GAZA, Mata Seluruh Dunia Boleh Tertutup, Tapi Hati dan Pikiran Jangan
Oleh : Evi Derni, S.Pd
Suatu momen yang masih terngiang di kepala aktivis Global SUMUT Frotila As'ad Aras ketika ditangkap Israel adalah dipaksa meminum sesuatu dengan mata ditutup. Saat itu dia tertegun dan khawatir apakah air yang dipaksa masuk mulutnya itu adalah racun dan sejenisnya. Namun dia mengingat sop relawan dalam keadaan terdesak dan mata tertutup agar jangan sampai menelan apapun yang diberikan oleh Israel ke mulut mereka. Saat penahanan di atas kapal mereka diberikan satu botol air untuk beberapa orang dan roti yang dinilai tidak layak makan karena sangat keras. Saat memejamkan mata mereka selalu diganggu oleh aparat Israel dengan membuat bunyi-bunyi keras, pukulan tumpukan kontainer. Begitu juga dengan menyalakan lampu sorot yang langsung ke arah wajah mereka. (kompas com 29 Mei 2026).
Ada juga aktivis Global Sumut flutilla dari Italia mengalami kekerasan selama 48 jam diperlakukan secara buruk baik siksaan fisik maupun siksaan psikis. Ada juga seorang wanita yang 2 sampai 3 jam di bawah sinar matahari dengan kepala di atas beton dipaksa bersujud sambil mendengarkan lagu kebangsaan Israel dengan senjata di arahkan. Ada pula yang mengalami patah tulang, ada yang dipukul bahkan salah satu kasusnya ketika dipanggilkan dokter justru dilecehkan secara seksual.
Setelah diculik dari wilayah internasional di Mediterania, mereka dibawa ke kapal Israel kemudian mereka dipaksa bersujud 2 sampai 3 jam. Dalam keadaan seperti itu mereka di bawah todongan senjata dipaksa untuk mendengarkan lagu kebangsaan Israel, bahkan kemudian muncul menteri keamanan yang mengejek para korban penculikan. Salah satu polisi Yahudi merekam secara khusus sementara dia berdebat, ada yang mengatakan free Palestine. Akhirnya, dia dikecam di Israel sendiri dan di luar negeri, termasuk Indonesia karena ada 9 warga Indonesia dari 400 yang akhirnya dideportase.
Sementara aktivis dari Indonesia sudah tiba di Indonesia hari Ahad. Mereka diterbangkan dari Istanbul Turki, diantaranya jurnalis dari Tempo. Mereka mengirimkan video-video terakhir yang menjadi pesan darurat yang dipublikasikan bila tentara zionis menangkap dan memutus komunikasi. Aksi kemanusiaan tentu bukan aksi bersenjata.Fakta ini harusnya menjadi tamparan keras bagi para penguasa muslim kalau hanya sekedar memulangkan tentu prosedur resmi, namun ini menggambarkan sikap pengecut dan penghianat kepada kaum muslimin dengan membiarkan penjajahan entitas Yahudi, genosida dan kelaparan yang terjadi di gaza.
Harus disadari dan dipahami bahwa akar masalah Palestina adalah penjajahan entitas Yahudi yang didukung Amerika. Maka solusinya bukan konsep dua negara solusi yang sifatnya syar'i dan tuntas konferensif yaitu jihad dan khilafah karena penjajah harus diusir dengan mengirimkan tentara ke Palestina. Itulah yang tidak dilakukan penguasa-penguasa muslim, seharusnya mereka mencontoh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika mengalahkan kaum Yahudi, puncaknya khaibar. aAau pun saat Khalifah Umar bin Khattab membebaskan Palestina dari penjajahan Romawi tahun 637. Atau saat Salahuddin Al Ayyubi membebaskan Palestina dari tentara salib tahun 1187. Atau bagaimana Sultan Abdul Hamid mempertahankan Palestina dari rongrongan Yahudi tahun 1897.
Wallahu a’lam bishawab.

Posting Komentar