Menggugat Kedzaliman di Gaza, Saat Dunia Bungkam, Islam Menawarkan Solusi
Oleh : Kanti Rahayu (Aliansi Penulis Rindu Islam)
Dunia kembali diguncang oleh rekaman video yang beredar luas di platform X pada 20 Mei 2026. Video tersebut mempertontonkan penyiksaan brutal terhadap para aktivis kemanusiaan yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla. Amarah publik meledak. Perdana Menteri Italia secara tegas menyatakan bahwa tindakan Israel tersebut tidak manusiawi. Kecaman pun mengalir dari berbagai negara, termasuk Spanyol dan lembaga internasional PBB, yang menuntut penjelasan atas aksi biadab tersebut.
Namun, video itu hanyalah puncak gunung es dari kejahatan yang lebih sistemik. Kesaksian sembilan aktivis asal Indonesia yang baru saja dibebaskan mengungkap kengerian yang lebih dalam: mereka mengalami pelecehan seksual, kekerasan fisik, hingga intimidasi dengan suara tembakan selama dalam tawanan tentara Israel (BBC, 19/5/2026).
Fakta ini seharusnya sudah lebih dari cukup untuk menjadi bukti nyata betapa kejinya praktik penjajahan Israel. Sayangnya, sikap dunia Barat justru kontras; mereka cenderung diam. Israel sengaja merilis dokumentasi kekejaman tersebut sebagai bentuk teror psikologis: sebuah pesan arogan bahwa siapa pun yang berani membela Palestina akan menerima nasib yang sama.
Paradoks Dukungan dan Kelemahan Hukum Internasional
Keberanian Israel untuk terus menebar kejahatan tidak lepas dari dukungan penuh Amerika Serikat dan tumpulnya hukum internasional. Amerika menjadi tameng utama bagi setiap pelanggaran yang dilakukan Israel. Ada standar ganda yang mencolok di sini: jika pelecehan atau kekerasan serupa dilakukan oleh pihak Muslim, dunia akan segera bergerak melakukan pengecaman massal dan menuntut pengadilan internasional. Namun, ketika Israel yang menjadi pelaku, narasi "bela diri" selalu dikedepankan.
Di tengah situasi ini, sikap para penguasa di negeri-negeri Muslim menjadi sorotan yang menyakitkan. Alih-alih bertindak nyata membantu rakyat Palestina yang kini dihujani rudal dan kelaparan, banyak di antara mereka yang justru menutup mata dan telinga. Sebagian bahkan terjebak dalam kerja sama strategis dengan Amerika Serikat.
Mengapa Penguasa Muslim Terkesan Tak Berdaya?
Ketidakberdayaan ini bukan kebetulan. Mereka seolah terbelenggu oleh sistem sekuler yang hanya mementingkan keuntungan pragmatis (manfaat), yang pada akhirnya mematikan empati dan keberanian. Keengganan para penguasa untuk bertindak melukai hati umat dan membuktikan bahwa mereka belum mampu menjalankan amanah kepemimpinan—yakni melindungi kehormatan dan nyawa saudara sesama Muslim.
Palestina hari ini tidak hanya membutuhkan bantuan medis atau logistik. Mereka membutuhkan kekuatan besar yang mampu menyingkirkan penjajah dari tanah mereka.
Jalan Keluar: Penyatuan di Bawah Sistem Islam
Sudah saatnya umat Islam, khususnya para penguasa, menyadari bahwa persoalan Palestina adalah persoalan eksistensial yang hanya bisa diselesaikan dengan perubahan paradigma mendasar. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 110, umat Islam adalah khaira ummah yang berkewajiban melakukan amar makruf nahi mungkar.
Israel tidak bisa dilawan hanya dengan perjanjian atau gencatan senjata yang terus diingkari. Palestina membutuhkan "perisai" yang kuat. Sistem Islam—di bawah naungan kepemimpinan seorang Khalifah—adalah jawaban untuk menyatukan kekuatan umat Islam di seluruh dunia.
Di bawah sistem ini:
Kepemimpinan yang Amanah: Khalifah akan menyatukan pikiran dan perasaan umat berdasarkan satu akidah yang benar. Seruan Jihad: Kepemimpinan akan menyerukan jihad untuk membebaskan tanah yang terjajah, bukan sekadar diplomasi yang tak berujung.Persatuan Politik: Umat Islam akan merasa tenang karena memiliki pelindung yang nyata, yang menganggap keselamatan rakyatnya sebagai prioritas utama.
Mewujudkan sistem ini memang bukan perkara mudah; ia memerlukan perjuangan panjang dan kesadaran kolektif untuk terus melakukan dakwah dan amar makruf nahi mungkar. Namun, bagi banyak pihak, ini adalah satu-satunya jalan agar Palestina dapat kembali ke pangkuan umat Islam dengan martabat yang terjaga.

Posting Komentar