Penyimpangan Seksual Menggerogoti Kaum Intelektual, Dimana Perisai Ummat?
Oleh : Evi Derni, S.Pd
Aksi kekerasan seksual kembali terjadi di lingkungan pesantren, kali ini pelakunya adalah seorang ustad berinisial MZ (22) yang mengajar di sebuah pesantren kawasan genteng kali Surabaya. Berdasarkan penelusuran kepolisian MZ telah mencabuli 7 orang santrinya. Dalam pengakuannya tersangka mengakui melakukan tindak pidana kekerasan seksual itu kepada murid laki-laki karena takut zina bila ke murid perempuan. (Detik com 11 Mei 2026).
Lagi-lagi ditemukan pelecehan seksual guru besar di kampus negeri dan swasta. Dilain kasus pelakunya seorang ustadz terhadap siswa laki-laki (sesama jenis). Apa yang salah sebenarnya dari sisi tumbuh kembang anak atau pengasuhan anak? bahkan anak itu ada yang hafal Quran pengusung sanad bisa menjadi korban bahkan pelaku.
Untuk lebih mudah memahami fakta ini, pertama kita harus paham biologi otak manusia. Otak berkembang dari arah belakang ke depan, dari belakang ke atas, Ketika lahir manusia dalam keadaan primitif secara biologi otak. Dari 100 miliar neuron tidak ada satupun sel-sel yang menyambung kecuali otak survival atau otak reptil. Otak manusia terbagi 3 pertama survival brain untuk refleksi kebutuhan dasar manusia kedua email brain ada di hippocampus sistem limbrik dan yang ketiga ada intelektual brain atau prefrontal cortex. Jadi dari bagian ini kita harus paham bahwa Allah memiliki tujuan mengapa pada anak survival brain yang berkembang dahulu sedangkan emosional brain (tengah otak) dan intelektual brain belum berkembang (dalam keadaan primitif).
Manusia dilahirkan dalam keadaan primitif supaya manusia memiliki waktu belajar lebih banyak dibanding hewan. Dari sini dampaknya adalah ketika pendidikan itu bagaimana caranya intelektual brain menjadi panglima bagi survival daln emosional. Kita belajar naluri menyukai lawan jenis (seksual) adalah bagian kebutuhan biologi primitif (kemampuan melakukannya) artinya Ketika seseorang memiliki ketertarikan seksual tanpa intelektual maka yang terjadi seperti hewan. Sehingga ketika seseorang jatuh cinta otak yang aktif adalah bagian emosional, pada saat yang sama otak intelektual non aktif sehingga menutup logikanya, makanya ada anak yang pacaran terus disuruh putus oleh orang tuanya malah marah-marah. Dalam bahasa kajian nafsu menutup akal. Maka, ada istilah love is blind (cinta itu buta) karena ketika sudah pacaran berduaan zina dosa neraka itu tertutup.
Karena itu pencegahan agama jangan mendekati zina tidak ujug-ujug menjadi preventif. Maka, siapapun orangnya ketika sudah berduaan membutakan sekalipun seorang guru besar, ustad bahkan seorang ulama juga kebablasan saat melanggar batas-batas pergaulan. Peran pendidikan mestinya agar intelektual jadi panglima dalam kehidupan real (qiyadah fikriyah). Idealnya semakin tinggi kualitas pendidikan seseorang semakin dia akan menghindar untuk melanggar aturan Allah, aturan manusia termasuk norma.
Para ahli menyebutkan bahwa penyimpangan orientasi seksual dalam bahasa kita, walau ada yang menyebutnya orientasi seksual yang berbeda, sesungguhnya tidak ada faktor tunggal melainkan adalah gabungan antara faktor biologi dan lingkungan (faktor nature dan nurture). Berdasarkan penelitian dari grana et all tahun 2009, survei pada 500.000 orang di Inggris, Amerika, Swedia bahwa faktor genetik hanya berkontribusi terhadap 8 sampai 20% terhadap orientasi seksual sesama jenis, artinya terbanyak dari lingkungan, perlakuan yang mereka terima setelah lahir. Kalaupun genetik kita detail kan lagi ternyata genetiknya dipengaruhi oleh lingkungan yang terutama saat pranatal atau sebelum hamil, apa yang Ibu rasakan apa yang ibu lakukan waktu hamil itu mempengaruhi termasuk stres ibu.
Di dalam buku we are our brain karya Dex swap dokter university of Amsterdam tahun 2018, menyatakan perempuan hamil yang menderita stres lebih mungkin melahirkan anak homoseksual karena hormon stress mempengaruhi produksi hormon seks, jadi cara melindungi janinnya adalah dia akan menulis hormon-hormon tertentu yang membuat anak laki-laki jadi lebih feminim. Beliau juga menyebutkan bahwa paparan nikotin atau amfetamin sebelum melahirkan meninggalkan kemungkinan perempuan menjadi lesbian maka ibu harus menjaga diri dari perokok pasif. Kedua, faktor yang mempengaruhi terjadinya penyimpangan seksual yang terbanyak adalah faktor lingkungan (nurture) pengaruh lingkungan keluarga 43%, lingkungan pertemanan yang membuat orang menyimpang atau tidak, faktor-faktor yang mencakup pengalaman masa kecil pola asuh, trauma psikologis, paparan terhadap konten tertentu.
Kesimpulannya adalah harus tetap sesuai dengan aturan Agama. Pada faktor lingkungan pergaulan ada adab-adab pergaulan yang paling banyak mempengaruhi Allah mengingatkan bagaimana penyesalan se-seorang yang salah memilih teman, dalam QS.Furqon ayat 28," celakalah aku sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrabku". Kita membutuhkan agama untuk mencegah dari melakukan perbuatan yang menyimpang. Itulah tujuan dari syariat untuk mencegah kerusakan-kerusakan.
Jika sudah terlanjur terjadi penyimpangan seksual maka yang pertama adalah relasi hubungan cinta, kasih sayang dengan orang-orang yang positif yang terdekat, seperti keluarganya harus dibangun dengan baik, supaya dia tidak kehausan dengan pleasure di tempat lain. Kedua hijrahnya atau taubat memang harus total. Karena itu di dalam syariat Ketika seseorang melakukan penyimpangan seksual hukumannya hukuman mati, karena itu akan dilihat oleh publik yang melakukan jera karena takut dan tidak akan menularkan pada orang lain karena langsung vonis mati. Terlebih lagi yang sejenis tidak ada cara lain. Dengan penerapan sistem hukum Islam dalam institusi khilafah, berbagai kasus pelecehan seksual terhadap lawan jenis dan juga kasus penyimpangan seksual sejenis akan dapat dicegah.
Wallahu a’lam bishawab

Posting Komentar