-->

Fenomena Hikikomori, Masalah Kepribadian dan Solusinya


Oleh : Imam Suyudi. Aktivis Pendidikan

Sungguh sakit banget ketika anak dikasih makan, dikasih pakaian bermerek, difasilitasi kamar ber-AC plus gawai paling canggih. Orang tua? Mereka tidak salah sepenuhnya, mereka harus kerja 12 jam sehari karena UMP tidak pernah cukup untuk cicilan, tagihan, dan mimpi sederhana bernama "hidup layak." Istrinya pun ikut kerja, karena satu gaji tidak lagi cukup sejak harga beras memutuskan untuk ikut-ikutan inflasi. Anak diam di kamar, tidak keluyuran, tidak ikut tawuran. Aman, pikir kita semua, termasuk negara yang memang sejak dulu nyamannya berpikir urusan tumbuh kembang anak adalah urusan keluarga saja.

Tapi mendadak, anak itu menolak sekolah, menolak keluar kamar, bahkan menolak bicara. Mereka resmi masuk kategori hikikomori yakni fenomena yang dulu kita kira hanya milik remaja Jepang yang terlalu banyak makan mie instan dan menonton anime. Hikikomori adalah kondisi seseorang menarik diri secara total dari kehidupan sosial, mengurung diri berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, memindahkan seluruh eksistensinya ke dalam layar. 

Di Jepang, pemerintahnya sampai membentuk Kementerian Kesepian karena sadar ini adalah krisis nasional. Di Indonesia? Kita masih sibuk debat kurikulum yang berganti setiap ganti menteri seolah mengganti nama mata pelajaran sama dengan memperbaiki jiwa generasinya.

Sungguh sakit banget dan ini bukan perasaan. Ini angka. Per 2024–2025, Indonesia mencatat 1,5 hingga 2 juta remaja berisiko tinggi yang mengalami kecanduan digital sedang-berat disertai gangguan kecemasan dan depresi klinis. Dua juta. Bukan dua juta followers. Bukan dua juta views. Dua juta jiwa muda yang masa depannya sedang berjalan menuju titik buntu, di kamar-kamar sunyi yang dibiayai orang tua yang kelelahan bekerja untuk negara yang pajaknya naik tapi layanan publiknya tidak ikut naik.

Ketuk saja pintu kamar anak-anak kita secara acak malam ini. Kalian dengan mudah akan menemukan generasi yang jiwanya "sakit", perhatiannya habis disedot algoritma, dunianya ciut hanya seukuran layar beberapa inci, dan nama tetangga sebelah rumah pun sudah tidak dikenal lagi.

Siapa yang paling bertanggung jawab atas ini? Mari kita jujur dan mari kita tunjuk ke arah yang benar. Sistem hari ini punya nama resmi: Kapitalisme. Dan kapitalisme bekerja dengan sangat konsisten, segala sesuatu diukur dari nilai pasarnya, termasuk manusia. Orang tua diukur dari produktivitas ekonominya. Anak diukur dari nilai rapornya. Bahkan untuk menjadi pintar pun tidak bisa gratis, sekolah bagus butuh uang, les butuh uang, kuliah butuh uang, dan kalau tidak punya uang? Tenang, ada pinjaman pendidikan yang bunganya siap menemani hidupmu sampai usia 40-an.

Negara yang ideologinya kapitalisme tidak punya kepentingan membentuk manusia yang berkarakter, yang dibutuhkan hanyalah tenaga kerja yang produktif, konsumen yang konsumtif, dan wajib pajak yang patuh. Maka jangan heran ketika tidak ada satu pun regulasi serius yang membatasi platform digital atau konten adiktif yang secara klinis terbukti menghancurkan kesehatan mental remaja. 

Negara-negara lain bergerak: Australia melarang media sosial untuk anak di bawah 16 tahun, Cina membatasi screen time game online untuk pelajar. Di sini? Judi online saja butuh ribuan korban sebelum pemerintah mau benar-benar bergerak dan setelah bergerak pun, masih bisa diakses dengan satu klik VPN gratisan.

Pemerintah juga tampaknya lupa bahwa orang tua yang kelelahan bukan orang tua yang malas. Mereka korban kebijakan kesejahteraan yang tidak pernah serius dibenahi. Ketika upah minimum tidak mampu mengejar biaya hidup, ketika tidak ada jaminan kerja yang layak, ketika cuti parenting masih dianggap kemewahan kelas atas, maka yang terjadi adalah ayah dan ibu yang pulang sudah terlalu habis untuk sekadar duduk menemani anak. Gawai menjadi pengasuh pengganti bukan karena orang tua tidak sayang, melainkan karena negara tidak pernah cukup hadir untuk meringankan beban mereka.

Dan hasilnya? Generasi yang setelah 12 tahun sekolah, sekolah yang kurikulumnya ganti terus tapi rohnya jalan di tempat memilih mengurung diri di kamar dengan dalih "cari uang online." Tidak ada yang salah dengan kerja digital. Yang salah ketika itu menjadi pelarian, bukan pilihan. Ketika mereka lebih nyaman dengan strangers di discord daripada dengan keluarga di meja makan. Ketika nama tetangga yang sudah 5 tahun tinggal di sebelah pun tidak diketahui, karena dunia sosial mereka sudah sepenuhnya pindah ke server yang letaknya di negara lain.

Inilah buah dari sistem yang mendidik anak untuk survive dalam pasar, bukan untuk hidup sebagai manusia. Sistem yang menghasilkan individu-individu kompetitif tapi kesepian, produktif tapi hampa, terhubung secara digital tapi terputus secara jiwa. Ini bukan krisis keluarga semata. Ini krisis ideologi.

Lalu apa solusinya? Jangan bilang "edukasi digital" atau "parenting workshop", itu seperti memberi plester pada luka yang butuh operasi. Islam punya jawabannya. Dan bukan jawaban baru, ini jawaban yang sudah teruji peradaban.

Islam mengenal konsep Syakhshiyah Islamiyah, pembentukan kepribadian Islam secara menyeluruh dan utuh. Bukan sekadar anak yang rajin shalat dan hafal doa makan, tapi pribadi yang Aqliyah-nya (pola pikirnya) terbangun di atas standar halal-haram, bukan standar likes dan dopamin instan. Pribadi yang Nafsiyah-nya (pola sikapnya) berpijak pada akidah Islam secara total sehingga ketika dunia maya menawarkan ilusi, mereka punya benteng ideologis yang tidak goyah hanya karena satu konten viral.

Kepribadian Islam yang terbentuk secara utuh melahirkan manusia yang bukan hanya kuat secara mental, tapi juga peduli kepada saudara seiman dan sesama manusia. Mereka tidak akan hidup seukuran layer karena visi hidupnya adalah ridha Allah dan kemanfaatan untuk umat. Tetangga bukan lagi orang asing. Komunitas bukan sekadar grup WhatsApp. Dan kesepian yang mewabah di era digital ini tidak akan menemukan tempat tumbuh di hati yang dipenuhi kesadaran akan tanggung jawab sosial Islami.

Tapi dan ini penting pembentukan Syakhshiyah Islamiyah tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada keluarga yang kelelahan. Di sinilah kapitalisme kembali gagal secara sistemik, dan di sinilah Islam menawarkan solusi struktural yang kapitalisme tidak pernah bisa berikan.

Dalam sistem Khilafah Islam, negara bukan sekadar regulator pasar atau kolektor pajak, negara adalah pengurus urusan umat (raa'in) yang bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan setiap warganya. Termasuk pendidikan. Pendidikan dijamin gratis, berjenjang, dan berkualitas untuk setiap warga bukan hanya untuk yang mampu membeli kursi di sekolah favorit, bukan hanya untuk yang lolos seleksi beasiswa, tapi untuk semua. Karena dalam Islam, ilmu adalah hak, bukan komoditas.
Dan inilah bedanya dengan sistem hari ini yang bangga dengan "sekolah gratis" tapi diam-diam meminta uang seragam, uang buku, uang ini, uang itu.

Di bawah sistem Islam, teknologi pun tidak akan berlari ke arah yang salah. Ilmuwan dan inovator yang kepribadiannya terbentuk dari Syakhshiyah Islamiyah tidak akan mengembangkan algoritma yang sengaja dirancang adiktif demi mengeruk waktu dan uang pengguna. Teknologi dalam peradaban Islam bukan alat kapital, melainkan alat kemajuan dan kesejahteraan umat — rahmatan lil 'alamin yang bukan slogan, tapi arah kebijakan nyata.

Bayangkan negara yang ilmuwannya berlomba bukan untuk IPO tapi untuk solusi. Yang teknologinya diarahkan bukan untuk membuat anak-anak kecanduan, tapi untuk mencerdaskan peradaban. Yang orang tuanya tidak perlu memilih antara nafkah dan kehadiran — karena negara hadir menanggung beban yang selama ini dipaksa ditanggung sendirian oleh keluarga-keluarga kecil yang kelelahan. Itu bukan utopia. Itu pernah ada. Dan itu bernama peradaban Islam.

Maka ya, orang tua, letakkan HP-mu. Itu tetap langkah pertama yang harus diambil sekarang, hari ini, malam ini. Contohkan ibadah yang nyata. Gandeng tangan anak-anakmu, ajak shalat berjamaah, rasakan kembali kehangatan yang selama ini digantikan dinginnya layar kaca. Bangun kembali kepribadian mereka di atas fondasi yang kokoh bukan di atas dopamin instan dan validasi algoritma.

Tapi bersamaan dengan itu, tagih juga ke negara dan pertanyakan sistemnya. Tagih kebijakan upah yang manusiawi agar orang tua tidak perlu memilih antara nafkah dan kehadiran. Tagih regulasi digital yang serius agar algoritma tidak lebih bebas berkeliaran daripada anak-anak kita. Dan mulailah jujur bertanya: apakah sistem yang menjadikan segalanya komoditas ini memang layak kita pertahankan atau sudah saatnya kita bicara tentang sistem alternatif yang menempatkan manusia, bukan modal, sebagai pusatnya?

Cinta kepada generasi ini tidak boleh kalah oleh rasa lelah. Baik lelah orang tua, maupun lelahnya kita berpura-pura bahwa sistem yang ada sudah cukup. Kita semua adala pemimpin dan pemimpin yang paling harus ngopenin kita adalah pemipin negara. "Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang ia urus" (HR Bukhari dan Muslim.

Pemimpin yang memiliki syaksiyah Islamiyah hanya bisa di dapat dengan sistem Khilafah. Hayu atuh perjuangkan dengan gabung bersama jamaah Islam kaffah.[]