Duta Genre dan Tantangan Generasi di Tengah Arus Liberalisme
Oleh : Isna
Pemerintah Kabupaten Gresik kembali menunjukkan pola rutin dalam membina generasi muda melalui ajang pemilihan Duta Generasi Berencana (Genre) 2026. Pemkab Gresik berharap para duta ini mampu menjadi agen perubahan yang membawa pesan positif bagi rekan sebaya demi mewujudkan generasi yang bebas dari masalah sosial (Radar Gresik, 11/05/26). Meski dirancang sebagai upaya strategis untuk mencetak pemuda yang terencana, efektivitas panggung kompetisi ini patut diuji dalam membentengi pemuda dari tatanan hidup yang kian rapuh.
Secara prosedural, program ini tampak ideal dengan fokus menekan tiga ancaman utama remaja: pernikahan dini, seks bebas, dan Napza. Namun, jika ditelaah lebih dalam, apakah pendekatan berbasis duta ini mampu menyentuh akar persoalan pemuda yang kian kompleks di era digital?
Pemuda saat ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh gaya hidup liberal yang memuja kebebasan. Fenomena pergaulan bebas dan degradasi moral bukanlah sekadar akibat dari kurangnya edukasi individu, melainkan buah dari sistem sosial yang cenderung permisif. Paham sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan publik membuat standar moral menjadi relatif dan fleksibel.
Alih-alih menjadi solusi, program Duta Genre justru terjebak dalam ironi. Para duta dipersiapkan sebagai "pemadam kebakaran", namun mereka dibiarkan bekerja di dalam sistem yang justru terus menyiramkan bensin melalui konten media sosial yang merusak dan lingkungan yang abai terhadap akidah.
Upaya Pemkab Gresik yang digadang-gadang sebagai langkah preventif, pada kenyataannya berisiko menjadi rutinitas seremonial tahunan yang gagal memberikan dampak nyata. Kritik ini muncul bukan tanpa alasan; pemilihan duta sering kali terjebak pada euforia panggung, seleksi penampilan fisik, dan kecakapan retorika semata. Sementara itu, angka kenakalan remaja, pergaulan bebas, hingga paparan konten negatif yang merusak dari akar hingga daunnya, tidak menunjukkan penurunan yang signifikan.
Kegagalan ini berakar pada pendekatan yang terlalu fokus pada personifikasi solusi tanpa memperbaiki ekosistem sosialnya. Selama akses terhadap konten liberal tetap terbuka lebar dan pengawasan lingkungan melemah, edukasi dari para duta hanya akan menjadi suara sayup-sayup yang tenggelam di tengah bisingnya arus budaya bebas. Tanpa kebijakan pemerintah yang tegas untuk menutup celah kerusakan moral dan menguatkan nilai spiritual, program ini hanya akan menjadi pemborosan anggaran demi citra administratif.
Problematika pemuda tidak akan pernah tuntas selama landasan yang digunakan masih standar liberalisme. Esensi pembangunan pemuda terletak pada sistem yang menjamin kehormatan mereka, bukan sekadar instruksi manajerial di dalam tatanan yang merusak. Kualitas generasi tidak lahir dari panggung kompetisi belaka, melainkan melalui implementasi aturan islam yang menyeluruh sebagai junnah terhadap pengaruh budaya asing yang destruktif.
Sejarah mencatat bahwa masa Daulah Islam berhasil mencetak generasi emas tanpa perlu ajang duta tahunan. Hal ini dikarenakan sistem yang ada mendukung pemuda untuk bertaqwa dan berprestasi. Seperti halnya, Usamah bin Zaid yang memimpin pasukan perang di usia 18 tahun. Mereka bukan hasil dari polesan citra, melainkan buah dari sistem pendidikan dan politik Islam yang menempatkan pemuda pada tanggung jawab strategis yang nyata.
Pada masa tersebut, negara berperan aktif sebagai pelindung moral. Tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan sains, sehingga energi pemuda tersalurkan untuk penemuan ilmiah dan dakwah, bukan terjebak dalam pusaran gaya hidup hedonistik.
Segala daya upaya ini pada akhirnya akan kembali pada tanggung jawab individu di hadapan Sang Khaliq. Masa muda adalah fase emas yang akan ditagih pertanggungjawabannya secara khusus, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat hingga ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan, serta tentang ilmunya apa yang diamalkan dengannya." (HR. Tirmidzi)
Gresik membutuhkan lebih dari sekedar seremoni, ia membutuhkan solusi sistemik berbasis akidah. Solusi pragmatis yang selama ini dijalankan terbukti lemah dalam menyelesaikan akar masalah sosial. Maka, diperlukan penguatan fondasi akidah serta perbaikan sistem secara menyeluruh. Visi mewujudkan generasi berkualitas hanya akan terealisasi jika landasan agama dijadikan kompas utama.
Wallahu a'lam bishawab

Posting Komentar