui serangkaian pemeriksaan dan menemukan minimal dua alat bukti elektronik yang cukup," ujar Syarief dalam konferensi pers di Gedung Bundar Kejagung, Jakarta, Rabu (3/6).

Syarief mengungkapkan, modus korupsi ini menyasar anggaran jumbo Program MBG yang mencapai Rp85,27 triliun pada 2025 dan Rp258 triliun pada 2026.

Program yang seharusnya dikelola oleh yayasan sekolah sebagai mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) justru diselewengkan. Para tersangka diduga menggunakan dan mengendalikan yayasan-yayasan yang terafiliasi dengan mereka untuk meraup insentif hingga miliaran rupiah per hari.

Alih alih menghentikan program MBG yang kerap menjadi lahan korupsi namun pemerintah akan terus melanjutkan program tersebut dan langsung mengganti kepala BGN yang baru yaitu Nanik Sudaryati Deyang Ia resmi menggantikan pejabat sebelumnya, Dadan Hindayana, dan dilantik langsung oleh Presiden Prabowo Subianto untuk mengawal program Makan Bergizi Gratis. 

Anehnya persoalan korupsi ini dianggap persoalan personal yang dilakukan oleh kepala BGN  saja padahal banyak juga yang ikut menikmati proyek besar ini. 
Dari pengadaan barang saja sudah berapa milyar yang bisa dikelola hingga berakhir di kantong kantong mereka. 
Misal dari pengadaan 21.801 unit motor listrik seharga Rp 1 T, 32 ribu pasang sepatu, 31 ribu unit tablet dan 5.400 unit TV 75 inci yang harus dibayar APBN.

Hal ini masih terus dilanjutkan untuk mengejar target Indonesia emas yang diharapkan anak anak Indonesia terpenuhi nilai gizinya. 
Lantas, apakah dengan MBG target Indonesia emas bisa terwujud? 
Padahal banyak persoalan lain yang lebih penting dari MBG. 

Kembali kepada mantan kepala BGN Dadan Hindayana yang bisa dikatakan sebagai tumbalnya MBG karena kasus korupsi yang dilakukan dianggap permasalahan personal atau pribadi.
Padahal program MBG  jelas suatu program yang rentan dikorupsi dan alat bisnis bagi para elite politik di negeri ini. 
Solusi yang ditawarkan juga hanya solusi tambal Sulam karena tidak tepat dan salah kaprah. 
Lantas, apa solusi yang tepat bagi negri ini dalam mengurusi rakyat nya? 
Solusi itu hanya kembali kepada Islam kaffah. 

wallahu a'lam bissawab