-->

Nilai Rupiah Melemah, Beban Rakyat Makin Bertambah

Oleh : Nasiroh, Aktivis Muslimah 

Permasalahan di negeri ini semakin runyam bak benang kusut yang makin hari makin rumit. Belum selesai masalah korupsi, kemiskinan, kesenjangan ekonomi dan PHK massal. Ditambah nilai tukar rupiah yang semakin melemah membuat beban rakyat semakin bertambah parah. 

Melalui pesan suara, per 7 Juni 2026, Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi  memperkirakan nilai tukar rupiah akan terus melemah menjadi 19 ribu per dolar Amerika Serikat pada akhir bulan Juni ini. Kemudian untuk transaksi selama pekan depan, Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah berada di rentang 17.950–18.250 per dolar Amerika. Ia mengatakan tren pelemahan rupiah hingga level terendah dalam sejarah akan terus berlanjut jika gejolak geopolitik masih berlangsung dan bank sentral Amerika Serikat mempertahankan dan menaikkan suku bunga (Kompas.com. 7/6/2026). 

Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah tidak hanya oleh faktor moneter, melainkan kombinasi masalah eksternal dan domestik. Ia mengatakan, dari sisi global yaitu karena faktor geopolitik di Timur Tengah yang masih menjadi faktor utama, Konflik yang terjadi antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel berpengaruh pada meningkatnya pasar keuangan dunia.

Indonesia termasuk negera importer seperti bahan baku, energi maupun industri dalam negeri yang merupakan 70% nya dari impor, menyebabkan menyebabkan biaya operasional dan harga bahan kebutuhan pokok semakin melambung tinggi. Bahkan, pelemahan rupiah berdampak pada kenaikan harga pangan impor seperti gandum dan kedelai, dan ini berpotensi memengaruhi harga produk turunan seperti tahu, tempe, roti, hingga mi instan di pasaran. 

Selain itu biaya logistik dan produksi pun ikut mengalami kenaikan, sehingga memberi tekanan pada pelaku UMKM dan daya beli masyarakat. Imbas dari kenaikan harga sejumlah komoditas pangan semakin menambah beban kebutuhan rakyat. 

Ini semua terjadi karena sistem kapitalisme menjadikan impor lebih besar dari pada ekspor, maka kebutuhan valuta asing terutama dolar AS meningkat sehinga menekan nilai rupiah.  Kemudian inflasi domestik yang tinggi, menyebabkan harga-harga di Indonesia naik lebih cepat di banding negara lain. Pertumbuhan ekonomi yang melemah, defisit anggaran dan utang luar negeri mengakibatkan meningkatnya permintaan valuta asing. 

Faktor lainnya karena sistem sekularisme, liberal yang memisahkan syariat Islam dari urusan ekonomi sehingga menjadikan perekonomian dalam negeri semakin menurun. Solusi yang diberikan oleh pemerintah pun tidak mampu menyelesaikan masalah. 

Karena solusi mendasar tidak hanya menaikan intervensi pasar melainkan harus menerapkan sistem ekonomi Islam secara menyeluruh. Yaitu dengan menghapus riba, kemudian menggunakan standar emas dan perak sebagai basis mata uang, mengelola sumber daya alam milik umum, mengurangi ketergantungan pada hutang luar negeri dan sistem keuangan internasional. 

Sejatinya Islam tidak hanya mengatur urusan ibadah saja, melainkan mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk dalam urusan ekonomi dan negara, dengan sistem Islam ekonomi akan stabil dan rakyat akan sejahtera.[]