Al Aqsa Bukan Hanya Tanggung Jawab Muslim Palestina
Oleh : Rini Mumtazs
Entitas zionis terus perangi Gaza tak peduli gencatan senjata. Ribuan pemukiman di Tepi Barat terus diperluas demi merampas tanah Palestina hingga 70℅. Pengibaran bendera Israel di Masjid Al Aqsa, menjadi simbol penguasaan entitas zionis mengalahkan umat Islam.
Demi mewujudkan ambisi membangun Israel Raya, entitas zionis terus melancarkan serangan untuk menghancurkan Gaza, memperluas pemukiman di Tepi Barat dan melakukan genosida. Apa yang dilakukan entitas zionis adalah kebiadaban, kekejaman, kejahatan kemanusiaan, dan kerusakan terbesar di muka bumi.
AS sekutu setia Israel dan yang melabeli dirinya sebagai polisi dunia, nyatanya menyokong penuh terwujudnya ambisi Israel Raya, bahkan mengajak penguasa negeri2 muslim bersekongkol mendukung solusi dua negara.
Penderitaan Palestina tak kunjung selesai, bahkan karena pengkhianatan penguasa muslim dan tidak adanya persatuan umat Islam.
Sejarah Mencatat Palestina Bukan Israel
Merujuk pada Al Kitab (Holy Bible) Terjemah Baru – New International Version menjelaskan bahwa, secara Geografis wilayah yang saat ini di claim sebagai Israel sejatinya merupakan wilayah Palestina. Tertulis jelas dalam Bible sejak tahun 1200 – 1030 sm (sebelum masehi) ialah Palestina bukan Israel.
Sementara sejarah pun mencatat Israel, mendeklarasikan diri sebagai sebuah negara pada tanggal 14 May 1948. Artinya, yang terjadi saat ini di Palestina merupakan sebuah pendudukan / penjajahan. Terlebih fakta menunjukan, yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina adalah sebuah Genocide yang di lakukan secara terang – terangan dan terbuka.
Mungkinkah Damai Dengan Solusi Dua Negara ??
Tahun 1917 dengan bantuan dari Inggris pasca perang dunia 1 melalui perjanjian Sykes Picot, Israel mulai memasuki wilayah Palestina dengan pembagian wilayah 6% Israel, 94 % Palestina. Kemudian menjadi 55 % Israel dan 45 % Palestina pada tahun 1947, menjadi 78 % Israel dan 22 % Palestina pada tahun 1967, dan berakhir dengan 85 % Israel dan 15 % Palestina pada tahun 2023.
Lantas apa yang menjadikan dunia yakin, bahwa Two State Solution akan menciptakan perdamaian, jika dari awal yang terjadi adalah pencaplokan wilayah alias penjajahan ??
Al Aqsa Bukan Hanya Tanggung Jawab Palestina
Merujuk pada Al Quran dan As Sunah sejatinya telah menuntun umat islam akan solusi syar’I solusi atas genocide terhadap Gaza yaitu Jihad Fii Sabilillaah. Yang merupakan ajaran islam untuk memerangi kaum kafir dalam menegakan agama Allaah SWT.
Ketika saudara – saudara kita di perangi baik muslim maupun non muslim maka wajib bagi kita untuk membela dan menolong mereka.
Allaah SWT berfirman :
“Perangilah mereka dimana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian” (TQS. Al Baqarah – 191)
Maka sepantasnya lah para penguasa negeri – negeri muslim di seluruh dunia mengirimkan tentara mereka untuk berjihad bersama para mujahidin Palestina guna mengusir kaum penjajah Israel dari wilayah Palestina.
Terlebih yang dihadapi rakyat palestina saat ini bukan hanya sekedar entitas zionis yang menjajah , melainkan juga Amerika, dan negara – negara sekutunya yang mendukung penjajahan ini. Inilah kekuatan politik global yang siap menggerakan kekuatan militer mereka.
Maka sesungguhnya persoalan Palestina menjadi tanggung jawab para pemimpin negeri – negeri muslim di seluruh dunia, yang memiliki kekuasaan untuk menggerakan kekuatan pasukan militer mereka untuk menolong dan membebaskan Palestina dari penjajahan.
Dengan begitu, akar krisis persoalan Palestina akan dapat di tuntaskan. Sebab, yang menjadi akar persoalan ialah keberadaan entitas zionis ini, sehingga bantuan kemanusiaan bukanlah solusi tuntas untuk persoalan palestina. Bantuan kemanusiaan benar di butuhkan, akan tetapi hanya dengan mengusir penjajah lah maka perdamaian akan dapat tercipta, sehingga tidak meninggalkan celah untuk terjadinya kejahatan lain yang bisa saja terjadi di kemudian hari.
Sementara Two State Solution, merupakan istilah lain dari pengakuan akan eksistensi zionis Israel, seolah mereka merupakan sebuah negara yang legal. Oleh karena itu, persoalan ini hanya mampu di selesaikan dengan jihad fii sabilillaah.
Kaum muslimin dengan potensi yang dimilikinya saat ini, sangat mampu melawan zionis dengan jihad fii sabilillaah. Bahkan akan memenangkan peperangan hanya dalam waktu satu jam saja. Apa yang terjadi di palestina saat ini menyadarkan kita bahwa umat muslim seharusnya bersatu, harusnya memiliki pelindung dan pemimpin yang satu, berjuang dalam satu komando. Adapun sekat – sekat nasionalisme telah menjadikan umat ini lemah dan tercerai berai.
Mengharapkan pertolongan PBB dan negeri – negeri kafir barat adalah ilusi dan mustahil. Pasalnya, mereka adalah bagian dari lahirnya zionis Israel ini. Karena itu, umat memang mebutuhkan Khalifah (pemimpin kaum muslim seluruh dunia).
Rasulullaah SAW bersabda :
“Imam (Khalifah) adalah perisai, di belakang dia kaum muslim berperang dan berlindung” (HR. Al Bukhari Muslim)
Khalifah lah yang akan menyerukan sekaligus memimpin pasukan kaum muslim di seluruh dunia untuk membebaskan tanah palestina dan menyelamatkan kaum muslim dimana saja. Khilafah akan menghentikan kolonialisasi, dominasi, dan hegemoni barat dengan tata dunia saat ini.
Khilafah akan membentuk konstelasi international baru juga tata dunia baru yang adil dan makmur atas landasan islam. Inilah yang seharusnya menjadi tuntutan kaum muslimin dalam menyolusi persoalan palestina.
Wallahu’alambishawab

Posting Komentar