KENAIKAN DOLAR TIDAK PENGARUHI PEREKONOMIAN DESA?
Oleh : Evi Derni, S.Pd
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan maksud pernyataan presiden Prabowo Subianto yang menyebut rakyat di desa tidak pakai dolar, pernyataan tersebut di sampaikan untuk menghibur masyarakat saja. Pak presiden tentu sangat memahami kondisi dolar saat ini dan bukan berarti juga pak presiden tidak mengerti rupiah.Menurut Purbaya tidak banyak warga di desa yang akan faham dengan istilah teknis, soal ekonomi dan kenaikan nilai tukar dolar. (Kompas com 18 Mei 2026).
Padahal yang beli dollar adalah negara kemudian importir lalu perusahaan dan semua barang yang masuk ke Indonesia. Artinya negara dalam hal ini Pemerintah membeli dollar kemudian importir butuh dana untuk membayar impor yang dilakukan perusahaan dan semua barang yang masuk ke Indonesia. Jadi rakyat memang tidak memakai dollar. Ada tulisan menarik dari Maman silabani (aktivis dan peneliti) mengatakan bahwa pak presiden itu benar bahwa rakyat desa tidak memakai dollar dalam transaksi sehari-hari, petani beli pupuk dengan rupiah, nelayan membeli solar dengan rupiah, ibu rumah tangga beli beras minyak goreng gula telur mie instan juga dengan rupiah, di pasar tidak ada orang menawar barang dengan dolar Amerika, namun persoalannya bukan itu.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah harga barang yang dibeli rakyat khususnya rakyat desa benar-benar bebas dari pengaruh dolar? jawabannya jelas tidak, mengapa karena dolar Amerika mungkin tidak masuk ke dompetnya rakyat desa tapi bisa masuk ke harga barang yang mereka bayar. Suatu pernyataan yang muncul ketika merespon kekhawatiran publik, secara bahasa hanya untuk menenangkan publik. Tetapi persoalannya bukan situasi itu justru memang tugas pemimpin tidak hanya menjaga kepercayaan tetapi harus tepat. Jika dalam rangka membaca konteks ekonomi rakyat itu terlalu sederhana karena rakyat kecil tidak perlu memegang dolar untuk merasakan dampak dollar. Mereka cukup membeli barang yang harganya dipengaruhi oleh bahan baku impor, energi, logistik pupuk, obat-obatan salah satunya yang sekarang ramai adalah masalah plastik di mana kemudian sekarang banyak orang mengatakan plastik mahal, belinya tetap saja pakai rupiah. Ketika harga pupuk naik petani misalnya nelayan tidak membaca solar itu naik atau tidak tapi ketika solar oil mesin tempel jaring dan seterusnya itu menjadi lebih mahal, pedagang kecil mungkin tidak pernah menukar uangnya tetapi kalau mereka mengetahui harga barang dari distribusial berubah mereka pasti tahu, ibu rumah tangga mengatakan semua pasti naik, tidak ada di antara mereka yang mengenal depresiasi rupiah, tidak perlu bahan-bahan yang penting naik atau tidak di situlah masalahnya. Kalau rupiah terus melemah harga ikut merangkak naik, rakyat desa tetap membayar akibatnya secara analisis mikronya ironi pernyataan presiden telah menyakiti hati rakyat. Masalahnya bukan pada mereka memegang dolar atau tidak memegang dolar tetapi terkena harganya itu poin utamanya. Kondisi rupiah yang semakin terpuruk bukan hanya karena perang tapi karena kepercayaan terhadap kinerja pemerintah itu yang penting. Sebab, sebelum perang ini sudah terjadi, namun kondisi perang menjadi kambing hitam.
Sistem ekonomi kapitalis akan senantiasa membawa krisis yang siklik, siklik itu berulang karena kerapuhan asas dan pondasinya. Poin pentingnya tentu saja adalah karena adanya riba kemudian dari sisi moneternya (mata uang yang lemah dan fiskalnya). Tentu saja juga terkait dengan masalah pajak yang semakin memberatkan. Maka dari itu urgensi sistem ekonomi Islam yang menggantikan sistem ekonomi kapitalis sebagaimana urgensi Islam menggantikan kapitalisme itu sendiri sebagai ideologi. Dengan kembali kepada mata uang Dinar dan dirham yang paling pokok langkah strategisnya adalah pertama menjadikan emas sebagai alat tukar. Alat tukar dalam konteks moneter. Mengembalikan emas dan perak dalam konteks syar'i sebagai bagian dari ketaatan Syariah. Kemudian yang kedua dollar dilawan dengan emas, sebenarnya hari ini sedang terjadi. Dinar dan dirham memiliki keunggulan yaitu satu: Dinar dan dirham memiliki unsur keadilan dibanding dengan uang kertas pasalnya Dinar dan dirham memiliki basis yang riil berupa emas dan perak Dinar dan dirham jelas adil Karena antara angka yang tertera dan nilai intrinsiknya adalah sama kedua Dinar dan dirham lebih stabil dan terhadap inflasi. Dinar dan dirham juga memiliki aspek penerimaan yang tinggi termasuk dalam penukaran antar mata uang atau dalam perdagangan nasional pasalnya Dinar dan dirham tidak memerlukan perlindungan nilai karena nilai nominalnya benar-benar dijamin penuh oleh emas dan perak. maka dari itu sejatinya seorang muslim terkait dengan syariat Islam sebagaimana telah Allah subhanahu wa ta'ala perintahkan termasuk dalam menggunakan mata uang dinar dan dirham sebagai alat transaksi penggunaan mata uang Dinar dan dirham sangat jelas basis dan syariahnya dan fakta keunggulannya. Hanya saja penggunaan Dinar dan dirham sebagai mata uang tentu memerlukan legalitas negara sebagai institusi yang kuat dan berdaulat, tidak mungkin semuanya bisa dilaksanakan dengan sempurna kecuali dengan adanya negara yang berani untuk melawan hegemoni kapitalisme global. Negara itu juga harus berani berhadapan dengan negara-negara yang besar yang saat ini mendominasi dunia semua itu tentu bisa diwujudkan oleh institusi daulah yang pernah dicontohkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan dilanjutkan oleh para sahabat dengan sebutan khilafah islamiyah.
Allahu a’lam bishawab.

Posting Komentar