Ketenagakerjaan dalam Genggaman Kapitalisme, Mampukah Mensejahterakan Para Pekerja?
Oleh : Ummu Afifah (Aktivis Dakwah Islam)
Presiden Prabowo Subianto mengatakan akan memperjuangkan keberadaan tempat penitipan anak atau daycare untuk buruh yang bekerja dalam waktu secepatnya, sebagai bagian dari langkah pemerintah untuk mendukung kesejahteraan buruh. (Antaranews.com, 1 Mei 2026)
Pernyataan ini disampaikan Presiden Prabowo saat menghadiri Peringatan Hari Buruh Internasional di Monumen Nasional (Monas), Jakarta.
Presiden menanggapi usulan para ketua serikat buruh terkait beragam isu yang terus didorong untuk memastikan kesejahteraan buruh Indonesia terus terjamin.
Menyoroti persoalan ketenagakerjaan seolah ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Sampai Usulan RUU disahkan tahun depan oleh Negara.
Meskipun RUU ketenagakerjaan yang bertujuan untuk kebaikan, namun tidak sampai mengenai sasaran untuk mensejahteraan para pekerja.
Disinilah pangkal persoalannya karena RUU sesempurna apapun pada akhirnya RUU itu sendiri merupakan pesanan dari pemilik modal/pengusaha, yang katanya untuk kesejahteraan para pekerja.
Itu Bulsit karena pembuat usulan UU adalah perusahaan yang mencari keuntungan.
Sedangkan negara yang berperan sebagai perantara/regulator dalam menetapkan RUU menjadi UU tidak sedikitpun berpihak kepada pekerja.
Negara berlepas tangan atas kesejahteraan para pekerja dengan memberikan syarat agar setiap perusahaan memberikan layanan kesehatan, pendidikan dan jaminan lainnya.
Jadi sangat wajar jika perusahaan mencari keuntungan dengan memberikan upah minimum karena beratnya beban yang mereka tangung.
Keuntungan yang didapat oleh perusahaan pun memberikan beban berat bagi pekerja.
Gaji minimum yang diberikan tentunya tidak mencukupi kebutuhan hidup saat ini.
Jadi selama aturan yang ditetapkan dalam kehidupan ini adalah Sistem Kapitalis maka tidak ada kata sejahtera bagi pada pejerja.
Kapitalisme terbukti hanya menjamin keuntungan bagi para pemilik modal sedangkan negara yang berperan sebagai regulator mendapatkan Fee dari para pemilik modal.
Negara menjadi perantara antara perusahaan/pemilik modal sebagai produsen sementara para pekerja sebagai konsumen.
Tentulah selamanya pihak yang dirugikan adalah para pekerja.
Negara yang harusnya berperan sebagai Riayah (pengurus) harus betul-betul memberikan perhatian khusus kepada rakyat/pekerja.
Negara harus menciptakan lapangan kerja, memberikan skill serta memberikan upah bagi pekerja hingga mereka dapat hidup layak.
Negara juga harus hadir sebagai pelindung (Junnah) bagi para pekerja, dengan memberikan perlindungan bagi para laki-laki/suami sebagai pencari nafkah dalam pemenuhan kebutuhan pokok.
Negara berperan sebagai memberlakukan aturan yang adil yang bersumber dari Alquran dan Assunnah.
Aturan Islam sangat jelas dan adil
Dalil Hadist (Pemimpin sebagai Pelindung) Salah satu hadist paling masyhur yang menegaskan kewajiban pemimpin/negara untuk melindungi rakyat adalah:
"Imam (pemimpin/kepala negara) adalah pelindung (pengurus) dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinan rakyatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa fungsi utama negara adalah menjadi pelindung (junnah) bagi rakyatnya.
Tujuan Pemerintahan dalam Sistem Islam adalah menekankan tanggung jawab negara untuk menjaga keamanan dan kesejahteraan warga negara.
Negara dalam Sistem Islam wajib mencegah kezaliman dan menegakkan keadilan sosial, yang merupakan bentuk perlindungan terhadap hak-hak rakyat.
Negara dalam Sistem Islam diwajibkan menjaga rakyat dari berbagai ancaman, bencana, bahaya, termasuk upah minimum yang tidak sesuai dengan jam kerja tenaga yang dikeluarkan serta skill yang mereka punya dan juga serangan dari luar maupun dalam.
Negara dalam sistem Islam bertanggung jawab atas kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.
Negara yang menerapkan aturan Islam secara Sempurna sudah pernah berkuasa sejak 14 abad yang lalu dan menguasai 2/3 dunia setelahnya dihancurkan oleh agen Inggris, Mustafa Kemal Attartuk laknatullah alaik.
Begitulah Perintah Allah agar kita berislam Secara Kaffah adalah sebuah keniscayaan agar menjadi hamba yang bertakwa.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَآ فَّةً ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu."
(QS. Al-Baqarah : 208).
Wallahu'alam bishowab

Posting Komentar