-->

Lingkungan Religius Tak Luput dari Bullying


Oleh : Dinda Kusuma W T 

Pondok pesantren adalah tempat yang memiliki kemuliaan khusus dalam paradigma masyarakat Indonesia. Pasalnya disanalah pusat pendidikan agama yang komprehensif. Para santri adalah pejuang ilmu yang digadang selain mumpuni ilmu dunia juga ahli dalam ilmu agama, terutama adab dan akhlaq. Namun apa jadinya, jika pesantrenpun hari ini ternyata tidak lepas dari aksi perundungan atau bullying. 

Kasus kekerasan brutal menimpa tiga santri di sebuah pondok pesantren di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kejadian miris ini menyita perhatian publik setelah video para korban beredar luas di media sosial. Peristiwa yang sebenarnya terjadi tahun lalu yaitu pada November 2025 tersebut diduga melibatkan seorang santri senior yang membakar tiga santri junior hingga menyebabkan satu korban meninggal dunia.
 
Menurut korban, kejadiaan naas bermula ketika para korban diduga melaporkan perilaku seorang santri senior kepada pihak pesantren. Tidak terima atas laporan tersebut, pelaku diduga menyimpan dendam. Ketiga korban kemudian disiram bahan bakar sebelum dibakar. Salah satu korban yang selamat mengaku dirinya bersama dua rekannya menjadi sasaran aksi brutal tersebut setelah melaporkan kenakalan seniornya (nu.or.id, 14/06/2026)

Sungguh sebuah tragedi yang menyayat hati. Orang tua tentu telah meletakkan harapan besar ketika menitipkan anaknya di pondok pesantren. Bukan harapan sederhana, namun harapan lebih bahwa pengorbanan mereka memasukkan anaknya ke pesantren dengan segala tantangannya tersendiri akan membentuk anaknya menjadi pribadi unggul.

Namun alih-alih harapannya tercapai, justru mereka harus kehilangan anaknya untuk selamanya dengan cara yang tragis. Yang pasti tidak bisa diterima dengan mudah oleh orang tua manapun. Lalu pertanyaannya, harus kemana lagi orang tua zaman ini mempercayakan anaknya menuntut ilmu?

Bullying marak, baik di sekolah negeri maupun swasta, pinggiran maupun kota, sederhana maupun elite, dan bahkan sekolah biasa maupun sekolah berbasis agama seperti pondok pesantren tak luput dari kesadisan bullying. Padahal, di pesantren seorang siswa atau santri harusnya terkondisi 24 jam berada dalam suasana religius. 

Maraknya perundungan, jelas menunjukkan adanya kelalaian yang sangat besar dari sistem pendidikan saat ini. Sekolah cenderung abai terhadap perilaku muridnya. Bahkan di pesantren, yang kerap terjadi hanya sekedar transfer ilmu. Sangat sedikit yang bersungguh-sungguh memahami ilmu dan menerapkannya dalam sikap dan perbuatan. 

Tidak bisa dipungkiri, pendidikan disekolah atau pesantren bukan satu-satunya pembentuk karakter seorang anak. Generasi brutal yang akrab dengan kekerasan dibentuk oleh gabungan seluruh kenyataan yang dihadapi oleh anak. Baik dirumah, di tempat belajar, maupun di lingkungan masyarakat. Bisa jadi, kondisi rumah si anak mendukung dalam membentuk karakter brutal dan sadis tersebut. Misalnya, sering melihat kekerasan, menjadi korban kekerasan dari orang tua, kurang mendapat perhatian dan lain sebagainya. Atau bisa jadi, kondisi rumah baik-baik saja, namun ketika masuk ke dalam dunia pergaulan disanalah anak terpapar informasi tentang kekerasan. 

Memantau kegiatan anak selama 24 jam penuh, memang mustahil bagi orang tua. Maka pastilah di benak setiap orang tua menaruh harapan besar pada lingkungan sosial masyarakat dan tempat belajarnya agar tidak memberikan pengaruh negatif kepada anak-anak. Namun harapan itu bisa menjadi sebuah harapan yang terlalu besar untuk terwujud di era sekularisme seperti sekarang. Era dimana nilai-nilai agama telah ditinggalkan. Dijauhkan bahkan dipisahkan dari kehidupan. 

Indonesia adalah negara berpenduduk mayoritas muslim, dimana Islam adalah sebuah agama ideologi yang memancarkan berbagai aturan lengkap dan sempurna. Memaksa seorang muslim untuk memisahkan kehidupannya dari aturan Islam, tidak jauh berbeda dengan menyuruh mereka meninggalkan agamanya. Dan cukup aneh jika di negeri berpenduduk mayoritas muslim ini ternyata tidak diterapkan aturan Islam. 

Sesungguhnya, pangkal permasalahan umat saat ini tidak lain adalah diterapkannya sekulerisme. Solusi dan hukum yang dipakai adalah solusi dan aturan buatan manusia. Padahal dalam Islam tersaji lengkap hukum buatan Allah sebagai sang pencipta, yang tertuang dalam Al quran dan Sunnah. Termasuk persoalan pendidikan anak. 

Islam jelas memiliki aturan yang lengkap tentang cara mendidik anak agar memiliki karakter yang kuat dan islami. Negara juga akan menjadi pilar penting dalam pembentukan karakter generasi bangsa. Kurikulum pendidikan harus menunjang terbentuknya akidah Islam yang kuat. 

Tidak ada perbedaan antara sekolah biasa maupun pesantren. Akidah dijadikan sebagai pondasi pendidikan dimanapun tempatnya. Dengan demikian, sejak dini generasi muslim telah memiliki keimanan kuat dan rasa takut kepada Allah. Mereka akan menjadi pribadi-pribadi islami yang tidak mudah merundung. 

Akan tetapi, sistem Islam adalah sebuah sistem komprehensif yang saling berkaitan antar semua lini kehidupan. Baik segi ekonomi, sosial, politik, pendidikan, maupun lini lain dalam kehidupan masyarakat islam. Semuanya menyatu dan saling terkait. Dan berkah atas kesempurnaan aturan islam hanya bisa diwujudkan ketika manusia menerapkan sistem Islam secara total dan menyeluruh, baik di Indonesia maupun diseluruh dunia. Wallahu a'lam bisshawab.