Saat Berita Palestina Mulai Dianggap Biasa, Penjajahan Justru Semakin Mengerikan
Oleh : Kholisotut Tahlia
Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, berita tentang Palestina hampir setiap hari muncul di hadapan kita. Namun, ada satu hal yang perlu kita waspadai: jangan sampai seringnya melihat penderitaan membuat hati kita menjadi terbiasa dan menganggap semua itu sebagai hal biasa. Rasa lelah, bosan, atau memilih menghindari berita Palestina kadang menghinggapi, tetapi penderitaan rakyat Palestina tidak berhenti hanya karena kita berhenti melihatnya. Maka, apakah layak kita mulai tidak peduli?
Tangis Palestina belum usai. Setiap hari, mata dunia masih disuguhi kabar memilukan dari Gaza. Namun ironisnya, semua itu ternyata dianggap biasa oleh para penguasa dunia. Padahal, apa yang dilakukan Zion*s terhadap rakyat Palestina sudah melampaui batas kemanusiaan. Bukan hanya orang hidup yang disiksa dan dibunuh, bahkan mereka yang telah meninggal pun digali dan tidak dibiarkan dikubur di tanah mereka.
Hari ini, rakyat Palestina benar-benar mengalami dehumanisasi—diperlakukan bukan sebagai manusia. Anak-anak dibunuh tanpa rasa bersalah. Rumah sakit dihancurkan. Kamp pengungsian dibombardir. Bahkan jenazah warga Palestina pun tidak boleh dimakamkan dengan layak di tanah mereka sendiri. Ada makam yang dibongkar paksa dan jasad dipindahkan oleh penjajah Zion*s. Sungguh biadab dan mengiris hati nurani.
Data terbaru menunjukkan jumlah korban di Gaza sejak 7 Oktober 2023 mencapai 72.736 orang tewas dan 172.535 lainnya luka-luka. Banyak di antara korban adalah perempuan dan anak-anak. Anak-anak kecil kehilangan kaki, tangan, bahkan seluruh keluarganya akibat serangan brutal Zion*s. Sebagian dari mereka harus menjalani amputasi tanpa obat bius karena fasilitas kesehatan lumpuh akibat serangan.
Belum cukup sampai di situ, wilayah pendudukan Zions makin meluas. Mereka bahkan menyiapkan serangan baru demi memperbesar penjajahan atas tanah Palestina. Gaza juga kini disebut sebagai tempat paling mematikan bagi jurnalis. Lebih dari 300 jurnalis gugur sejak agresi dimulai. Ini menunjukkan bahwa Zions tidak ingin dunia mengetahui kejahatan mereka yang sesungguhnya.
Kaum ibu tentu paling bisa membayangkan bagaimana pedihnya kehilangan anak. Bagaimana hancurnya hati seorang ibu saat melihat buah hatinya meninggal dalam pelukan. Namun inilah yang setiap hari dialami para ibu di Palestina. Anak-anak mereka bukan sekadar kehilangan masa kecil, tetapi juga kehilangan nyawa akibat kebiadaban penjajah.
Yang lebih menyakitkan, Zion*s sama sekali tidak memedulikan kesepakatan gencatan senjata. Dengan dukungan politik, militer, dan keuangan dari Amerika Serikat, mereka terus menyerang Gaza demi memperluas pendudukan dan melanjutkan genosida terhadap rakyat Palestina. Bahkan para jurnalis pun menjadi target pembunuhan agar dunia bungkam dan tidak melihat fakta kejahatan mereka.
Karena itu, dunia Islam seharusnya tidak tinggal diam. Kaum muslim tidak boleh hanya menjadi penonton penderitaan Palestina. Akar masalah Gaza sesungguhnya adalah keberadaan entitas Zion*s di tanah kaum muslim. Selama penjajahan itu masih ada, selama itu pula darah rakyat Palestina akan terus tertumpah.
Sayangnya, lebih dari 50 negeri muslim hari ini tampak tidak berdaya. Penguasanya tidak tergerak untuk melakukan jihad membebaskan Palestina. Nasionalisme telah memecah belah umat Islam. Kaum muslim sibuk dengan batas negara masing-masing hingga ukhuwah Islamiah makin terkikis. Padahal, penderitaan Palestina adalah luka seluruh umat Islam.
Islam sejatinya telah memberikan solusi hakiki. Pembebasan Palestina membutuhkan ukhuwah Islamiah yang nyata, yaitu persatuan umat Islam sedunia dalam satu kepemimpinan Islam. Persatuan ini tidak akan terwujud dalam sistem nasionalisme sekuler yang memecah umat menjadi banyak negara. Persatuan hakiki hanya bisa diwujudkan melalui Khilafah sebagai institusi pemersatu umat tanpa memandang batas kebangsaan maupun mazhab.
Khilafah akan menjadi pelindung kaum muslim, termasuk rakyat Palestina. Dengan kekuatan militer kaum muslim sedunia, Khilafah akan menghentikan pendudukan dan genosida Zion*s serta mengembalikan tanah Palestina kepada pemiliknya yang sah. Tidak hanya itu, Khilafah juga akan meriayah rakyat Palestina agar dapat hidup aman, mulia, dan sejahtera di tanah mereka sendiri.
Karena itu, agenda utama umat Islam hari ini sejatinya adalah memperjuangkan tegaknya Khilafah sebagai qadhiyah masiriyah umat. Sebab hanya dengan institusi inilah kaum muslim memiliki kekuatan politik dan militer untuk membebaskan Palestina serta menghapus entitas Zion*s dari muka bumi.
Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan. Palestina adalah masalah akidah dan kehormatan umat Islam. Maka sudah seharusnya kaum muslim bersatu, peduli, dan mengambil peran dalam perjuangan membebaskan tanah suci tersebut. Sebab diamnya umat hari ini hanya akan memperpanjang penderitaan saudara-saudara kita di Palestina.

Posting Komentar