-->

Menghidupkan Iman, Langkah Konkrit Menjemput Rezeki Ilahi dan Mengoreksi Sistem yang Rapuh


Oleh : Henise

Pernyataan bahwa "Allah menjamin rezeki kita saat Dolar Rp6.000 maupun Rp18.000" seperti yang termuat dalam pesan di berbagai kanal media sosial adalah sebuah kebenaran akidah yang fundamental. Keyakinan ini adalah jangkar yang menjaga hati seorang Muslim agar tidak tenggelam dalam kecemasan di tengah badai ekonomi global.
Namun, agar keimanan ini menjadi kekuatan yang hidup, kita perlu memahaminya secara utuh. Jaminan rezeki dari Allah tidak boleh dijadikan alasan untuk bersikap apatis atau memaklumi keadaan yang serbakuat akibat salah urus. Sebaliknya, iman yang menghujam di dada seharusnya melahirkan energi gerak untuk melakukan ikhtiar konkrit, membongkar akar masalah ekonomi, dan memperjuangkan solusi yang diridhai Allah SWT.

Membongkar Akar Masalah: Kerapuhan Sistem Kapitalis Sekuler

Mengapa nilai mata uang bisa anjlok begitu tajam hingga memicu lonjakan harga barang? Fenomena ini bukanlah takdir yang turun begitu saja dari langit tanpa sebab, melainkan akibat nyata dari diterapkannya sistem ekonomi Kapitalis Sekuler.
Sistem ini memisahkan aturan agama dari kehidupan publik dan bertumpu pada pilar-pilar yang rapuh serta diharamkan dalam Islam:
Sistem Moneter Berbasis Fiat dan Riba : Mata uang tidak lagi disandarkan pada komoditas berharga yang stabil (seperti emas dan perak), melainkan pada kertas kosong yang nilainya mengambang dan sangat rentan dipermainkan oleh spekulasi pasar serta suku bunga (riba).

Pemberhalaan Kebebasan Kepemilikan : Sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak—yang seharusnya dikelola negara untuk rakyat—justru diserahkan kepada korporasi swasta dan asing. Akibatnya, kekayaan hanya berputar di segelintir orang kaya, sementara rakyat banyak menanggung beban hidup yang kian menjepit.
Ketika sistem yang rusak ini diterapkan, krisis ekonomi akan terus berulang secara berkala. Menghadapi situasi ini dengan sekadar pasrah sambil berkata "rezeki sudah dijamin" adalah bentuk kesalahpahaman dalam beragama. Iman yang benar justru menuntut kita untuk bergerak melakukan perbaikan.

Langkah Konkrit Manifestasi Iman terhadap Jaminan Rezeki

Sebagai Muslim yang memahami akidah dengan lurus, berikut adalah langkah konkrit yang wajib kita ambil sebagai perwujudan iman kita kepada Allah yang Maha Penjamin Rezeki:
1. Mengaktifkan Akal untuk Ikhtiar Inovatif di Ruang Sebab-Akibat
Keyakinan bahwa rezeki tidak akan tertukar diletakkan di dalam hati untuk melahirkan ketenangan (thuma'ninah). Setelah hati tenang dan bebas dari ketakutan akan kemiskinan, akal kita harus bekerja keras membaca hukum sebab-akibat (sunnatullah).

Aksi Nyata: Di tengah himpitan ekonomi akibat sistem kapitalis, seorang Muslim harus tetap kreatif dan tangguh. Kita wajib mengasah keahlian baru, mencari peluang usaha yang halal, serta membangun kemandirian ekonomi keluarga tanpa terikat pada jebakan-jebakan ribawi. Kita menjemput rezeki dengan profesionalisme tertinggi, sembari meyakini hasilnya mutlak di tangan Allah.

2. Menunaikan Kewajiban Memberikan Nasihat yang Baik kepada Penguasa
Sebab-akibat buruk dari kebijakan ekonomi makro yang salah akan menimpa seluruh rakyat. Oleh karena itu, bagian dari ikhtiar nyata seorang Muslim adalah mengawal urusan publik (siyasah) agar berjalan di atas keadilan.

Aksi Nyata: Sadar bahwa rezeki, jabatan, dan masa depan kita mutlak di tangan Allah—bukan di tangan penguasa—seharusnya melahirkan keberanian ideologis. Manifestasi iman yang konkrit adalah dengan melakukan muhasabah lil hukkam (mengoreksi penguasa) dan memberikan nasihat yang makruf. Kita wajib mengingatkan para pemimpin agar tidak sembrono mengelola anggaran, tidak membebani rakyat dengan pajak yang zalim, dan menghentikan ketergantungan pada utang berbasis riba. Nasihat ini disampaikan sebagai wujud kasih sayang agar pemimpin tidak tergelincir dalam dosa kezaliman yang berkepanjangan.

Solusi Tunggal: Penerapan Syariat Islam secara Menyeluruh (Kaffah)

Segala bentuk ikhtiar parsial—seperti sekadar bertahan hidup atau sekadar menuntut perbaikan regulasi kecil—tidak akan pernah cukup selama fondasi sistemnya masih menggunakan Kapitalisme Sekuler. Solusi hakiki atas karut-marut ekonomi ini hanya akan terwujud melalui penerapan Syariat Islam secara menyeluruh (kaffah) dalam institusi negara.

Mengapa Syariat Islam adalah jawaban tunggal atas krisis ini?

Sistem Mata Uang yang Stabil :

Islam mewajibkan mata uang berbasis dinar (emas) dan dirham (perak) atau mata uang kertas yang di-back up penuh oleh emas dan perak. Sistem ini terbukti secara historis bebas dari inflasi gila-gilaan dan kebal dari permainan spekulasi global.
*Pengelolaan Kekayaan Publik yang Adil*: Dalam syariat Islam, sumber daya alam yang melimpah (seperti tambang, minyak, gas, dan hutan) dikategorikan sebagai kepemilikan umum (milkiyyah ammah). Negara wajib mengelolanya secara mandiri dan mengembalikan seluruh hasilnya untuk kesejahteraan rakyat dalam bentuk fasilitas pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur gratis maupun murah.

Penghapusan Sektor Non-Riil dan Riba :

Islam secara tegas mengharamkan transaksi ribawi, perjudian ekonomi (spekulasi saham/valas), dan menimbun harta. Dengan demikian, aliran uang akan selalu berputar di sektor riil yang menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat luas.

Kesimpulan

Memahami jaminan rezeki secara komprehensif adalah perpaduan yang indah antara keteguhan tauhid di dalam hati, kerja keras dalam ikhtiar harian, serta keberanian berjuang membongkar kebobrokan sistem Kapitalis Sekuler yang menyengsarakan umat.

Oleh karena itu, ketika Rupiah anjlok dan beban hidup meningkat, tanggapan terbaik kita bukanlah diam membisu atas nama tawakal. Justru, keimanan kita harus menjelma menjadi kesadaran politik dan ideologis untuk bangkit bersama-sama menyuarakan kebenaran, mengoreksi kebijakan yang zalim, dan memperjuangkan tegaknya tatalaksana ekonomi yang sejalan dengan Syariat Allah SWT secara kaffah. Itulah satu-satunya jalan menuju keberkahan dan keadilan yang hakiki.
Wa'allahu 'alam