-->

Akhlak Seseorang Tergantung Circle Pertemanannya, Iyakah?

Oleh : Syifa Islamiati 

Bestie, pernah dengar istilah circle tidak? pasti kata 'circle' sudah tidak asing lagi di telinga. Istilah ini sering digunakan dalam persahabatan atau pertemanan. Circle biasanya memiliki jumlah yang terbatas. Di dalamnya, biasanya terdiri atas orang-orang yang memiliki kesamaan, misal hobi, profesi atau minat yang sama.

Memilih circle tentu tidak boleh asal-asalan. Bahaya jadinya jika salah memilih circle. Dampaknya akan terlihat dari perilaku yang sering dilakukan. Maka ada baiknya teliti dahulu kebiasaan yang dilakukan orang-orang yang ada dalam circle tersebut.

Karena jika sudah masuk dalam sebuah circle, sadar atau tidak, pasti perilakunya akan setipe. Bahkan teman dalam circle itu bisa mengubah pribadi seseorang menjadi sosok yang lain. Misal, awalnya seseorang ramah terhadap semua orang, tapi ketika masuk dalam circle yang salah tiba-tiba menjadi sosok yang bad attitude.

Selain itu, kebiasaan dan perilaku teman dalam satu circle dapat mempengaruhi pola pikir dan pola sikap. Itulah pentingnya memilih circle atau kelompok teman yang vibes-nya positif, misalnya yang senantiasa mengajak pada kebaikan dan saling mengingatkan dalam ketakwaan.

Rasulullah saw bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin memberimu minyak wangi, atau engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau mendapat bau harum darinya. Sedangkan pandai besi bisa membakar pakaianmu atau engkau mendapatkan bau tidak sedap darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah saw bersabda, yang artinya: “Seseorang itu mengikuti agama (kebiasaan/jalan hidup) temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang menjadi temannya.” (HR. Abu Dawud dan Al-Tirmidhi)

Memilih circle yang senantiasa mengajak untuk taat kepada hukum syara' bisa dibilang sulit dalam sistem hari ini. Kebanyakan, circle yang ada hari ini hanya melihat pada manfaat materi. Selain itu, isi pembicaraannya tidak jauh dari ghibah.

Hal itu disebabkan karena sistem yang dipakai hari ini tidak mampu mengedukasi apa-apa yang diperbolehkan dan tidak ketika berkumpul bersama dalam satu circle. Semua hal dibebaskan selama tidak mengganggu yang lain. 

Maka berhati-hati dalam memilih circle itu merupakan sebuah keharusan, terlebih di sistem hari ini. Circle yang baik mesti bisa membuat diri juga menjadi baik. Misal jika seorang teman hampir tergelincir ke dalam kemaksiatan, teman yang lain akan hadir untuk mengingatkan. Itulah pentingnya circle yang shalih, saling mengingatkan satu sama lain, tujuannya tentu demi mencapai rida Allah Swt.

Di tengah kehidupan yang serba bebas dalam sistem kapitalisme saat ini, semoga Allah Swt. memudahkan kita bertemu dengan circle yang shalih, yang senantiasa mengingatkan dalam kebaikan dan menguatkan dalam ketaatan. Semoga persahabatan yang terjalin bukan sekadar karena kepentingan duniawi tetapi karena iman dan takwa. Persahabatan yang tidak hanya terjalin di dunia tetapi nanti hingga di akhirat kelak. Aamiin.

Wallahua'lam bisshawab