Rupiah Ambruk, Rakyat Kecil Kian Terpuruk
Oleh : Erna Ummu Azizah
Rupiah kembali mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah di level Rp 18.038 per dollar AS, memicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga barang impor, biaya perjalanan luar negeri, hingga tekanan pada daya beli masyarakat. Nilai rupiah yang semakin ambruk, kian nyata membuat rakyat kecil semakin terpuruk.
Kajian terbaru Center of Macroeconomics and Finance (MacFin) Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) yang dipublikasikan pada Rabu (3/6/2026), menunjukkan dampak pelemahan rupiah tidak berhenti pada sektor keuangan atau perdagangan internasional. Efeknya dapat merembet ke biaya energi, pangan, pakan ternak, hingga berbagai kebutuhan yang digunakan masyarakat setiap hari. (Kompas.com, 4/6/2026)
Ekonomi Indonesia sangat bergantung pada bahan baku impor, nilainya mencapai 70%. Impor ini tersebar pada industri kimia, tekstil, elektronik, minyak dan gas, obat-obatan, hingga kendaraan pribadi. Ketika nilai rupiah melemah, maka harga-harga bahan baku impor ini terkerek naik karena transaksinya menggunakan dollar AS.
Dampaknya terhadap masyakarat, maka sudah bisa dipastikan bahwa biaya hidup sehari-hari akan semakin mahal. Misalnya seperti harga BBM di Pati yang melonjak sampai 4 kali lipat. Rakyat pun semakin menjerit di tengah ekonomi sulit. Gali lubang tutup lubang. Bahkan, tak sedikit yang akhirnya terjerat pinjaman berbunga maupun pinjaman online alias pinjol. Dimana per Januari 2026 saja angka pinjol sudah mencapai Rp98,54 triliun. (Bisnis.com, 3/3/2026)
Sistem Kapitalisme: Akar Masalah
Konstelasi politik Internasional (perang AS-Iran) mempengaruhi aktivitas pasar global. Selat Hormuz di Iran merupakan jalur strategis distribusi minyak dunia. Konflik di jalur tersebut menyebabkan terganggunya pasok energi global. Indonesia sebagai negara importir energi, harus mengeluarkan lebih banyak dollar untuk membeli minyak. Akibatnya permintaan dollar meningkat, dan nilai rupiah melemah.
Mirisnya, pemerintah tidak peka terhadap kondisi masyarakat. Bahkan cenderung meremehkan penderitaan rakyat kecil. Sehingga solusi yang dilakukan pun tidak menyentuh akar masalah. Akibatnya, rakyat semakin terpuruk dan sengsara. Menanggung sendiri beban hidup karena ketiadaan peran negara.
Beginilah hidup di bawah sistem kapitalisme. Inilah akar masalah sesungguhnya, dimana sistem ini hanya berorientasi pada keuntungan materi semata. Negara menjadi lemah karena banyak bergantung pada impor, investasi, pasar global dan dominasi dollar AS. Sementara rakyat harus menanggung dampak krisis yang terjadi.
Sistem Islam: Solusi Hakiki
Berbeda dengan sistem Islam. Dalam Islam, mata uang yang digunakan adalah emas dan perak. Dalam kitab Nidzhamul Iqtishadi fii Islam, Syekh Taqiyyuddin an-Nabhani rahimahullah, menyebutkan bahwa "Sistem mata uang dinar-dirham memiliki keunggulan dikarenakan emas memiliki nilai fisik yang tinggi dan daya tahan yang luar biasa".
Pada dinar-dirham nilai nominal dan intrinsiknya setara juga tahan inflasi. Negara tidak akan mudah mencetak uang karena harus menyesuaikan dengan stok emas dan perak yang dimiliki. Hal ini menjadikan roda ekonomi di masyarakat menjadi stabil.
Islam juga mengatur perdagangan luar negeri, dimana bukan sekadar untuk mencari keuntungan, tapi juga terkait kekuatan ekonomi negara, hubungan politik, bahkan ketahanan politik. Di sinilah negara berperan penting untuk mengatur, misalnya masalah ekspor-impor barang strategis seperti migas.
Sumber daya alam seperti migas, wajib dikelola oleh negara, tidak boleh diserahkan kepada swasta maupun asing. Dan hasil kekayaan alam tersebut harus dikembalikan untuk kemaslahatan rakyat. Negara tidak boleh mengekspor migas sebelum kebutuhan dalam negeri tercukupi. Sehingga rakyat tidak khawatir dengan pasokan energi. Dan negara juga tidak bergantung pada segala macam impor, termasuk impor energi.
Negara dalam Islam, berfungsi sebagai raa'in (pengurus) dan junnah (pelindung), yang wajib melindungi masyarakat dari kesengsaraan hidup dan berbagai kezaliman ekonomi. Oleh karena itu, sudah saatnya kita kembali kepada sistem Islam sebagai solusi hakiki, yang akan membawa rakyat kepada kebaikan dan keberkahan. Wallahu a'lam

Posting Komentar