-->

Harga Kedelai Impor Naik, Perajin Tempe Kian Terhimpit


Oleh : Khusnul. H

Dengan begitu, meskipun di tengah melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang menyebabkan biaya impor kacang kedelai melesat, harga tempe masih terjangkau bagi masyarakat. "Sekarang (harga tempe dan tahu) masih stabil saja. Walaupun naik ya sedikit, tempe kan juga bisa diolah, maksudnya bisa dikurangin, tapi harganya tetap. Misalnya harga kedelai naik, ya, dikurangin, harganya biasa," ungkapnya saat ditemui kumparan, Sabtu (23/5). (kumparan.com, 23/05/26) 

Di sisi lain, beban perajin ternyata tidak berhenti pada kedelai saja, tetapi juga plastik yang biasanya digunakan untuk membungkus selama proses produksi hingga distribusi. Faris mencatat kenaikan harga plastik kemasan kini naik hingga 50 persen selama satu bulan terakhir. (megapolitan.kompas.com,22/05/26) 

Akhir-akhir ini pelemahan nilai rupiah semakin menjadi, hingga mencapai 18 ribu rupiah per dolarnya. Hal ini berimpas pada harga barang impor, terutama bahan baku pembuatan tempe dan tahu. Meski banyak yang bilang kenaikan dolar tidak berpengaruh pada rakyat kecil, tapi faktanya hal ini cukup membuat harga kedelai impor naik semakin tinggi. Padahal Indonesia masih sangat bergantung pada impor pangan tempe hingga mencapai triliunan rupiah. Menurut para pedagang jika mereka menggunakan kedelai lokal hasilnya tidak bisa smaksimal ketika menggunakan kedelai impor. Sehingga mereka tidak mau menggunakan kedelai lokal sebagai bahan balu pembuatan tahu-tempe. Dimana akhirnya para perajin tahu-tempe di berbagai daerah terkena imbasnya, dengan harga kedelai impor yang terus naik, para perajin dengan terpaksa mengurangi ukuran tempe. Karena itu mereka mengambil kebijakan dengan memperkecil ukuran tempe dan mengurangi produksi dari pada menaikkan harga jual tahu-tempe. Hal ini juga berimbas pada keyersedian bahan makanan bagi masyarakat, sehingga kebutuhan pangan masyarakat semakin sulit terpenuhi. Karena bagi masyarakat tahu-tempe adalah lauk yang sangat terjangkau bagi masyarakat menegah ke bawah, hal ini juga akan berimbas pada pemenuhan asupan gizi bagi masyarakat menenggah ke bawah. Belum lagi dengan kenaikan harga plastik kemasan yang ikut menambah beban biaya usaha tahu-tempe. Bahkan para pedagang banyak yang merasa terbebani dengan kanaikan harga plastik ini, dan masih ada kemungkinan kenaikan harga plastik kedepannya. 

Ketergantungan impor kedelai mencerminkan lemahnya kemandirian pangan dan ekonomi negara. Padahal dulu Indonesia termasuk negara penghasil kedelai yang hasilnya bisa mencapai 1,8 ton per tahun di tahun 1992, namun seiring berjalannya waktu hal itu terus menyusut. Hal ini terjadi karena komoditas yang dikembangkan sudah banyak yang beralih pada komoditi lain, seperti beras dan palawija. Selain lahan itu lahan pertanian juga banyak yang beralih fungsi menjadi gedung atau pabrik, di tambah pemerintah tidak mengembangkan risetnya untuk menciptakan benih unggulan agar komoditas kedelai terus menjadi lebih baik dan hasilnya memuaskan sehingga bisa bertahan dipasaran. Hingga masuknya pasar global, masuklah kedelai impor yang kualitasnya jauh lebih baik dan lebih murah. Dari sinilah masyarakat beralih kepada kedelai impor, padahal kedelai impor harganya mengikuti harga dolar jika dolar naik maka harganya akan ikit naik. Nampak jelaslah ketidak seriusan negara dalam mempertahankan kemandirian pnagan ini, seandanya pemerintah lebih peduli dan mengembangkan kualitas kedelai maka tidak perlu rakyat bergantung pada kedelai impor, dan secara tidak langsung hal ini juga sangat berpengaruh pada perekonomian negara. 

Sedangkan dengan pelemahan nilai tukar rupiah semakin meningkatkan nilai dolar yang berimbas secara langsung pada kenaikan harga bahan bakar. Maka tak ayal lagi harga kedelai impor makin melonjak tajam karena biaya distribusi yang tidak bisa ditekan, belum lagi dengan kenaikan harga plastik yang masih dimungkinkan naik lagi maka lengkaplah beban produksi tempe ini. Sehingga rakyat hanya bisa menggurangi ukuran dan produksi karena kalau mereka mnaikkan harga akan berimbas pada pelanggan yang akan berpindah. Dengan naiknya harga kedelai dan plastik ini semakin menunjukkan lemahnya peran negara dalam menjaga keberlangsungan usaha rakyat kecil. Negara hanya memperhatikan keuntungan dan keberlangsungan perekonomian nasional tanpa melihat detail kesulitan rakyat untuk bertahan hidup dengan himpitan ekonomi kapitalis yang ada. Negara tidak berupaya agar usaha para perajin tahu-tempe dan usaha kecil lainnya bisa bertahan hidup dalan sistem ekonomi kapitalis tapi hanya mementingka pertumbuhan ekonomi nasional saja. Sehingga kebijakan yang dilakukan sama sekali tidak memihak pada rakyat kecil terkhusus perajin tahu-tempe ini dan hanya memihak pada pengusaha besar. Maka bisa kita bisa menarik kesimpulan dengan naiknya nilai tukar dolar dan mahalnya kedelai impor menunjukkan rapuhnya sistem ekonomi Kapitalisme yang melahirkan ketergantungan dan menyulitkan rakyat kecil.

Berbeda dengan politik ekonomi dalam Islam yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan pokok tiap individu, termasuk melindungi perajin kecil dari tekanan ekonomi. Sehingga negara berperran penuh untuk melindungi rakyatnya dan menjaga keberlangsungan hidupnya dalam segala aspek kehidupan. Negara islam atau khilafah akan membuat aturan yang mencegah para pedangang untuk menjual hasil sumberdaya setempat keluar wilayah daulah ketika kebutuhan rakyat blm terpenuhi. Dan negara islam akan mengupayakan dengan majukan teknologi untu mengenbangkan komoditas pangan agar menjadi lebih unggul agar mampu mencukupi kebutuhan panggan rakyat dengan sangat baik, hal ini akan mencegah negara islam melakukan impor untuk mencukupi kebutuhan dalam negri, sehingga negara islam menjadi sebuah negara yang memiliki ketahanan panggan untuk seluruh rakyatnya. Dengan demikian negara islam akan meniadi negara yang kuat dan independen dalam segala bidang. 

Kemudian di bidang ekonomi negara akan membuat aturan yang menjamin semua komoditas memiliki harga jual ynag stabil tetapi sangat terjangkau oleh semua kalangan masyarakat. Sehingga para perajin mampu bertahan dan bersaing secara sehat, hal ini juga membantu negara dalam memenuhi kebutuhan rakyat dan mencetak lapangan kerja baru untuk seluruh lapisan masyarakat yang mampu mensejahterakan dan meningkatkan daya beli masyarakat. Disini masyarakat akan mampu meningkatkan penghasilan dan tercukupi kebutuhna panggannya, dengan adanya komoditas pangan strategis akan meningkatkan kemandirina rakyat dan mudah dalam mengakses karena dihasilkan dari dalam nehri sendiri sehingga hal ini akan menekna biaya distribusi. 

Untuk menjaga ketersediaan produksi pangan dan kemudahan distribusi negara harus memperhatikan kesediaan lahan dan kantitas barang produksi. Maka Khilafah membuat kebijakan untuk menghidupkan lahan pertanian dan membangun produksi kedelai mandiri sehingga tidak bergantung pada impor. Disini ada beberapa hal ynag akan dijalankan, pertama, khilafah akan memberikan lahan produktif kepada rakyat secara cuma-cuma kepada orang yang mau mengelolanya. Kedua, dibolehlannya menghidupkan tanah mati kepada tanah yang telah diterlantarkan selama tiga tahun dengan dibawah pengetahuan khilafah, sehingga masalah lahan kaan teratasi. Kemudiaan khilafah akan meningkatkan produksi pangan dengan meningkatkan kualitas bibit menjadi bibit unggul melalui riset para ahli yang dimiliki. Kemudian negara akan memfasilitasi pertanian mulai ketersediaan bibit, pupuk, alat pertanian, irigasi, pestisida, mengadakna penyuluhan, menyiapkan sarana produksi pengolahan hasil, peningkatan distribusi, hingga menjaga dari monopili pasar dan penimbunan. 

Yang hal itu dikuatkan dengan Khilafah menggunakan mata uang emas dan perak sehingga nilai uang lebih stabil dan tidak mudah dipermainkan spekulan. Sehingga khilafah nenar-benar akan menjamin ketahanna pangan dan juga melindungi para perajin dari himpitan tekanan ekonomi.