-->

TANTANGAN DAKWAH DI ERA “POST TRUTH”


Oleh : Ummu Qithath
(Ibu Peduli Umat)

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan tantangan menjadi pemimpin komunitas berlabel agama di era saat ini jauh lebih berat dibandingkan masa lalu. Dulu standar kebenaran yang dimunculkan dari kitab suci sangat pakem dan cukup legitimasi dari tokoh-tokoh adat dan tokoh-tokoh masyarakat pasti bisa jalan. Tapi di era post-truth saat ini, menyampaikan konten agama tidak cukup hanya mengandalkan rujukan tekstual dari kitab suci. Karena faktanya saat ini membuktikan adanya kebenaran di tengah masyarakat yang tidak didukung oleh referensi yang valid secara intelektual justru menang dan dianggap hebat.  

Inilah era saat emosi, persepsi dan opini lebih berpengaruh daripada fakta dan kebenaran objektif, dimana konten creator, youtuber, influencer, dan isu yang viral lebih dipercaya rakyat daripada pemuka agama. Karenanya para pemimpin umat untuk tidak cukup hanya menjadi ilmuwan yang sekadar menguasai teori, tetapi menjadi cendekiawan yang tidak hanya pintar dan mengamalkan ilmunya, tapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi lingkungannya. Pesan ini disampaikan Nasaruddin saat memberikan sambutan dalam acara pelantikan pengurus Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) di GPIB Paulus Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (30/05/2026) malam (www.tribunnews.com, Minggu 31 Mei 2026) (1).

Sebagai fenomena sosial, istilah post-truth menggambarkan fakta saat ini bahwa banyak orang mengikuti prasangka, emosi atau opini yang populer. Namun Al-Quran sejak awal telah memperingatkan bahaya sikap semacam itu dalam ayat-Nya :
“Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak mengikuti kecuali hanya prasangka saja” (Terjemah Al-Qur’an Surat Al-An'am [6]: 116).
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa berita, maka telitilah terlebih dulu” (Terjemah Al-Qur’an surat Al-Hujurat [49]: 6)
Karenanya solusi Islam atas fenomena post-truth bukan hanya meningkatkan keterampilan komunikasi, tetapi juga membangun masyarakat yang menjadikan wahyu sebagai standar kebenaran.

Kaum Muslim wajib meyakini bahwa hanya Al-Quran satu-satunya standar kebenaran. Karena Al-Quran bukan hanya berisi nasihat moral dan tuntunan ritual, tapi Ia adalah wahyu Allah SWT yang diturunkan untuk menjadi petunjuk hidup manusia. Ini merujuk pada firman Allah :
“Inilah kitab (Al-Quran) yang tidak ada keraguan di dalamnya, merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa” (Terjemah Al-Qur’an Surat Al-Baqarah : 2).
Al-Qur’an juga tidak perlu diragukan lagi keasliannya, orisinal dari Allah SWT. Ini mengacu pada firman-Nya :
“Sesungguhnya Kamilah Yang menurunkan al-Quran dan sesungguhnya Kami pun benar-benar menjadi Penjaganya” (Terjemah Al-Qur’an surat al-Hijr : 9).

Al-Quran juga merupakan solusi bagi segala macam problem kehidupan manusia dan berpaling darinya adalah penyebab kesengsaraan dan kesempitan hidup seperti saat ini. Ini mengacu pada firman-Nya :
“Kami telah menurunkan al-Kitab (al-Quran) kepada kamu untuk menjelaskan segala sesuatu” (Terjemah Al-Qur’an surat an-Nahl : 89).
“Siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Sebaliknya, siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (Al-Quran) maka sungguh bagi dia kehidupan yang sempit” (Terejemah Al-Quran surat Thaha : 123-124).
Sayangnya Al-Quran kini hanya sebatas bacaan, bukan sebagai panduan hidup lagi, karena umat Islam kini hidup dalam system sekuler kapitalistik yang memisahkan Al-Quran dari kehidupan dan negara.

Aktivitas dakwah adalah kewajiban bagi setiap individu muslim. Ini mengacu pada hadis Nabi dan ayat Al-Quran :
“Sampaikanlah walau hanya satu ayat” (Hadis Riwayat Bukhari).
“Hendaklah ada segolongan umat yang menyerukan kebajikan (Islam) dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Merekalah kaum yang beruntung” (Terjemah Al-Quran surat Ali Imran : 104).
“Siapa saja di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah (kemungkaran itu) dengan tangannya. Jika tidak mampu maka (ubahlah kemungkaran itu) dengan lisannya..” (Hadis Riwayat Muslim).
Tapi dakwah yang dilakukan individu saja tidak cukup. Harus ditopang oleh pelaku dakwah lain yang lebih efektif yaitu pihak negara, yaitu dengan menerapkan system Islam dan mencampakkan jauh-jauh system sekuler kapitalistik yang menjauhkan Islam dari umatnya seperti saat ini. Karena jika tidak ada upaya dakwah untuk mengubah menjadi system Islam, maka dakwah yang dilakukan akan sia-sia. Ibarat mencuci piring, jika air yang dipakai mencuci adalah air comberan, mana akan bisa bersih? Selamanya piring akan kotor.

Karena itu Rasulullah tidak hanya berdakwah membina individu-individu di Makkah, tapi Beliau juga berjuang menegakkan Negara Islam di Madinah sehingga syariah Islam dapat diterapkan secara sempurna. Karenanya sampai Allah memerintahkan Beliau dan para sahabat untuk hijrah ke Madinah demi mewujudkan kekuasaan yang mampu menolong Islam dan umatnya dengan menegakkan Daulah Islam di Madinah. Karenanya para ulama mewajibkan kaum Muslim untuk membangun kekuasaan Islam atau sistem pemerintahan Islam (Negara Islam). Hal ini semata-mata demi meneladani apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. Karena faktanya tanpa kekuasaan Islam, al-Quran tidak akan bisa diterapkan secara sempurna, padahal ini adalah konsekuensi iman dari seorang muslim. Karena itulah Imam al-Ghazali menyatakan:
Agama adalah fondasi dan kekuasaan adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki fondasi akan runtuh dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan rubuh (Al-Ghazali, Al-Iqtishaad fii al-I’tiqaad, 1/76).

Karenanya, hanya dengan berIslam secara kafah (sempurna) dengan Kembali menjadikan Al-Quran sebagai solusi hidup, umat Islam dan manusia secara umum akan terbebas dari belenggu penderitaan dan kezaliman. Seperti pesan Rasulullah saw :
“Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara, kalian tidak akan pernah tersesat selama-lamanya jika kalian berpegang teguh pada keduanya: Kitabullah (al-Quran) dan Sunnah Nabi-Nya (al-Hadis)” (Hadis Riwayat Malik). 

Wallahualam Bisawab

Catatan Kaki :
(1) https://www.tribunnews.com/nasional/7836021/menag-nasaruddin-umar-di-era-post-truth-merujuk-kitab-suci-saja-tak-lagi-cukup.